RSS Feed

Metodologi Penelitian Tafsir (ativ) : KACA MATA MAUDHU’IY TERHADAP TAFSIR SURAH

Posted on

Gambar

 

KATA PENGANTAR

 

 

Alhamdulillahirabbil’alamin, puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis bisa menyelesaikan tulisan ini dengan tanpa suatu kesulitan yang berarti. Hadirnya tulisan yang ada di tangan para pembaca sekalian tidak lain merupakan pemenuhan tugas makalah penulis dalam mata kuliah Metodologi Penelitian Tafsir.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada bapak Chalil Zuhdi selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian Tafsir dan juga pada teman-teman yang telah membantu atas selesainya tulisan ini.

Penulis juga berharap dengan adanya makalah ini dapat menjadi acuan belajar bagi para pembaca sekalian. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itru kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan demi membantu perbaikan makalah sejenis.

 

 

 

Surabaya, April 2014

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………………………….. i

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………. ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang……………………………………………………………………………. 1
  2. Identifikasi Masalah…………………………………………………………………….. 2
  3. Rumusan Masalah……………………………………………………………………….. 2
  4. Tujuan Penelitian…………………………………………………………………………. 2
  5. Kajian Pustaka……………………………………………………………………………. 3
  6. Outline………………………………………………………………………………………. 5

BAB II METODE TAFSIR MAUDHU’IY

  1. Definisi Metode Tafsir Maudhu’iy………………………………………………… 6
  2. Historisitas Metode Tafsir Maudhu’iy……………………………………………. 9
  3. Urgensi Metode Tafsir Maudhu’iy………………………………………………… 10
  4. Hal-hal yang Harus Diperhatikan Oleh Seorang Penafsir Metode Maudhu’iy 12

BAB III METODE MAUDHU’IY TERHADAP SURAH AL MA’UN

  1.   Cara Kerja Metode Maudhu’iy Terhadap Penafsiran Surah………………. 14
  2.   Tafsir Surah Al Ma’un dengan Pendekatan Metode Maudhu’iy………… 15

BAB IV PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………… 22
  2. Saran…………………………………………………………………………………………. 23

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………….. 24

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang.

Dewasa ini banyak ditemui permasalahan-permasalahan keagamaan. Zaman sudah semakin berkembang, secara otomatis permasalahan sudah semakin kompleks. Sebut saja masalah perdebatan kelompok keagamaan antara Sunni-Syi’ah, sampai sekarang belum didapatkan titik terang, atau bisa diambil contoh tentang masalah pemahaman makna kata jihad yang sering disalah artikan oleh sebagian umat Islam. Untuk menyelesaikan beragam masalah dalam umat Islam sudah seharusnya umat Islam menilik kembali nash-nash yang dijelaskan dalam Alquran. Segala permasalahan tersebut muncul karena kurangnya pemahaman terhadap apa yang seharusnya dipahami oleh umat Islam. Sudah seharusnya umat Islam mengamalkan Alquran agar ketika terjadi permasalahan dalam kehidupan sudah tidak ada lagi penyimpangan-penyimpangan.[1]

Di zaman sekarang, dengan masalah yang sangat kompleks, umat Islam merindukan fatwa-fatwa Alquran untuk dapat menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Dengan begitu Alquran dapat teraplikasi ke dalam kehidupan dengan pemahaman yang benar. Dalam hal ini, keberadaan penafsiran yang ada selama ini perlu dipertanyakan kembali. Apakah sudah benar ataukah masih parsial sehingga pemahaman yang didapat terhadap satu masalah juga parsial. Telah banyak kajian tentang koreksi penafsiran dari periode klasik sampai sekarang tetapi dalam aplikasinya masih sangat kurang. Dari sini mulai terlihat perlunya rekonstruksi terhadap metode-metode penafsiran. Metode-metode lama seperti metode ijmali dan tahlili dinilai sudah tidak relevan menjawab tantangn zaman. Metode-metode tersebut tidak bisa menyelesaikan permasalahan sampai tuntas, dibutuhkan sebuah metode penafsiran yang dapat membahas permasalahan sampai tuntas dengan menganalogkan ayat-ayat yang ada dalam Alquran.[2] Urgensi itulah yang kemudian merujuk pada keberadaan metode tafsir tematik yang memang dirancang untuk menyelesaikan masalah sampai tuntas dan dapat menjawab tantang zaman. Oleh karena itulah pengetahuan tentang metode tematik sangat darurat untuk dimengerti umat Islam khusunya para pemikir. Atas urgensi itu pula penulis brusaha untuk menguak selintas tentang metode tematik melalui makalah singkat ini.

1.2    Identifikasi Masalah.

Metode tafsir tematik yang disebut-sebut sebagai metode yang mampu menjawab tantangan zaman memang menarik untuk dikaji. Jika menilimk pada metode-metode tafsir yang lama memang ditemui ketidak relevanan metode tersebut dengan masalah-masalah yang terjadi sekarang. Metode tersebut belum bisa menyelesaikan permasalahan sampai tuntas. Atas hal inilah metode tematik menjadi sangat penting. Metode ini mempunyai keunggulan tersendiri dibanding metode yang lain. Untuk menerapkan metode tersebut maka hal yang harus dilakukan adalah memahami tentang apa dan bagaimana metode tematik itu. Agar dalam penerapannya nanti tidak terjadi penyimpangan-penyimpanagn terhadap penafsiran Alquran.

1.3    Rumusan Masalah.

  1. Bagaimana cara kerja metode maudhu’iy dalam penafsiran satu surah?
  2. Bagaimana contoh penafsiran satu surah dengan metode Maudhu’iy?

1.4    Tujuan Penulisan.

  1. Mengetahui cara kerja metode maudhu’iy dalam penafsiran satu surah.
  2. Mengetahui contoh penafsiran satu surah dengan metode maudhu’iy.


 

1.5    Kajian Pustaka.

  1. Buku Metode Tafsir Maudhu’iy karangan Abdul Hayy Al Farmawy. Buku ini membahas tentang metode maudhu’iy  secara lebih lengkap. Menurut beberapa ahli tafsir, Al Farmawy adalah ulama pertama yang membahas pendekatan tafsir tematik secara sistematis sehingga kualitas buku karangannya ini tidak diragukan lagi.[3] Dalam buku Metode Tafsir Maudhu’iy ini, metode maudhuiy dijelaskan dengan sangat rinci, mulai dari definisi, sejarah, sebab kepedulian dan ketidak pedulian masa lalu, cara kerja, urgensi, contoh karya tafsir maudhu’iy sampai pada contoh permasalahan (penafsiran) dengan metode maudhu’iy.
  2. Buku yang berjudulMembumikan Al-Quran karya Moh. Quraisy Shihab. Buku ini membahas tentang gagasan Alquran di bagian pertama dan amalan Alquran di bagian yang kedua. Di bagian pertama membahas tentang bukti kebenaran Alquran, sejarah perkembangan  tafsir dan segala tentang tafsir, yang di dalamnya diulas tafsir metode tematik yang menjadi rujukan utama dalam makalah ini dan di bagian amalan Alquran pengarang berusaha mengaitkan Alquran dengan kehidupan masyarakat Islam.[4]
  3. Buku Metode Penafsiran Al-Qur’an karangan Nashruddin Baidan. Buku ini membahas secara rinci tentang metodologi ilmu tafsir, buku metodologi ini terdiri dari tiga jilid yang semuanya membahas tentang metode tafsir. Buku ini sangat membantu bagi seseorang yang ingin mempelajari metode-metode ilmu tafsir. Bahasanya yang mudah dipahami dengan penjelasan yang tidak berbelit-belit membuatnya semakin mudah untuk digunakan sebagai rujukan.
  4. Buku tafsir tematik yang berjudul Tafsir Surah Al Ma’un karangan Nur Khalik Ridwan. Buku ini membahas tentang tafsir Surah Al Ma’un. Dalam buku ini tergambar secara jelas tentang gambaran metode tafsir tematik penafsiran surah. Penjelasannya cukup rinci walaupun kadang bahasa yang digunakan terlalu berputar-putar sehingga sulit dipahami.[5]

 

 

1.6    Outline.

BAB I             : PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Identifikasi Masalah
  3. Rumusan Masalah
  4. Tujuan Penelitian
  5. Kajian Pustaka
  6. Outline

BAB II            : METODE TAFSIR MAUDHU’IY

  1. Definisi Metode Tafsir Maudhu’iy.
  2. Historisitas Metode Tafsir Maudhu’iy.
  3. Urgensi Metode Tafsir Maudhu’iy.
  4. Hal-hal yang Harus diperhatikan Oleh Seorang Penafsir Metode Maudhu’iy.

BAB III          : MAUDHU’IYTAFSIR SURAH.

  1. Cara Kerja Metode Maudhu’iy dalam Penafsiran Satu Surah.
  2. Contoh Penafsiran Satu Surah Dengan Metode Maudhu’iy.
  3. Analisis

BAB IV          : PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

BAB II

Metode Tafsir Maudhu’i

  1. Definisi Metode Tafsir Maudhu’i.

Tafsir dengan metode maudhu’iy adalah metode tafsir secara tematik yang mana menafsiri Alquran dengan tema tertentu disertai penjelasan yang detail berikut hal-hal yang berhubungan dengan ayat tersebut, sebab nuzul, munasabah dan lain sebagainya. Menurut pendapat Prof. Nashruddin Baidan, yang dimaksud metode tafsir tematik (maudhu’iy) adalah metode yang membahas ayat-yat Alquran sesuai dengan tema atau judul yang telah ditentukan. Semua ayat yang berkaitan dikumpulkan kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya seperti Asbabun Nuzul, Munasabah, kosakata, dan sebagainya, kemudian disertai fakta-fakta yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, baik argumen dari Alquran hadis, maupun rasionalitas.[1] Ada dua bentuk dalam metode ini. Pertama, pembahasan mengenai satu surah secara menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan maksud yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan kterkaitan antara berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surah tersebut tampak dalam bentuknya yang benar-benar utuh dan cermat.[2] Kedua, yaitu menghimpun ayat-ayat Alquran yang membicarakan satu masalah tertentu. Aya-ayat tersebut disusun sedemikian rupa kemudian diletakkan dibawah pokok bahasan tertentu.

Metode ini mempunyai karakteristik tersendiri dari metode-metode yang lain yang mana secara global sudah dapat dilihat dari sebutannya. Oleh karena itu yang menjadi ciri utama dari metode ini adalah lebih menonjolkan tema, judul, atau pokok bahasan. Mufassir mencari tema yang ada di masyarakat atau berasal dari Alquran sendiri, yang harus diperhatikan oleh mufassir adalah bahwa seorang mufasir maudhu’iy tidak boleh menafsirkan ayat jauh dari pemahaman ayat-ayat Alquran agar tidak terkesan berdasar pada al Ra’yu al Mahdh (pemikiran yang hanya berdasarkan terkaan belaka. Oleh karena itu dalam penerapannya, metode tematik masih menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku secara umum, selain itu juga harus dipenuhi dengan hadis-hadis Nabi, pendapat para sahabat, ulama, dan sebagainya. Dengan ini metode maudhu’iy disebut juga metode pemecahan masalah terkhusus dalam bidang tafsir.[3]

Dalam fungsinya sebagai metode tafsir, sebagaimana metode-metode tafsir yang lain ada sisi positif dan negatifnya, yang mana dapat dirinci sevagai berikut:

  • Kelebihan:
  1. Dapat menjawab tantangan zaman.

Metode tematik merupakan satu-satunya metode yang dapat menjawab segala permasalahan yang timbul akibat perkembangan zaman yang semakin rumit dan luas (sebagai konsekuensi dari teknologi yang semakin berkembang). Metode maudhu’iy memang dirancang untuk menyelesaikan suatu masalah, mengkaji Alquran yang sesuai dengan masalah yang sedang dibahas sampai tuntas.[4]

  1. Praktis dan sistematis.

Metode maudhu’iy mempunyai formulasi yang praktis dan sistematis. Dengan metode ini akan didapat pemahaman yang efisien, tidak menghemat waktu, dan efektif. Melihat kehidupan umat yang semakin modern dengan mobilitas tinggi yang seakan tidak mempunyai kesempatan untuk membaca kitab-kitab tafsir padahal dengan membaca maka akan didapat ilmu. Maka keadaan seperti ini dianggap tepat dengan hadirnya metode maudhu’iy.[5]

  1. Dinamis.

Metode tematik membuat Alquran semakin dinamis. Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas bahwa metode tematis selalu dapat menjawab tuntutan zaman sehingga menimbulkan kesan bahwa Alquran selalu menemani umat di muka bumi, up to date, sehingga umat akan tertarik untuk merujuk pada Alquran.[6]

  1. Memiliki pemahaman yang utuh.

Dengan adanya tema yang ditetapkan dalam metode maudhu’iy, penafsiran terhadap ayat yang dikaji menjadi mendalam, hal ini disebabkan karena hadirnya hal-hal yang berhubungan dengan ayat yang dikaji dengan begitu pembahasannya tuntas sampai pada akar-akarnya.[7]

Selebihnya, Quraisy Shihab mengungkapkan kelebihan tafsir metode tematik antara lain:

  1. Menghindari kelemahan atau kekurangan metode tafsir yang lain.
  2. Menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi yang mana cara ini merupakan cara yang terbaik dalam menafsirkan Alquran.
  3. Sebagaimana pendapat beberapa ulama lainnya bahwa kesimpulan yang dihasilkan dari metopde tematik mudah dipahami. Hal ini karena metode ini membawa pembaca peda petunjuk Alquran tanpa mengemukakan bahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu dan juga dapat dibuktikan bahwa apa yang ada dalam Alquran bukan teoritis semata sehingga keistimewaan Alquran bisa terbukti.[8]
  4. Metode ini memungkinkan sseseorang untuk menolak adanya anggapan ayat-ayat yang bertentangan dalam Alquran dan dapat membuktikan bahwa ayat-ayat Alquran sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.[9]

 

  • Kekurangan:
  1. Membatasi pemahaman ayat.

Dengan adanya tema yang ditetapkan, pemahaman suatu ayat menjadi terbatas hanya pada permasalahan tersebut. Padahal, pemahaman suatu ayat bisa juga ditinjau dari aspek yang lain, sebagaimana ungkapan bahwa Alquran bagai permata yang tiap sudutnya memancarkan kilau. Jadi penetapan tema dianggap hanya mengkaji satu sisi kilauan tersebut.[10]

  1. Ayat Alquran menjadi terpenggal-penggal.

Disini mengandung pengertian bahwa tafsir dengan metode tematik ini mengambil satu kasus yang terdapat di dalam satu atau lebih ayat atau surah yang mengandung banyak permasalahan yang berbeda. Cara seperti ini dianggap kurang sopan terutama oleh golongan tekstualis, tapi sejauh tidak merusak pemahaman maka tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang negatif.[11]

  1. Historisitas Metode Tafsir Maudhu’i.

Sejarah  munculnya sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Benih-benih tafsir muadhu’iy dapat dibuktikan dengan adanya penafsiran Rasulullah Saw tentang kata ظلم  pada ayat  أمنوا ولم يلبسون إيمانهم بظلم الذينdengan makna الشركyang dijelaskan pada ayat  إن الشرك لظلم عظيم menurut Dr. Ali Khalil penafsiran merupakan cara cerdas yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Untuk mengajarkan pada para sahabat bahwa tindakan menghimpun sejumlah ayat mutasyabbihat dapat memperoleh kejelasan mengenai pokok permasalahan dan menghilangkan segala kerancuan.[12]

Selain itu, dari penelitian para mufassir dikatakan bahwa setiap penafsiran Alquran dengan Alquran disamping bi al ma’tsur juga dapat dikatakan tafsir secara maudhu’iy. Disini berarti bahwa penafsiran Alquran dengan Alquran juga secara otomatis mengambil atau mencari ayat-ayat yang berhubungan dengan ayat yang sedang dibahas sebagaimana penafsiran kata zhulmun yang dimaknai dengan kata syirkun.[13]

Pada perkembangan selanjutnya, benih-benih tafsir maudhu’iy semakin banyak dalam kitab-kitab tafsir meskipun dalam bentuk yang sederhana, bahasa yang ringkas dan belum dikatakan sebagai metode yang berdiri sendiri. Sebagai contoh tafsir karya Fakhr Al Razi, Ibnu ‘Arabi, dan karya Al Qurthubi.[14] Bersamaan dengan ini dapat dijumpai beberapa kitab yang dikarang oleh mufassir yang menggunakan metode muadhu’iy, misalnya: Kitab البيان في أقسام القرأن karangan Ibn Qayyim yang membahas tentang aqsam (sumpah) dalam Alquran, Kitab  القرأنمجاز karangan Abu ‘Ubaidah yang membicarakan majaz-majaz Alquran, Kitab مفردات القرآن karya Al Raghib Al Ishfahani, Kitab والمنسوخ في القرأن  الناسخ   karangan Abu Ja’far Al Nahas yang membicarakan tentang ayat yang dihapus dan ayat yang menghapus dalam Alquran, Kitabأحكام القرأن  karangan Al Jasshahsh yang membahas tentang ayat-ayat hukum, kitab karangan Al Wahidi yang berjudul النزولأسباب .[15]

Setelah meneliti kitab-kitab tafsir tersebut disitu terlihat, dalam kitab Ahkamul quran misalnya, di dalamnya dijelaskan ayat-ayat Alquran yang khusus membahas tentang hukum. Ayat-ayat tersebut dikelompokkan menjadi satu dan dikaji secara utuh. Dengan demikian dapat diketahui bahwa metode maudhu’iy ini sudah ada sejak dahulu meskipun belum berdiri sendiri sebagai suatu metode dan juga dapat diambil kesimpulan bahwa yang baru bukan metodenya, tetapi perhatian yang diberikan oleh para pengkaji tafsir.[16]

  1. Urgensi Metode Tafsir Maudhu’i.

Keberadaan metode maudhu’iy ini menjadi sangat penting ketika permasalah zaman sudah sangat berkembang dan umat sangat mendambakan fatwa-fatwa agama sebagai jawaban atas tuntutan zaman. Metode maudhu’iy dianggap sebagai metode yang mampu membuat Alquran menjadi hidup. Adanya pemahaman yang terkotak-kotak secara parsial yang dimungkinkan terjadi pada penafsiran secara global maupun analisis menyebabkan adanya penyimpangan dalam penafsiran Alquran. Hal tersebut tidak akan terjadi pada tafsir tematik karena metode ini membahasan tema dilakukan secara menyeluruh sampai tuntas.[17] Beberapa keistimewaan yang membuat metode ini menjadi sangat penting antara lain:

  1. Metode maudhu’iy adalah metode yang menghimpun berbagai ayat yang berkaitan dengan satu topik permasalahan, satu ayat ditafsiri oleh ayat yang lain sehingga secara tidak langsung menjadi tafsir bi al ma’tsur yang merupakan metode yang jauh dari kesalahan.[18]
  2. Dapat mengetahui adanya keteraturan dan keserasian serta munasabah ayat-ayat tersebut dengan adanya penghimpunan sejumlah ayat Alquran, dengan itu penafsir akan menjelaskan makna-makna dan petunjuk Alquran disertai dengan penjelasan tentang kelugasan dan keindahan bahasa Alquran.[19]
  3. Dengan menghimpun beberapa ayat pulalah seorang penafsir dapat memberikan pemikiran yang sempurna dan utuh mengenai satu topik masalah yang sedang dikaji yang mana telah diselidiki semua masalah tersebut dalam ayat-ayat dalam satu waktu, kemudian menarik salah satu bahasan yang sudah benar-benar dikuasai.[20]
  4. Seorang penafsir dapat menghapus anggapan adanya kontradiksi antara ayat-ayat Alquran dan mampu menolak berbagai tuduhan negatif yang disebarluaskan oleh pihak yang berniat buruk, misalnya bantahan atas tuduhan bahwa agama dan ilmu bertentangan.[21]
  5. Corak maudhu’iy yang sesuai dengan tuntutan zaman yang mana menuntut untuk bisa melahirkan suatu hukum yang bersifat universal untuk masyarakat Islam yang mudah difahami dan mudah untuk diterapkan.[22]

Dalam hal ini metode maudhu’iy memegang peranan untuk mengubah padangan orang-orang positivistik yang sumbernya beraneka ragam dan tidak sama dengan karakter masyarakay dan jiwa agama Islam untuk bersedia menrima dan mengaplikasikan hukum-hukum Alquran.

  1. Memungkinkan seorang penafsir untuk mengetahui inti masalah dan segala aspeknya, oleh karena itu mampu mengemukakan argumen yang kuat, jelas, dan memuaskan serta memungkinkan juga bagi seorang penafsir untuk mengetahui rahasia Alquran sehingga hati dan akal manusia tergerak untuk mensucikan Allah SWT dan mengakui segala rahmat-Nya.[23]
  2. Memungkinkan seseorang untuk sampai pada titik permasalahan yang dimaksud tanpa susah payah harus mengemukakan pembahasan dan uraian kebahasaan atau fikih dan lain sebagainya, sebagaimana tafsir metode tahlili yang menyulitkan seorang penafsir untuk sampai pada tujuan yang ingin dicapai.[24]
  3. Pendapat menurut Sayyid Al Khumy, bahwa lagi-lagi di zaman modern ini sangat membutuhkan metode yang memungkinkan seseorang memahami masalah yang dibahas dan segera sampai pada hakikat masalah dengan jalan yang singkat dengan cara yang praktis dan mudah yang tidak lain ada pada metode maudhu’iy.[25]

 

  1. Hal-hal yang Harus Diperhatikan Oleh Seorang Penafsir Metode Maudhu’iy.

Setelah mengetahui tentang hal ihwal metode tematik, maka yang tidak kalah penting untuk diketahui dan diperhatikan khususnya oleh para penafsir antara lain:

  1. Penafsir harus menyadari bahwa dengan metode tematik, tidak berarti telah sepenuhnya menafsirkan Alquran sebab Alquran benar-benar mengandung maksud yang tidak tersembunyi, mengandung tujuan-tujuan yang tidak seluruhnya dapat dicapai oleh manusia. Harus diingat bahwa pembahasan yang diuraikan hanya menyangkut judul yang ditetapkan oleh penafsir sehingga penafsir tidak dipengaruhi oleh kandungan dan isyarat-isyarat yang ditemukannya dalam ayat tersebut tidak sejalan dengan pokok bahasan.[26] Jika seorang penafsir mengaku telah menafsirkan Alquran secara keseluruhan dan utuh dan ternyata tidak berhasil pada seluruh maksud Alquran maka hal itu akan membuat bingung dirinya sendiri dan meragukan validitas metode tematik yang telah digunakan sehinggga penafsir tidak akan sampai pada hasil kajian yang benar, baik ditinjau dari segi tujuan tafsir secara umum maupun segi kajian tafsir tematik.[27]
  2. Penafsir maudhu’iy harus selalu ingat bahwa ia hanya bermaksud membahas dan mencapai satu masalah bahasan, tidak akan menyimpang dari masalah yang telah ditetapkan, dan tidak melalaikan pembahasan mengenai seluruh aspeknya serta berusaha mengungkap hal-hal yang masih tersembunyi.[28] Jika tidak, maka seorang penafsir tidak akan merasakan kemukjizatan Alquran, tidak mngerti korelasi atar ayatnya, dan tidak akan merasakan keindahan dan keunikan ketika ia berpindah dari satu tema ke tema yang lain.
  3. Penafsir harus memperhatikan tahapan-tahapan Alquran dalam menurunkan hukum. Dengan kata lain seorang penafsir harus memahamik sebab nuzul turunnya suatu ayat, munasabah, dan hadsi-hadis Nabi serta pendapat sahabat mengenai masalah yang sedang dibahas,[29] atau perincian khusunya yang meliputi kemutlakan, kemuqayyad-an, dan lain sebagainya. Jika tidak maka seprang penafsir akan terjerumus pada kesalahan baik dalam hukum maupun perincian kasus atau peristiwa.[30]
  4. Dalam membahas masalah yang sedang dikaji, penafsir harus konsisten dalam menerapkan semua prinsip-prinsip dan langkah operasional metode ini. Jika tidak, maka penafsir akan gagal dalam menemukan bentuk masalah yang seutuhnya yang dimaksudkan oleh Alquran.[31]

BAB III

Maudhu’iy Tafsir Surah

  1. Cara Kerja Metode Maudhu’iy dalam Penafsiran Satu Surah.

Sebagaimana yang telah disinggung di muka bahwa pada dasarnya metode maudhu’iy bukan merupakan metode tafsir yang baru. Metode maudhu’iy sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW dan mulai banyak digunakan pada zaman ulama masa awal kodifikasi kitab tafsir. Tetapi metode tematik disini belum berdiri sendiri sebagai suatu metode. Pada saat itu muncul Ibrahim bin ‘Umar Al Biqa’i (809-885 H) yang mana beliau mulai membahas Alquran dengan maksud mengungkap kemukjizatan Alquran dari segi sistematika penyusunan  ayat-ayat dan surahnya yang sesuai dengan susunannya dalam mushhaf serta sebab pemilihan suatu redaksi terhadap redaksi lainnya tetapi bukan untuk menggambarkan segi-segi petunjuk Alquran yang akhirmnya dapat dimanfaatkan oleh umat.[1] Atas usaha yang dilakukan oleh Al Biqa’i tersebut Al Syathibi menjelaskan bahwa satu surah walaupun dapat mengandung banyak masalah tetapi masalah-masalah tersebut berkaitan antara satu dengan yang lainnya sehingga seorang penafsir hendaknya tidak mengarahkan pandangan hanya pada satu surah karena jika tidak maka kandungannya akan terabaikan.[2]

Pada bulan Januari 1960, Syaikh Al Azhar, Mahmud Syalthouth, menerbitkan tafsirnya yang berjudul Tafsir Al Quran Al Karim, beliau menafsirkan dengan cara membahas surah demi surah atau bagian suatu surah dengan menjelaskan tujuan-tujuan utama serta petunjuk-petunjuk yang dapat dipetik darinya. Meskipun ide tentang kesatuan dan isi petunjuk surah demi surah telah pernah dilontarkan oleh Al Syathibi (w. 1388 M), tetapi perwujuan dalam bentuk kitab tafsir baru dimulai oleh Syekh Mohammad Syalthouth.[3]

Pada dekade selanjutnya, banyak para ulama mengeluarkan karya-karya tematik ilmiah menurut Alquran bukan tafsir sebagai jawaban atas tuntutan zaman. Sebagai contoh kitab Al Insan fi Al Qur’an, Al Mar’ah fi Al Qur’an karya Abbas Mahmud Al Aqqad, atau Kitab  Al Riba’ fi Al Qur’an karya Al Maududi, dan sebagainya.[4] Kitab-kitab tersebut merupakan bukti adanya perkembangan metode tafsir maudhu’iy dari masa ke masa.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdul Hayy Al Farmawy, bhawa metode maudhu’iy mempunyai dua bentuk yaitu maudhu’iy tafsir ayat dan maudhu’iy tafsir surah yang mana keduanya mempunyai langkah kerja yang hampir sama. Jika pada maudhu’iy  tafsir ayat langkah pertama yang dilakukan dalam menafsirkan ayat adalah menentukan tema ayat yang dibahas maka hal yang harus dilakukan pertama kali dalam maudhu’iy tafsir surah adalah menentukan satu surah yang kemudian ayatnya dibahas sartu persatu.[5] Penjelasan yang lebih detail akan dijelaskan sebagaimana uraian di bawah ini :

  1. Mengambil satu surah (lebih baik jika permasalahan yang disebutkan dalam surah tersebut berujung pada satu inti bahasan).
  2. Mengungkapkan sebab nuzul beserta munasabah surah tersebut (jika ada).[6]
  3. Menghadirkan hadis Nabi atau pendapat sahabat atau rujukan-rujukan lain yang shahih, misalnya merujuk pada beberapa, misalnya mushhaf  Usmani, mushhaf  Indonesia untuk dijadikan perbandingan, dan lain sebagainya.[7]
  4. Membahas surah tersebut sampai tuntas (mulai dari ayat yang pertama sampai ayat yang terakhir), mengungkapkan hal-hal yang dibahas dalam setiap ayat.
  5. Merangkum masalah-masalah yang disebutkan dalam surah yang dibahas, kemudian menarik kesimpulan darinya.[8]
  6. Contoh Penafsiran Surah dengan Metode Maudhu’iy.

Untuk memperjelas gambaran tentang penafsiran surah dengan metode maudhu’iy dapat dijelaskan dengan contoh penafsiran surah Al Ma’un  yang dirujuk dari tafsir tematik yang berjudul Tafsir Surah Al Ma’un karangan Nur Khalik Ridwan berikut.

  1. Surah yang Ditafsir.

Pada bagian ini dijelaskan tentang nama-nama Surah Al Ma’un. Surah Al Ma’un memiliki nama yang tidak tunggal. Imam Ibn Jarir Ath Thabary menyebut surah ini dengan sebutan Surah Ara’aita, Al wahidi dalam Asbabunnuzul menyebut surah ini juga dengan sebutan Surah Ara’aita, tetapi dalam tafsirya Al Wasith ia menyebut Surah Al Ma’un. Imam Asy Syaukani memberi judul surah ini dengan nama Surah Ara’aita meskipun beliau memberi catatan bahwa surah Al Ma’un disebut juga Surah Ad Diin, Surah Al Ma’un, dan Surah Yatim. Imam Al Alusi Al Baghdadi termasuk kelompok ornag yang menyebut dengan Surah Al Ma’un, tetapi kadang-kadang menyebutnya Surah Ad Diin, Surah Ara’aita, dan Surah At Takdzib.  Sedangkan Imam Ahmad Ash Shawi Al Maliki menyebut dengan Surah Al Ma’un dan juga menyebutnya dengan Surah Ad Diin.[9]

Ibnu Katsir menyebut surah ini dengan sebutan Surah Al Ma’un, sedangkan para mufassir klasik lain lebih banyak menyebut dengan Surah Al Ma’un. Misalnya Imam Al Baghawi, Imam Abu Su’ud Muhammad bin Muhammad Al ‘Ammadi, Imam Al Qurthubi, Imam Syihabuddin Abil Abbas Al Halabi, Imam Al Khazin, Imam Jalaluddin Asy Syuthi dalam Durrul Mantsuur, Syekh Imamiyyah Abu Ali Al Fadhal bin Hasan Ath Thabarisy, Imam Abu Thahir Al Fairuzzabadi, dsb.[10] Dengan demikian dapat diketahui bahwa Surah Al Ma’un memilki banyak ragam nama antara lain Surah Ara’aita, Surah Ad Diin, Surah At Takdzib, dan Surah Yatim yang semuanya dirujuk dari beberapa kitab tafsir klasik yang membahas perihal surah ini.[11]

Masih dalam hal yang sama, sejauh ini tidak ada satu pun di antara tafsir-tafsir klasik yang memberikan penjelasan tentang alasan pemberian nama-nama tersebut pada surah yang ke 107 ini. Soal memberi nama bukan hanya sekedar mengambil dari teks yang ada. Hal ini karena sebuah nama mewakili dan menjadi simbol dari apa yang ingin diwakili.[12] Surah Al Yatim misalnya mengandaikan bahwa surah yang ke-107 adalah pembelaan terhadap anak yatim. Sama halnya dengan nama Al Ma’un, Ad Diin, dan Ara’aita, yang melakukan pengabstraksian dari nama-nama itu sendiri. Sepintas ini bukan suatu masalah tetapi sebenarnya kurang mewakili dari keseluruhan ide yang ada dalam Surah Al Ma’un, sebab Surah ini juga menyangkut soal dicelanya orang yang melalaikan shalat, anjuran untuk memberi bantuan orang lain, dst.

  1. Ayat-ayat yang Ditafsir.

Ibnu ‘Abbas menyebutkan bahwa Surah Al Ma’un terdiri dari 7 ayat, 25 kalimat, dan hurufny ada 111. Imam Al Khazin menyebutkan ayatnya berjumlah 7, 25 kalimat, dan 125 huruf. Sedangkan menurut Imam Asy Syaukani Surah Al Ma’un teridri dari 7 ayat yang mana beliau juga menyertakan catatan kaki bahwa jumlah ayatnya 6 dalam mushhaf-mushhaf yang disandarkan pada riwayat Nafi’, dan pendapat yang 7 ayat terdapat dalam mushhaf yang disandarkan riwayat Hafsh dari ‘Ashim, dan juga disandarkan dari riwayat Warsy dari Nafi’.[13] Ibnu Katsir memberi nomor ayatnya sampai sebanyak 7. Imam-imam lain yang juga menyebut 7 ayat, antara lain: Abu Su’ud Muhammad bin ‘Ammadi, Imam Al qurthubi, Imam As Syuyuthi, Al Wahidi, An Naisaburi, Abu Al fadhl bin Al hasan Ath Thabarisy, dan Imam Syihabuddin Abil ‘Abbas Al Halabi.[14] Dari penjelasan di atas tampak ada perbedaan pendapat yang diambil dari beberpa riwayat sahabat. Semau ini menunjukkan bahwa dalam menghitung sebuah ayat dan huruf sekalipun, meskipun ada perbedaan dari ulama-ulama tafsir maka tidak bisa dianggap melawan Alquran.

 

  1. Munasabah.

Hubungan atau korelasi dalam Surah Al Ma’un nampak dari saling terkaitnya antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya dan memiliki makna tersendiri. Tidak seperti surah-surah yang lain, yang tiap ayatnya terkadang membiacrakan msalah yang berbeda meskipun dalam satu surah., tetapi dalam Surah Al Ma’un ini munasabah-nya terlukis pada tiap ayatnya dari ayat 1 sampai ayat 7 (ayat 1-6 bagi yang berpendapat Surah Al Ma’un terdiri 6 ayat). Penggunaan konjungsi di tiap ayat mempunyai makna tersendiri.[15]

Pada ayat ke-1, ada awalan yang menggunakan sebuah pertanyaan: ara’aita… (adakah engkau tahu). Pada ayat ke-2 ada awalan fa’ dengan lafadz: fadzalika alladzi… (mereka adalah orang-orna yang…). Pada ayat ke-3 ada awalan wawu dalam kalimat: wala yakhudhdhu… (dan orang yang tidak memberi…). Pada ayat ke-4 ada awalan  fa lagi (bukan wawu) dalam kalimat: fawailul lil mushallin (neraka wail-lah bagi orang-orang yang shalat…). Pada ayat ke-5 ada awalan ism al maushul dalam kalimat: al ladzina ‘an hum shalatihim saahun…(yang dari shalatnya mereka lalai…). Pada ayat ke-6 ada awalan ism al Maushul lagi di kalimat: al ladzina  hum… (mereka yang…). Dan pada ayat ke-7 ada awalan wawu lagi dalam kalimat: wa yamna’uun…(dan orang yang enggan…). Jalinan-jalinan ini berhubungan secara vertikal, misalnya mengapa diawali dengan pertanyaan, dan secara umum diakhiri dengan celaan, tentulah memiliki sesuatu maksud dengan adanya konjungsi tersebut.[16]

  1. Asbabun Nuzul surah Al Ma’un.

Ada beberapa hal yang menjadi perdebatan dikalangan ulama tafsir seputar masalah nuzul-nya Surah Al Ma’un. Tentang tempat turunnya surah dan masalah siapakah yang dimaksudkan di awal turunnya surah yang selama ini menyedot perdebatan di kalangan ulama.[17]

As Syuyuthi mengutip Ibnu Mardawiyah dari Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa surah Al Ma’un turun di Makkah. Riwayat serupa juga dikeluarkan olej Ibnu Mardawiyah dari Abdullah bin Zubair. Imam As Syuyuthi sendiri memberi penjelasan bahwa surah ini Makkiyah. Dikatakan juga bahwa sebagian turun di Makkah dan sebagian turun di Madinah dalam kasus Ubay bin Salul Al Munafiq.[18]

Al Khazin mengatakan bahwa surah Al Ma’un turun disebabkan karena kasus Al ‘Ash bin Wa’il As Sahimi. Sedangkan ada yang mengatakan disebabkan oleh kasus Walid bin Al Mughirah, sebagian mengatakan karena kasus ‘Amr bin ‘Aidz Al Makhzumi dan menurut riwayat dari Ibnu Abbas, Surah Al Ma’un diturunkan dalam kasus orang-orang lelaki munafik.[19]

Al Baidhawi mengatakan bahwa Surah Al Ma’un adalah Makkiyah menurut perkataan Atha’, Jabir, dan salah satu riwayat dari Ibnu Abbas dan sebagian yang laian mengatakan Madaniyyah yang mana Qatadah termasuk di dalamnya.[20]

  1. Penafsiran Ayat Ke-1 Sampai Ayat Ke-7.

Pada penafsiran ayat ke 1 Surah Al Ma’un terdapat variasi bacaan yang muncul. Ayat 1 dari Surah Al Ma’un atau At Takdzib ini diawali dengan kata ara’aita. Ada beberapa hal penting yang perlu dipahami, dan yang pertama adalah soal bacaan. Lafadz ar’aita disini menggunakan dua hamzah, dan karenanya tidak dikatakan dalam ara’aita dengan sebutan ra’aita, tetapi dengan alif istifham (alif yang berfaedah untuk bertanya yang memudahkan hamzah dibaca sebagai alif). Meski begitu sebagian ada yang membaca dengan membuang hamzah menjadi  ara’aita, sedangkan Ibn Mas’ud membaca ara’aita dengan ara’aitaka: memberikan tambahan kaf khithaab yang bermakna engkau/kamu. Menurut Al Farra’ memang Abdullah membacanya dengan ara’aitaka al ladzi, dan semua perbedaan ini bermakna satu.[21]

Dalam Surah Al Ma’un dijelaskan tentang orang yang berdusta. Berdusta/mendustai dijelaskan melalui kalimat al ladzi yukadzdzibu bi ad diin menggunakan kata dasar kadzaba. Mu’jam al Wasith memberi makna kata ini sebagai khilafu ma huwa ‘alaihi fi al waqi’ (berbeda dari sesuatu yang semestinya terjadi/ ada. Berbeda disini bukan hanya sekedar bahwa ia memang berbeda dari sebenarnya. Berbeda disini adalah berbohong, berdusta dan tidak bisa dipercaya.[22]

Jika diambil kesimpulan maka Surah Al Ma’un merupakan surah yang mempunyai kandungan beberapa hal antara lain tentang pendusta agama, dijelaskan dalam surah ini bahwa pendusta agama adalah orang-orang yang menghardik anak yatim, tidak suka memberi pada orang yang susah (fakir miskin).[23]

  1. Analisis.

Tafsir maudhu’iy merupakan metode tafsir yang memang dirancang untuk menyelesaikan permasalahan sampai tuntas. Dengan kelebihannya yang sanggup memenuhi tantangan zaman mampu membuat Alquran tidak stagnan dan berkembang dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang semakin kompleks di tiap zamannya.

Sebagai metode yang berbeda dari metode-metode tafsir lainnya, yang mana mempunyai dua bentuk cara penafsiran membuat metode tematik semakin unggul dari yang lainnya. Dalam makalah ini yang dibahas adalah metode tematik dengan bentuk tafsir surah. Cara kerja tematik tafsir surah tidak jauh berbeda dengan tematik tafsir ayat, hanya yang membedakan adalah dalam tafsir surah penafsir tidak perlu menghimpun ayat-ayat atau surah yang bahasannya sama dengan tema permasalahan yang sedang dikaji, yang harus dilakukan hanya memilih satu surah yang kandungannya sebagian besar menceritakan tentang satu permasalahan sebagaimana contoh yang dijabarkan dalam makalah ini yakni tafsir Surah Al Ma’un.

Surah ini membahas tentang orang-orang yang munafik, pendusta agama dan orang yang suka melalaikan shalat dijelaskan secara jelas dalam surah ini, yang mana semuanya berujung pada satu permasalahan yakni tentang kemunafikan. Setelah tuntas membahas tentang orang-orang munafik dalam Surah Al Ma’un maka akan dapat diketahui kesimpulan tentang bagaimana “orang munafik” yang dimaksud dalam surah tersebut.

BAB IV

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari uraian penjelasan yang telah dijabarkan di bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yang pertama tentang cara kerja tafsir maudhu’iy tafsir surah dan contoh penerapan metode maudhu’iy tafsir surah, yaitu sebagai berikut:

  1. Cara kerja tafsir maudhu’iy tafsir surah tidak jauh berbeda dengan maudhu’iy tafsir ayat saja, yang membedakan adalah pada tafsir surah, penafsir tidak perlu menghimpun ayat-ayat yang setema dengan masalah yang sedang dibahas kemudian disusun berdasarkan kronologi turunnya ayat sebagaimana pada maudhu’iy tafsir ayat, yang harus tretap dilakukan adalah menyebutkan asbabun nuzul, munasabah, dan beberapa hadis Nabi atau pendapat sahabat berdasarkan riwayat yang jelas. Kemudian penafsir menafsirkan Alquran dengan ijithad sendiri, membahas masalah sampai tuntas dan  terakhir diambil kesimpulan dari semua yang telah dibahas.
  2. Dari contoh yang telah dijabarkan di atas dapat diambil gambaran poin-poin penting (kerangka) mengenai penerapan metode tematik, antara lain:
  3. Menetapkan surah yang akan ditafsirkan.
  4. Membahas ayat-ayat secara keseluruhan dari surah yang dibahas.
  5. Menyebutkan Asbabun Nuzul dan munasabah.
  6. Menyertakan hadis Nabi maupun riwayat dari sahabat yang berhubungan dengan masalah yang dikaji serta merujuk pada beberapa mushhaf.
  7. Menarik kesimpulan dari surah yang dikaji.

 

 

  1. Saran
  2. Metode tafsir maudhu’iy atau yang lazim dikenal dengan tafsir tematik merupakan salah satu kajian ilmu tafsir yang cukup menarik perhatian. Ragam bentuk penafsirannya menjadikan metode tematim semakin menarik untuk terus dipelajari. Mengingat metode tematim adalah metode yang mampu menjawab tantangan zaman. Zaman menuntut Alquran untuk dapat terus menyelesaikan setiap masalah yang timbul, dan hanya dengan metode tematiklah yang mampu menyelesaikan semua tuntutan itu, kenapa demikian, tidak lain adalah karakteristik metode tematik yang didesain untuk membahas masalah sampai tuntas pada akarnya. Oleh karena itu kiranya disini menarik untuk dipelajari dan masih sangat perlu untuk terus dikaji terkhusus dikalangan akademik agar lebih bermanfaat dalam kehidupan.
  3. Dengan segala kekurangan yang ada dalam makalah ini, penulis harapkan bagi pembaca agar selalu memberikan kritikan yang bersifat membangun, demi perbaikan ke arah yang lebih baik.

 

DAFTAR PUTAKA

 

Al Farmawy, A. Al Hayy. 1994. Metode Tafsir Maudhu’iy. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Shihab, M. Quraisy. 1998. Membumikan Al-Quran: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. MIZAN : Bandung.

Baidan, Nashruddin. 1998. Metodogi Penafsiran Al-Qur’an. Pustaka Pelajar Offset : Yogyakarta.

Ridwan, Nur Khalik. 2008. Tafsir Surah al- Ma’un: Pembelaan Atas Kaum Tertindas. ERLANGGA : Jakarta.

Shihab, M. Quraisy. 2002. Tafsir Al-Mishbah Juz ‘Amma: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Qur’an. Lentera Hati : Jakarta.

 

BAB I

[1]M. Quraisy Shihab , Membumikan Alquran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Mizan. 1998), v

[2]Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1998), 169.

[3]A. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’iy (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), v.

[4]M. Quraisy Shihab , Membumikan Alquran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Mizan. 1998), II

[5]Nur Khalik Ridwan, Tafsir Al Ma’un: Pembelaan Atas kaum Tertindas (Jakarta: Erlangga. 2008), v.

 

BAB II

[1]Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1998), 151.

[2]A. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’iy (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), 35.

[3]Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1998), 152.

[4]Ibid.

[5]Ibid., 166.

[6]Ibid.

[7]Ibid., 167.

[8]M. Quraisy Shihab , Membumikan Alquran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Mizan. 1998), 117.

[9]Ibid.

[10]Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1998), 168-169.

[11]Ibid., 168.

[12]A. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’iy (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), 38.

[13]Ibid.

[14]Ibid., 39.

[15]Ibid.

[16]Ibid., 40.

[17]Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Alquran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 1998), 169.

[18]A. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’iy (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), 52.

[19]Ibid.

[20]Ibid.

[21]Ibid.

[22]Ibid.

[23]Ibid., 53.

[24]Ibid., 54.

[25]Ibid.

[26]M. Quraisy Shihab , Membumikan Alquran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Mizan. 1998), 120.

[27]A. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’iy (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), 54.

[28]Ibid., 55

[29]Ibid., 56.

[30]M. Quraisy Shihab , Membumikan Alquran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Mizan. 1998), 120.

[31]A. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’iy (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), 57.

 

BAB III

[1]M. Quraisy Shihab , Membumikan Alquran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Mizan. 1998), 112.

[2]Ibid.                                            

[3]Ibid., 113.

[4]Ibid., 114.

[5]. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’iy (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), 34-35.

[6]Ibid., 35.

[7]Nur Khalik Ridwan, Tafsir Al Ma’un: Pembelaan Atas kaum Tertindas (Jakarta: Erlangga. 2008), v.

[8]M. Quraisy Shihab , Membumikan Alquran Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Mizan. 1998), 114.

[9]Nur Khalik Ridwan, Tafsir Al Ma’un: Pembelaan Atas kaum Tertindas (Jakarta: Erlangga. 2008), 40-41.

[10]Ibid., 42.

[11]Ibid.

[12]Ibid., 43.

[13]Ibid., 54-55.

[14]Ibid., 55.

[15]Ibid., 63.

[16]Ibid., 63-64.

[17]Ibid., 65.

[18]Ibid., 67.

[19]Ibid.

[20]Ibid., 68.

[21]Ibid., 106.

[22]Ibid., 115.

[23]Ibid., 116.

 

 

 

 

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: