RSS Feed

Sebuah Kisah “Asal-usul Sebuah Kehidupan” (part 1)

penjelasan teori big bang

penjelasan teori big bang

 

Bismillahirrohmanirrohim…

Pada dahulu kala, dimasa awal kehidupan bermula, masa dimana menurut Edwin Powell Hubble (1953) pencetus teori Big Bang[1], alam semesta beserta segala isinya masih menjadi sejenis “jeli” dengan kepadatan segala jenis partikel pendukung kehidupan yang luar biasa, disebuah momentum yang Allah tinggal bersabda “kun fayakun” maka roda kehidupan pun berputar.

Kisah ini bermula saat Allah, Tuhan Sekabehe ‘Alam akan menciptakan sebuah drama yang Maha Luar Biasa. Namun jangan berfikir jauh siapa yang menciptakan Allah? sebab Allah Qidam, Baqa’ wa Qiyamuhu binafsihi. Maha Awal sekaligus Maha Akhir.

Konon menurut tafsir Alquran salaf yang ada, Allah menciptakan makhluk pertama kali ialah malaikat, yang berbahan baku dari cahaya, namun tidak dijelaskan secara gamblang ditafsir manapun kapan penciptaan itu terjadi.

Di lain masa, Allah kembali menciptakan makhluk baru, makhluk ini diciptakansedemikian besar dan berlapis lapis dengan proses pembakaran tiga ribu tahun lamanya, menurut waktu Tuhan (karena waktu manusia belum tercipta). Seribu tahun pertama makhluk ini mulai dibakar sampai putih terang benderang, jika dianalogikan putih makhluk tersebut layaknya lampu neon didalam terop sebuah pernikahan, lalu seribu tahun yang kedua Allah membakarnya lagi hingga berubah warna menjadi merah menyala, layaknya bendera PDI Perjuangan.Di seribu tahun yang ketiga Allah membakarnya lagi hingga berubah menjadi hitam legam. Setelah pembakaran selesai, Allah menghiasi makhluk tersebut dengan beraneka ragam hiasan yang angker dan menakutkan.ketika proses penciptaan makhluk tersebut dengan segala macam fasilitasnya telah selesai, Allah akhirnya memberinya nama Neraka.

Neraka tersebut luar biasa angker, luar biasa luasnya hingga triliuanan kilometer. Didalam neraka telah disiapkan oleh Allah berbagai macam hiburan yang mengerikan, berbagai penyiksaan yang bahkan tak mampu untuk dibayangkan oleh bayangan kita tentang kepedihannya.

Suatu ketika Allah memanggil para malaikat, Tuhan bersabda;

“wahai malaikatKu”

Dalem Gusti”

“Hai malaikat, seperti yang kalian tahu, Aku telah menciptakan makhluk bernama neraka, siapa gerangan makhlukKu yang mau tinggal didalamnya? Jika kalian para malaikat mau, silahkan!”

Para malaikat melihat-lihat neraka dengan segala fasilitas “angker” yang ditawarkan oleh Tuhannya, kemudian malaikat serempak berkata;

“Duh Gusti Allah, siapa gerangan yang mau tinggal di neraka Gusti… Pasti sampai kapanpun neraka akan kosong melompong tak berpenghuni.”

“Oh begitu ya malaikat?”

Nggeh Gusti, percayalah! tiada satupun dari makhlukMu yang mau tinggal disana.”

Tuhan kemudian bersabda lagi ke malaikat.

“Wahai malaikat, tahukah kalian jalan menuju ke nerakaKu?”

Mboten Gusti, Bagaimana jalan menuju neraka?”

Allah akhirnya mengajak malaikat ke bioskopArsy– Nya, menonton film “kedadean” jalan menuju ke neraka. Di dalam film tersebut, digambarkan beraneka ragam kesenangan kesenangan, mulai dari pelacuran, pemerkosaan, minum minuman keras, berjudi, maling, berbohong, iri, main serong, senang dengan istri orang, korupsi, membunuh, dan segala aktifitas yang sangat menyenangkan fikiran.

Setelah film kedadeantersebut selesai diputar, para malaikat berkata;

“Duh Gusti Allah… jika jalan menuju nerakaMu seperti itu, layaknya jalan menurun dipegunungan, maka dapat dipastikan neraka yang luasnya Masya Allah itu kelak akan penuh sesak oleh makhlukMu”

“malaikat, malaikat… Mengapa kalian tidak konsisten dengan ucapan kalian?”

Di lain waktu, Allah menciptakan makhluk lagi. Makhluk ini berlapis lapis dan luar biasa luasnya hingga beratus triliunan kilometer, didalamnya Allah melengkapi dengan fasilitas yang luar biasa menawannya, hingga kata indah sendiri tak mampu mewakili keindahan yang sesungguhnya dari wujud makhluk tersebut. Tuhan memberinya nama Surga.

Allah menawarkan kembali kepada para malaikat, dengan mengajukan pertanyaan serupa, kira kira siapakah dari makhlukNya yang mau menempati surga? Jika para malaikat mau menjadi calon penghuni surga, silahkan!

Kemudian malaikat berkata: “Duh Gusti Allah, makhluk yang Engkau ciptakan ini sungguh luar biasa indahnya, pasti siapapun makhlukMu nanti akan berebutan untuk bisa masuk ke surgaMu, tiada satupun yang tidak kepincut dengan keindahan surgaMu, lihat saja Gusti”

“benarkah? Namun apakah kalian tahu jalan menuju surgaKu wahai malaikat?”

Nggeh mboten Gusti…”

Sekali lagi, para malaikat masuk ke bioskop Arsy-Nya, menonton film kedadean yang menceritakan tentang jalan menuju surga. Didalam film tersebut terlihat berbagai macam hal yang megelno, bagaimana tidak? Hal hal seperti minum minuman keras tidak boleh, main gaplek tidak boleh, pakai narkoba tidak boleh, judi tidak boleh, main perempuan tidak boleh, suka dengan istri tetangga tidak boleh, nggosip tidak boleh. Enak enak tidur malam dibangunkan untuk sholat subuh, enak enak punya banyak uang bukannya disimpan, malah harus disedekahkan, enak enak punya makanan lezat harus dibagikan kepada tetangga sekedar incip, enak enak punya uang untuk bersenang senang harus di berikan ke fakir miskin, anak yatim dan lain lain.

Lalu malaikat pun berkata: “Ngampunten Gusti, jika jalan menuju surgaMu seperti ini, menanjak terjal serta sulit didaki, pasti keyakinan kami tiada satupun dari makhlukMu nanti yang mau menempati surga, pasti Gusti…”

Dan begitulah kejadian setelah surga dan neraka tercipta. Di dalam Alquran, ternyata Allah telah mencoba merayu malaikat agar mau menempati surga.

Inna arodhna ilaa samaawaats… (samaawats bermakna malaikat-malaikat)

Namun malaikat tetap tidak mau,

Fabi ayy an ahmilnaa…

sebab mereka tahu jika suatu saat nanti mereka konslet di surga, pasti Allah akan menempatkan mereka dineraka.

“Kami rela tidak masuk di surga, Gusti. Dari pada suatu saat nanti kami hang dan harus ke neraka?” begitulah alasan malaikat kepada Tuhannya.

Allah lalu berkehendak dengan “kehendak-Nya” ketika berdiskusi dengan malaikat.

“berarti malaikat, kalian tidak mau ke surga karena takut masuk neraka?”

“Nggeh Gusti, kami mboten pate’en masuk surga karena kami takut masuk neraka”

“kalau begitu malaikat, harus ada makhluk calon penghuni surga yang tidak takut meskipun masuk neraka” sabda Tuhan. Para malaikat mengangguk tawadu’.

Tuhan bersabda ke malaikat jibril: “Wahai Jibril…”

dalem Gusti…” Jibril menghadap.

“Jibril, tolong ambilkan inti dari keraknya neraka, yang paling panas,sak cawukan saja, untuk Ku-jadikan makhluk baru yang bersedia masuk neraka, yang berarti juga siap menjadi penghuni surga.”

sendiko dawuh Gusti”

Diceritakan dalam tafsirnya, malaikat Jibril pun terjun bebas ke neraka, selurup mulai dari lapis satu sampai lapis ketujuh yang dalamnya berjuta juta kilometer, hingga sampai kekerak neraka yang paling dalam, dengan sekali cawukan dari tangan malaikat Jibril, sudah cukup bagi Allah untuk menciptakan makhluk baru.

Kemudian inti dari neraka ini diserahkan ke hadapan Allah. Inti neraka yang sangat panas dibanting, di emplek-emplek dengan kuasaNya berubah menjadi makhluk baru yang gagah perkasa, Allah memberinya nama Jin.

Lalu pada suatu ketika Allah bersabda; “kun fayakun”, alam semesta pun tercipta. Ledakan super dari satu momentum bernama “big bang” dengan kepadatan muatan yang super luar biasa, ledakan tersebut membentuk roda kehidupan perdana yang setiap waktu semakin meluas. Partikel partikel pendukung kehidupan yang kelak akan mengikat makhluk mulai “hidup”, mereka ialah ruang – waktu – masa – energi – dimensi seiring berganti mematangkan diri menerima perintah Ilahi (sunnatulloh) untuk mengabdi hingga batas yang telah ditetapkan nanti[2][3].

Ketika semua sarana prasarana mendukung kehidupan dibumi siap dihuni. Jin yang sudah beranjak dewasa ditawari oleh Tuhan untuk menjadi kandidat calon penghuni surga. Tuhan bersabda: “wahai jin, Aku telah menciptakan makhluk bernama surga, namun sampai sekarang surga tiada berpenghuni, malaikat pun menolak untuk menempati, apakah Engkau bersedia tinggal disana?”

“Bodoh sekali malaikat menolak tawaranmu, duh Gusti… Tentu saja, sak estukulo purun untuk tinggal disurga” jin pongah.

“benarkah? Namun sebelum itu jin, Aku mau mengujimu – sebentar saja, di bumi. Disana Aku ingin tahu apakah kau beserta anak cucumu mau menyembahKu, menuruti segala pintaKu dan menjahui segala laranganKu, bagaimana jin? Apakah engkau bersedia?” sabda Tuhan.

kulo purun, Gusti…” jawab jin.

“Namun ingatlah wahai jin, jikalau engkau lupa akan daratan, Aku akan memasukanmu beserta anak cucumu kedalam neraka yang teramat pedih siksaannya”

“neraka Gusti? Tidak ada masalah, sebab bagiku neraka layaknya kampung halaman, siap Gusti…”

 

Singkat cerita, setelah mengemasi barang-barangnya, Jin mulai turun ke bumi, melewati surga, melewati neraka, melewati lagit langit (samawats) melewati alam semesta, melewati tata surya, dan pada akhirnya sampai di bumi.

[1]Ledakan Dahsyat atau Dentuman Besar (bahasa Inggris: Big Bang) merupakan sebuah peristiwa yang menyebabkan pembentukan alam semesta berdasarkan kajian kosmologi mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta (dikenal juga dengan Teori Ledakan Dahsyat atau Model Ledakan Dahysat).

[2]Menurut Agus Mustofa (pengarang serial buku tassawuf modern) dan dikuatkan oleh pendapat K.H Abdul Ghofur (pengasuh ponpes Sunan Drajad Lamongan). Semesta alam terdiri dari berlapis lapis dimensi atau alam. Arsy Allah ialah dimensi tertinggi (dimensi ke sembilan), yang mempunyai tujuh lapis. Dibawahnya ialah surga (dimensi ke delapan) yang mempunyai tujuh lapis, dibawahnya lagi ialah neraka (dimensi ke tujuh) yang mempunyai tujuh lapis, dibawahnya lagi alam padang makhsyar (dimensi ke enam) yang luasnya dari timur ke barat, alam ini pemisah antara alam hidup dan alam akherat, dibawahnya ialah alam semesta tujuh lapis yang luasnya tak terhitung oleh manusia (versi Kyai Ghofur) atau dimensi ke lima (versi Agus Mustofa), dibawahnya lagi ialah tata surya yang di kelilingi planet planet termasuk bumi (versi Kyai Ghofur) atau dimensi ke empat yaitu alam makhluk halus (versi Agus Mustofa), dan dibawahnya lagi ialah bumi atau dimensi ke tiga menurut Agus Mustofa.

[3]Analogi dari dimensi dimensi tersebut sederhananya seperti manusia dan bayangan. Manusia ialah makhluk tiga dimensi (p x l x t ) sedangkan bayangan manusia ialah makhluk dua dimensi ( p x l ). Maka wujud manusia saat ia masuk ke dua dimensi akan sama persis seperti bayangannya, analogi ini berlaku juga untuk dimensi yang lebih tinggi. Jika kita hadapkan ke peristiwa isra’ mi’raj nya Baginda Nabi Muhammad SAW, tepatlah teori tersebut, sebab didalam perjalanan menuju Arsy Allah, Kanjeng Nabi seolah olah terlepas dari ikatan waktu makhluk hidup dan berada di waktunya Tuhan, Beliau sendiri melampaui berbagai dimensi, kemudian Nabi melihat sendiri seperti apa alam kubur, alam barzakh, alam akherat, neraka, dan surga dengan berbagai macam kejadian disetiap tempatnya, dan pada akhirnya Nabi Muhammad berada di Arsy – bahkan Jibril pun tak kuasa didalamnya, menghadap secara langsung siapa dzat “Allah” Hyang Maha Sebenar-benarnya.

 

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: