RSS Feed

KITAB HADIS MUSYKIL DAN MUKHTALIF

Image

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Al-Quran yang secara lahir bertentangan, harus dikompromikan dengan menggunakan beberapa metode dalam ta’arudh. Begitu juga dengan hadis. Ada beberapa teks sunnah yang secara lahir tampak bertentangan. Hal ini dapat terjadi pada hadis yang validitasnya tidak dapat diragukan lagi. Misalnya, dua hadis yang berkualitas sahih, hasan, atau dengan bahasa maqbul. Berbeda jika salah satu dalil itu ada yang lemah (dha’if) baik dari segi sanad (perawi) atau matan (tekstualnya). Maka hal itu tidak perlu diselesaikan masalahnya. Tinggal dinon-aktivkan salah satunya.

Ada beberapa langkah dalam memecahkan permasalahan-permasalahan hadis yang tampak bertentangan. Banyak pula ulama yang merumuskan dan memperbincangkannya. Hal ini mereka kerangkakan dalam disiplin ilmu mukhtalifil hadis. Yaitu sebuah ilmu yang memperbincangkan tentang bagaimana menangani hadis ‘bermasalah’ secara lahirnya. Dengan beberapa langkah dan metode tertentu. Di mana fungsi dan tujuan ilmu ini adalah menghancurkan tuduhan dan fitnah kaum ‘a’da’ Islam. Ilmu ini berkembang saat ilmu-ilmu Islam lainnya dalam puncak kejayaan. Yaitu al-‘ushur adz-dzahabiyyah (masa-masa keemasan).

Problematika yang timbul adalah perumusan dan pembatasan sampai mana metode yang harus diaplikasikan dalam hadis-hadis tersebut. Bagaimana mengklasifikasikan hadis ini masuk dalam mutlak, ‘amm, dan mujmal. Sehingga langkah dan kode yang dipakai mudah diterapkan. Secara jelasnya, kadang ditemukan hadis yang sulit dipastikan eksistensinya. Tampak seperti lafaz umum, khusus, dan lainnya. Berikut makalah ini akan menjelaskan tentang substansi ilmu mukhtalifil hadis, obyek kajiannya, kitab-kitab yang membicarakan, dan contoh-contoh pengaplikasiannya untuk memudahkan perumusannya sebagaimana berikut ini.

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalahnya dapat pemakalah simpulkan sebagaimana berikut:

  1. Bagaimana definisi ilmu mukhtalifil hadis dan musykilul hadis?
  2. Apa urgensi mempelajari ilmu ini?
  3. Apakah kitab-kitab yang memperbincangkan ilmu tersebut?
  4.  Bagaimana contoh-contoh pengaplikasian ilmu itu?
  1. C.    Tujuan Masalah
    1. Mengeteahui definisi dan ilmu mukhtalifil hadis dan Musykilul hadis.
    2. Mengetahui urgensi mempelajari ilmu ini.
    3. Mengetahui kitab-kitab yang memperbincangkan ilmu ini.
    4. mengetahui contoh-contoh pengaplikasian ilmu ini.

 

BAB II

ILMU MUKHTALIFIL HADIS Dan MUSYKILUL HADIS

 

 

  1. A.    Pengertian

Ilmu Mukhtaliful Hadits adalah ilmu yang membahas hadits- hadits yang menurut lahirnya saling berlawanan, untuk menghilangkan perlawanan itu atau mengkompromikan keduanya sebagaimana halnya membahas hadits- hadits yang sukar difahami atau diambil isinya, untuk menghilangkan kesukarannya dan menjelaskan hakiktnya. [1]

Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib mendefiniskan Ilmu Mukhtalîf al-Hadîs wa Musyakilihi sebagai:

الْعِلْمُ الَّذِيْ يَبْحَثُ فِى اْلأَحَادِيْثِ الَّتِيْ ظَاهِرُهَا مُتَعَارِضٌ فَيُزِيْلُ تَعَارُضَهَا أَوْ يُوَفِّقُ بَيْنَهَا كَمَا يَبْحَثُ فِى اْلأَحَادِيْثِ الَّتِيْ يَشْكُلُ فَهْمُهَا أَوْ تَصَوُّرُهَا فَيَدْفَعُ أَشْكَالَهَا وَيُوَضِّحُ حَقِيْقَتَهَا

“Ilmu yang membahas hadis-hadis yang tampaknya saling bertentangan, lalu menghilangkan pertentangan itu, atau mengkompromikannya, di samping membahas hadis yang sulit dipahami atau dimengerti, lalu menghilangkan kesulitan itu dan menjelaskan hakikatnya” [2]

Sasaran ilmu ini mengarah pada hadits- hadits yang saling berlawanan untuk dikompromikan kandungannya dengan jalan membatasi (Taqyid) kemutlakannya dan seterusnya. Atau yang dalam kitab Manhalul Lathief biasa disebut Ahadist Allati mutadhodan fil ma’na bihasabi al dhohiri. Ilmu ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang menguasai hadits dan fiqih.[3] Disebutkan bahwa Imam Syafi`i (w. 204 H) adalah ulama yang mempelopori munculnya disiplin ilmu mukhtalaf al-hadis. Hal ini terlihat dalam karya besarnya “al-Umm”, meskipun beliau tidak secara khusus mengarang kitab mukhtalaf al-hadis tetapi didalam kitab al-Umm beliau mencantumkan pembahasan khusus tentang mukhtalaf al-hadis.

Dr. Abu al-Layth mendefinisikan hadis musykil sebagai hadis maqbul (sahih dan hasan) yang tersembunyi maksudnya kerana adanya sebab dan hanya diketahui setelah merenung maknanya atau dengan adanya dalil yang lain. Dinamakan musykil kerana maknanya yang tidak jelas dan sukar difahami oleh orang yang bukan ahlinya.[4]

Dari sini dapat dipahami, bahwa ilmu mukhtaliful hadis dan musykilatul hadis adalah sejenis ilmu yang memperbincangkan tentang bagaimana memahami hadis yang secara lahir bertentangan dengan menghilangkan pertentangan itu dan mencocokkannya. Seperti halnya pembicaraan tentang hadis yang sulit dipahami dan digambarkan. Dan hal ini akan mengungkap kesulitan itu dan menjelaskan substansinya.

  1. B.     Urgensi Ilmu Mukkhtalifil hadis

Ilmu ini termasuk hal penting dalam study hadis. Sebuah ilmu yang dibutuhkan oleh ahli hadis, ahli fikih, dan ulama lain. Orang yang mempelajarinya harus mempunyai daya tangkap tinggi, pemahaman mendalam, pengetahuan luas, dan pengalaman baik. Merekalah yang piawai dalam ilmu hadis dan fikih. As-sakhowi mengatakan, “Ilmu ini sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap ulama dalam bidang apapun. Yang bisa sempurna melaksanakan ilmu ini adalah seseorang yang benar-benar pandai mengumpulkan ilmu hadis dan fikih, serta bisa menyelami arti dari kata-kata sulit”.[5]

Bahkan As-Sakhowi mengatakan berikut:

ولذا كان إمام الأئمة أبو بكر بن خزيمة من أحسن الناس فيه كلاما لكنه توسع حيث قال لا أعرف حديثين صحيحين متضادين فمن كان عنده شيء من ذلك فليأتني به لأؤلف بينهما

“Oleh karena itu (yang menangani ilmu ini hanyalah mereka yang piawai bidangnya), Imam Abu Bakar bin Khuzaimah termasuk orang terbaik dalam hal ini. Tetapi beliau terlalu berlebihan, sampai beliau berkata, “aku tidak pernah menjumpai dua hadis yang bertentangan. Jika seseorang pernah menemukannya, maka datangkanlah padaku agar aku selesaikan (pengumpulannya)”.[6]

Al-Bulqini menyanggah statemen Ibnu Khuzainah ini dengan mengatakan:

لو فتحنا باب التأويلات لاندفعت أكثر العلل

“Andai kita membiarkan pintu takwil, niscaya tertolak (tidak ada) kebanyakan illat hadis”

Ulama telah berantusias lebih dalam hal ini. Terbukti mereka menangani ilmu ini sejak periode sahabat. Yaitu mereka yang menjadi referensi seluruh ummat dalam menangani problematika hidupnya. Mereka berijtihad untuk mengumpulkan hadis, menggali hukumnya, dan mengompromikan beberapa hadis yang kelihatannya bertentangan. Begitu juga dengan ulama-ulama hadis yang telah menghancurkan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan musuh-musuh Islam, seperti golongan Syi’ah dan Muktazilah. Dan mereka merumuskannya dalam karya besar yang akan kami sebutkan sebagiannya.[7]

  1. C.    Kitab hadis musykil dan mukhtalif

Berikut ini adalah beberapa kitab penting yang bisa dijadikan rujukan untuk mengetahui hadis-hadis yang musykil dan mukhtalif serta cara menjelaskan atau mentakwilkannya. Diantaranya adalah :

  1. Kitab Ikhtilaf al-hadis karangan Imam al-Syafi’i

Merupakan kitab yang pertama kali ditulis dalam bidang ini, yang di dalamnya beliau menyebutkan nash-nash yang saling bertentangan secara lahir, kemudian menghilangkan pertentangan itu baik dengan taufiqi (sinkronisasi), ataupun menyebutkan dalil yang nasikh dan mansukh jika ada dalil yang menguatkan hal tersebut, atau tarjih (memilih salah satu dari dua hadis yang bertentangan berdasarkan derajat kesahihannya).

Sesuai dengan judulnya, kitab ini hanya memuat pertentangan antara hadis-hadis dan bukan pertentangan hadis dengan dalil yang lain. Juga hanya membahas hadis dalam bidang fikih dan bukan bidang akidah.

  1. Kitab Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits karya Ibnu Qutaibah

Di dalam buku ini secara umum isinya memuat tentang hadis-hadis yang dianggap bertentangan dengan hadis lain. Hadis-hadis yang dianggap bertentangan dengan Al Qur’an. Hadis-hadis yang dianggap bertentangan dengan akal. Hadis-hadis yang dianggap bertentangan dengan Ijma dan hadis-hadis yang dianggap bertentangan dengan Qiyas.

Diantara kritik para ulama kepada Ibnu Qutaibah adalah bahwa terkadang beliau menyebutkan hadis dhaif tanpa menyebutkan sanadnya, kemudian berusaha mentakwilkan kemusykilannya. Tentunya lebih baik menyebtukan kedhaifan hadis tersebut daripada berusaha menjelaskan dan mentakwilkannya, karena salah satu syarat hadits musykil adalah baha ia merupakan hadis yang shahih.

  1. Kitab Musykil al-Atsar karya Ath-Thohawi

Merupakan kitab terlengkap dalam bidang ini, dan mengandung banyak hadis musykil dalam berbagai bidang seperti akidah, fikih, qiraat, akhlak dan lain-lain. Diantara kelebihan yang lain adalah bahwa beliau menyebutkan hadis dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya dan illat-illat yang mungkin terdapat di dalamnya seperti inqitho‘, irsal dan lain-lain.

  1. Kitab Kasyf al-Musykil Min hadits ash-Shohihain karya Ibnu al-Jauzi

Kitab ini khusus membahas hadis-hadis musykil yang ada dalam Sahih Bukhari dan Shahih Muslim, dengan mengikuti urutan yang dibuat oleh al-Humaidi dalam bukunya Mukhtashar Ash-Shohihain. Diantara kelebihannya adalah kemampuan beliau dalam menjelaskan kata-kata sulit (gharib al-hadis) dan menyebutkan hukum yang terkandung dalam hadis berdasarkan pendapat para ulama sebelum beliau, dan juga pendapat yang beliau pilih dengan dalil-dalil yang lengkap.

  1. D.    Beberapa Contoh Hadis Yang Mukhtalif dan Musykil

Berikut pemakalah paparkan beberapa contoh hadis musykil dan mukhtalif. Contoh hadis musykil yang bertentangan dengan akal:[8] (sesungguhnya Musa as menampar mata Malaikat Maut, maka menyebabkan dia buta sebelah). Para musuh Islam melemparkan tuduhan: “jika Malaikat itu bisa buta sebelah, maka dia bisa buta total. Dengan begitu, mungkin Isa bin Maryam telah menampar yang sebelahnya lagi. Sebab dia juga benci untuk mati”.

Ibnu Qutaibah menjelaskan: “sesungguhnya hadis ini hasan. Dan ada dasarnya dalam kitab-kitab klasik. Hadis ini bisa diinterpretasikan dengan baik. Para malaikat itu hamba Allah yang berbentuk ruhany. Yaitu nisbat kepada ruh. Mereka seperti ruh yang tidak berfisik seperti mereka. Mereka bisa mempunyai mata, tapi tidak seperti kita. Kita tidak tahu bagaimana substansi mereka yang diciptakan oleh Allah swt. Pengetahuan kita hanya terbatas pada sifat-sifat yang dituturkan Allah dan rasul-Nya. Orang-orang Arab menyebut malaikat sebagai jin. Sebagaimana penuturan al-A’sya dalam baitnya: “Sulaiman menundukkan sembilan dari jin Malaikat. Mereka berdiri di sampingnya untuk bekerja tanpa upah”. Jadi semuanya tetap mungkin, tapi sifatnya tidak berfisik seperti kita.

Misalnya dalam kitab ini disebutkan, “Pemfitnah itu mengatakan, “Ada dua hadis yang bertentangan mengenai permasalahan air. Kalian meriwayatkan hadis (air tidak bisa dinajiskan sesuatu), kemudian kalian juga meriwayatkan (jika air sudah mencapai dua kulah, maka tidak bisa terkena najis). Ini menunjukkan bahwa air yang kulah dua kulah bisa terkena najis. Hal ini berbeda dengan konsekuensi arti hadis pertama”.

Ibnu Qutaibah menjawab, “Hadis ini tidak bertentangan. Nabi saw bersabda (Air tidak bisa dinajiskan sesuatu) berdasarkan kebiasaan dan adatnya. Sebab, biasanya air yang ada dalam sumur itu banyak. Kemudian diekspresikan secara khusus. Seperti halnya seseorang yang berkata, “banjir itu tidak tertahankan sesuatu”. Padahal kenyataannya tembok juga bertahan. Maka maksudnya adalah banjir bah yang besar. Begitu juga ucapan “Api tidak berharga”, maksudnya api yang membakar dan membuat madharat. Bukan api pelita atau bahan bakar. Kemudian beliau menjelaskan seberapa kadar air yang bisa menahan najis.”[9]

Kitab lain yang membicarakan ilmu ini adalah (Musykilul Atsar) karya Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi (239-321 H). Kitabnya sebanyak empat jilid cetakan India tahun 1333 H.

Kitab (Musykilul Hadis Wa Bayanuhu) karya Imam Muhammad bin Hasan (Ibnu Faurak) Al-Anshari Al-Ashbihani (w. 406 H). Karya ini membicarakan tentang hadis yang tampaknya mendukung konsep tajsim (menganggap Allah swt adalah jisim) dan tasybih (menyerupakan Dzat Allah swt). Beliau membantah tuduhan-tuduhan itu dengan argumentasi secara rasional (‘aqliyyah) dan data-data lengkap (naqliyyah). Cetakan pada tahun 1362 H di India.

 

  1. E.     Sebab–Sebab Hadist Mukhtalif
    1. Faktor Internal Hadist (Al ‘Amil Al Dakhily)

Yaitu berkaitan dengan internal dari redaksi hadist tersebut. Biasanya terdapat ‘illat (cacat) didalam hadist tersebut yang nantinya kedudukan hadist tersebut menjadi Dha’if. Dan secara otomatis hadist tersebut ditolak ketika hadist tersebut berlawanan dengan hadist shohih.

  1. Faktor Eksternal (al’ Amil al Kharijy)

Yaitu faktor yang disebabkan oleh konteks penyampaian dari Nabi, yang mana menjadi ruang lingkup dalam hal ini adalah waktu, dan tempat dimana Nabi menyampaikan hadistnya.

  1. Faktor Metodologi (al Budu’ al Manhajy)

Yakni berkitan dengan cara bagaimana cara dan proses seseorang memahami hadist tersebut. Ada sebagian dari hadist yang dipahami secara tekstualis dan belum secara kontekstual yaitu dengan kadar keilmuan dan kecenderungan yang dimiliki oleh seorang yang memahami hadist, sehingga memunculkn hadist-hadist yang mukhtalif.

  1. Faktor Ideologi

Yakni berkaitan dengan ideology suatu madzhab dalam memahami suatu hadist, sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan dengan berbagai aliran yang sedang berkembang.[10]

  1. F.      Metode Penyelesaian Mukhtaliful Hadis
    1. Metode al-Jam’u Wa al-Taufiq

Metode ini dinilai lebih baik daripada melakukan tarjih ( mengumpulkan salah satu dari dua hadits yang tampak bertentangan ). Metode al-jam’u wa al-taufiq ini tidak berlaku bagi hadis – hadis dlaif ( lemah ) yang bertentangan dengan hadis – hadis yang shahih.

Contoh aplikasi dari metode al-jam’u wa taufiq adalah hadis tentang cara wudlu Rasulullah Saw. Hadis pertama menyatakan bahwa Rasulullah Saw.berwudhu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali, sebagaimana tampak dalam hadits berikut ini:

حدثنا الربيع قال : اخبرنا الشافعي , قال : اخبرنا عبد العزيز بن محمد , عن زيد بن اسلم , عن عطاء بن يسار, عن ابن عباس, ان رسول الله ص م وضأ وجهه و يديه , و مسح برأسه مرة مرة.

Artinya:

Rabbi’ telah bercerita kepada kami, dia berkata: imam Al-Syafi’i memberi kabar kepada kami, Ia berkata: Abdul Azizi ibn Muhammad telah memberi kabar kepada kami dari Zaid ibnu Aslam dari Atho ibn Yasar dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW berwudhu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali-satu kali. H.R. Al-Syafi’i

Sementara dalam riwayat lain dinyatakan bahwa Nabi Saw berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala tiga kali, sebagaimana terlihat dalam hadits berikut ini:

اخبرنا الشافعي , قال : اخبرنا سفيان بن عيينه , عن هشام بن عروة عن ابيه, عن حمران مولى عثمان بن عفان, ان النبي ص م توضأ ثلاثا ثلاثا .

Artinya:

Imam Al-Syafi’i telah memberi kabar kepada kami, dia berkata Sufyan ibnu ‘Uyainah telah memberi kabar kepada kami, dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Hamran maulana “Utsman ibnu ‘Affan bahwa Nabi Saw berwudhu dengan mengulangi tiga kali(dalam membasuh dan mengusap). (HR Al-Syafi’i).

Kedua Riwayat tersebut tampak bertentangan namun keduanya sama-sama sahih dan akhirnya diselesaikan dengan metode al Jam’u wa Al Taufiq dengan komentar imam Syafi’I dalam kitab Ikhtilaful Hadist :

قال الشافعي : ولا يقال لشيء من هذه الاحاديث : مختلف مطلقا ولكن يقال: اقل ما يجزي من الوضوء مرة, واكمل ما يكو ن من الوضؤ ثلاثا.

Dengan terjemahan bebasnya adalah Imam Syafi’I berkata : “ hadist-hadist itu tidaj bias dikatakan sebagai hadist yang benar – benar kontradiktif. Akan tetapi bias dikatakan bahwa berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali, sudah mencukupi, sedangkan yang lebih sempurna dalam berwudhu adalah mengulanginya tiga kali (dalam hal membasuh wajah dan mengusap Tangan serta mengusap kepala).

  1. Metode Tarjih

Metode ini dilakukan setelah upaya kompromi tidak memungkinkan lagi. Maka seorang peneliti perlu memilih dan mengunggulkan mana diantara Hadits-hadits yang tampak bertentangan yang kualitasnya lebih baik. Sehingga hadits yang lebih berkualitas itulah yang dijadikan dalil.

Harus diakui bahwa ada beberapa matan Hadits yang saling bertentangan. Bahkan ada juga yang benar-benar bertentangan dengan Al-Quran. Antara lain adalah Hadits tentang nasib bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan berada di neraka. Sebagai contoh adalah Hadits berkut ini:

الوائدة والموؤودة في النار

Artinya:

Perempuan yang mengubur bayi hidup-hidup dan bayinya akan masuk neraka. (HR Abu Dawud)

Hadist tersebut diriwayatkan oleh imam Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud dan Ibn Abi Hatim. Konteks munculnya hadist tersebut (Sabab Wurudnya) adalah bahwa Salamah Ibn Yazid al Ju’fi pergi bersama saudaranya menghadap Rasulullah SAW. Seraya bertanya : “ wahai Rasul sesungguhnya saya percaya Malikah itu dulu orang yang suka menyambung silaturrahmi, memuliakan tamu, tapi ia meninggal dalam keadaan Jahiliyah. Apakah amal kebaikannya itu bermanfaat baginya? Nabi menjawab : tidak. Kami berkata : dulu ia pernah mengubur saudaranya perempuanku hidup-hidup di zaman Jaihliyah. Apakah amal akan kebaikannya bermanfaat baginya? Nabi menjawab : orang yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup dan anak yang dikuburnya berada dineraka, kecuali jika perempuan yang menguburnya itu masuk Islam, lalu Allah memaafkannya. Demikian hadist yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Al Nasa’i, dan dinilai sebagai hadis hasan secara sanad oleh imam Ibnu Katsir.[11]

Hadist tersebut dinilai Musykil dari sisi matan dan Mukhtalif dengan Al Quran surat al Takwir :

Artinya ; dan apabila bayi – bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.

Kalau seorang perempuan yang mengubur bayinya itu masuk keneraka dapat diaktakan logis, tetapi ketika sang bayi yang tidak tahu apa-apa itu juga masuk keneraka, masih perlu adanya tinjauan ulang. Maka dari itu, hadist tersebut harus ditolak meskipun sanadnya Hasan, dan juga karena adanya pertentangan dengan hadist lain yang lebih kuat nilainya, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nabi pernah ditanya oleh paman Khansa’, anak perempuan al Sharimiyyah, : Ya Rasul, siapa yang akan masuk surga? Beliau menjawab: Nabi Muhammad SAW akan masuk surga, orang yang mati Syahid juga akan masuk surga, anak kecil juga akan masuk surga, anak perempuan yang dikubur hidup-hidup juga akan masuk surga. (HR. Ahmad.)

  1. Metode Nasikh Mansukh

Jika ternyata hadis tersebut tidak mungkin ditarjih, maka para ulama menempuh metode naskh-mansukh ( pembatalan ). Maka akan dicari makna hadis yang lebih datang dulu dan makna hadis yang datang belakangan. Otomatis yang datang lebih awal dinaskh dengan yang datang belakangan.

Secara bahasa naskh bisa berarti menghilangkan ( al – izalah ), bisa pula berarti al- naql ( memindahkan ). Sedangkan secara istilah naskh berarti penghapusan yang dilakukan oleh syari’ ( pembuat syriat; yakni Allah dan Rasulullah ) terhadap ketentuan hukum syariat yang datang lebih dahulu dengan dalil syar’i yang datang belakangan. Dengan definisi tersebut, berarti bahwa hadits-hadits yang sifatya hanya sebagai penjelasnya ( bayan ) dari hadits yang bersifat global atau hadits-hadits yang memberikan ketentuan khusus ( takhsish ) dari hal-hal yang sifatnya umum, tidak dapat dikatakan sebagai hadits nasikh ( yang menghapus ).

Namun perlu diingat bahwa proses naskh dalam hadits hanya terjadi disaat nabi Muhammad Saw masih hidup. Sebab yang berhak menghapus ketentuan hukum syara’, sesungguhnya hanyalah syari’, yakni Allah dan Rasulullah. Naskh hanya terjadi ketika pembentukan syari’at sedang berproses. Artinya, tidak akan terjadi setelah ada ketentuan hukum yang tetap (ba’da istiqroril hukmi).

Salah satu contoh dua hadis yang saling bertentangan dan bisa diselesaikan dengan metode naskh-mansukh adalah hadist tentang hukum makan daging kuda:

أَخْبَرَنَا كَثِيرُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ صَالِحِ بْنِ يَحْيَى بْنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْخَيْلِ وَالْبِغَالِ وَالْحَمِيرِ وَكُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَنَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَطْعَمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لُحُومَ الْخَيْلِ وَنَهَانَا عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ.

Dua Hadîts di atas terlihat saling bertantangan, Hadîts pertama bersisi tentang larangan makan daging kuda yang sekaligus menjadikan ia haram. Hadîts kedua menunjukkan kebolahan memakan daging kuda. Pertenatangan ini mesti dihilangkan dengan cara nasakh. Hukum keharaman makan daging kuda pada Hadîts pertama telah di-nasakh-kan oleh hukum kobolehan makan daging kuda pada Hadîts Jâbir Ibn Abdallah yang datang setelahnya.[12]

  1. Metode Ta’wil

Metode ini bisa menjadi salah satu alternative baru dalam menyelesaikan hadis-hadis yang bertentangan. Sebagai contoh hadis tentang lalat. Hadis tersebut dinilai kontradiktif dengan akal dan teori kesehatan. Sebab lalat merupakan serangga yang sangat berbahaya dan bisa menyebarkan penyakit. Lalu bagaimana mungkin Nabi Saw. Menyuruh supaya menenggelamkan lalat yang hinggap diminuman? Demikian kurang lebih keraguan dan penolakan Taufik Sidqi terhadap kebenaran hadis tentang lalat sebagaimana dikutip G.H.A. Juynboll.[13]Hadis tersebut :

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُتْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ بْنُ حُنَيْنٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً

Artinya:

Khalid Ibn Makhlad bercerita kepada kami, Sulaiman ibn Bilal bercerita kepada kami, dia berkata: Uthbah ibn Muslim telah bercerita kepadaku, dia berkata, Ubaidah ibn Hunain berkata: saya mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw. Bersabda: apabila ada lalat jatuh dalam minuman salah seorang kalian, maka hendaklah ia membenamkannya sekalian, lalau buanglah lalat tersebut. Sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, sedang pada sayap yang lain terdapat penawar (obat). (HR Al-Bukhori).

Selintas hadist tersebut memang tidak masuk akal dan kontradiksi dengan teori kesehatan. Namun ternyata penelitian dari sejumlah peneliti Muslim di Mesir dan Saudi Arabia terhadap masalah ini, justru membuktikan lain. Mereka membuat minuman yang dimasukkan kedalam beberapa bejana yang terdiri dari air, madu dan juice, kemudian dibiarkan terbuka agar dimasuki lalat. Setelah lalat masuk kedalam beberapa minuman tersebut, mereka melakukan komparasi penelitian, antara minuman yang kedalamnya dibenamkan lalat dan tidak dibenamkan. Ternyata melalui pengamatan mikroskop diperoleh hasil bahwa minuman yang dihinggapi lalat dan yang tidak dibenamkan dipenuhi dengan banyak kuman dan mikroba, sementara minuman yang dihinggapi lalat justru tidak dijumpai sedikitpun minuman dan mikroba. Ini adalah sebuah penelitian ilmiah dan semakin membuktikan kebenaran hadist tersebut secara ilmiah meskipun pada awalnya dari dhohir hadist kelihatan mempunyai pertentangan dengan ilmu kesehatan.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Dari berbagai pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwasannya dari berbagai macam keadaan hadist yang mana notabenenya sebagai sumber Islam yang kedua setelah Al Quran masih dibutuhkan berbgai literature keilmuan dalam memahaminya. Dan dalam perjalanannya dikemudian hari sudah barang tentu akan terus mengalami proses perkembangan dalam memahai sebuah teks hadist. Hal ini dapat terjadi karena selama ini dalam ruang lingkup proses pemahaman hadist juga sudah mengalami perkembangan dari zaman ketika Islam belum mengenal teori hermeneutic sampai pada saat sekarang ini teori tersebut mulai dikembangkan dalam dunia pemahaman sumber Islam. Dan juga tidak kalah pentingnya bahwa dalam memahami hadist juga masih harus mempertimbangkan dari teori-teori ulama terdahulu agar kompromi keilmuan ulama dahulu dan sekarang masih tetap terjallin dengan baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Muhammad Ajjaj Al-Khathib, Ushul al-Hadits: Pokok-pokok Ilmu Hadis, diterjemahkan oleh M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafik dari Ushul al-Hadits. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998, Cet. ke-1.

Al-Qaththan, Syaikh Manna’. Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.2005.

Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadist, Yogyakarta : Idea Press, 2008.

As-Sakhowy, Muhammad bin Abdirrahman. 1403. Fathul Mughis. Darul Kutub al-Ilmiyyah: Baerut Lebanon. Maktabah: Syamilah.

Ad-Dainury, Abdullah bin Muslim bin Qutaibah. 1995. Takwilu Mukhtalifil Hadis. Darul Fikr: Baerut Lebanon.

Ibnu Qutaibah. Takwilu Mukhtalifil Hadis. Maktabah: Syamilah. Juz. 01.

Shalahuddin Ibn Ahmad al Adhlabi, Manhaj Naqd al Matan ‘inda Ulama al Hadist al Nabaw.i (Beirut : Dar al fikr al jadidah 1983).

http://insansejati.com/ilmu-hadits/19-mukhtaliful-hadits.html http://faizinlathif.wordpress.com/2009/04/27/metode-pemahaman-hadits-mukhtalif


[1] http://insansejati.com/ilmu-hadits/19-mukhtaliful-hadits.html

[2] Muhammad Ajjaj Al-Khathib, Ushul al-Hadits: Pokok-pokok Ilmu Hadis, diterjemahkan oleh M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafik dari Ushul al-Hadits. (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998) Cet. ke-1, 254

[3]Al-Qaththan, Syaikh Manna’. Pengantar Ilmu Hadits.(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.2005),103

[4] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadist (Yogyakarta : Idea Press, 2008).

[5] As-Sakhowy, Muhammad bin Abdirrahman. 1403. Fathul Mughis. Darul Kutub al-Ilmiyyah: Baerut Lebanon. Maktabah: Syamilah.

[6] Ibid., 89

[7] Ibid., 41

[8] Ad-Dainury, Abdullah bin Muslim bin Qutaibah. 1995. Takwilu Mukhtalifil Hadis. Darul Fikr: Baerut Lebanon.

[9]Ibnu Qutaibah. Takwilu Mukhtalifil Hadis. Maktabah: Syamilah. Juz. 01. hlm. 336

[10] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadist (Yogyakarta : Idea Press, 2008),87

[11] Shalahuddin Ibn Ahmad al Adhlabi, Manhaj Naqd al Matan ‘inda Ulama al Hadist al Nabaw.i (Beirut : Dar al fikr al jadidah 1983),115.

[13] G.H.A Juynboll, The Authenticity of the Tradition Literature;discussion in Modern Egypt( Ladien E.J Brill, 1969)hal. 141-142 dikutip dari Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadist (Yogyakarta : Idea Press, 2008).hal. 100-101.

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: