RSS Feed

KUALIFIKASI INTELEKTUAL MUFASSIR

Posted on

 

Aku

calon wong sukses dunia akherat

PENNDAHULUAN

 

 

  1. LATAR BELAKANG

Al-Quran merupakan kitab suci terakhir agama samawi yang berfungsi sebagai penutup, pelengkap, dan sekaligus korektor terhadap kitab-kitab suci yang dibawa oleh para rasul sebelum Nabi Muhammad (570-632 M) terutama taurat dan injil.

Sebagai penutup, maka tidak mungkin ada kitab suci lagi setelahnya sebagaimana tidak mungkin ada rasul dan nabi setelah Muhammad Saw. Sebagai pelengkap, ia membawa beberapa syariah dan informasi baru yang tidak termuat dalam kitab-kitab suci sebelumnya. Sebagai korektor, ia mengungkap serta mengoreksi penyimpangan dan kesalahan yang dilakukan umat-umat terdahulu terhadap kitab-kitab suci mereka. Oleh karena itu, al-Quran mengandung banyak hal yang secara tidak langsung dibutuhkan banyak orang. Maka dari itu untuk menjadi mufassir ada beberapa kualifikasinya, karena memang itulah syarat mutlak bagi yang ingin menafsiri kalam Allah tersebut.

  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana syarat utama menjadi mufassir? Jelaskan
  2. Bagaimana analisis terhadap materi?

 

  1. TUJUAN MASALAH
  1. 1.      Memahami persyaratan utama mufassir.
  2. 2.      Mendalami materi secara lebih dalam.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.                                                Persyaratan Utama Mufassir

Sebagaimana yang diketahui bahwa persyaratan utama mufassir adalah menguasai keilmuan bahasa Arab dengan segala cabangnya. Ada pun ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya sebagai berikut :

a)                                                                         Mufrodat (Kosa Kata)

Pada cabang pertama ini, sebagaimana yang diketahui bahwa dalam Alquran terdapat banyak kata yang memiliki pengertian lebih dari satu. Bahkan, Alquran memiliki kata-kata yang memiliki berbagai konotasi. Lalu, dalam Alquran terdapat kata Ummat yang terulang sebanyak 49 kali. Kata tersebut dapat berkonotasi sebagi orang banyak (Jamaah), ajaran atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat (Al Thari<qat Al Maslu<kat Fi Al Di<n), juga dapat dipahami sebagai seseorang yang memiliki berbagai sifat keutamaan (Al Rajul Al Ja<mi’ Li Shifa<t Al Khayr).[1] Kemudian, perihal kosa kata tersebut terdapat dalam firman Allah sebagai berikut :

بل قالوا إنا وجدنا ءاباءنا على أمة وإنا على ءاثرهم مهتدون[2]

Bahkan Mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapati petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.”[3]

Berdasarkan ayat di atas diketahui bahwa kata Ummat dalam ayat ini bukan berkonotasi sebagai kumpulan orang banyak atau Jamaah. Akan tetapi, kata tersebut berkonotasi sebagai ajaran atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat (Al Thari<qat Al Maslu<kat Fi Al Di<n). Apabila kata Ummat diartikan sebagai kumpulan orang banyak atau Jamaah, maka akan menimbulkan kerancuan dalam memahami ayat di atas. Sehingga, walaupun banyak terdapat kata yang sama bunyi dan tulisan, akan tetapi konteks ayat haruslah diperthatikan agar tidak terjadi kerancuan dalam memahami ayat.[4]

 

b)                                                                         Ilmu Nahwu (Sintaksis)

Selanjutnya, keberadaan ilmu nahwu amatlah penting dikarenakan ilmu ini merupakan cabang ilmu bahasa Arab yang menitikberatkan pembahasannya pada masalah susunan kalimat beserta perubahan harakat atau huruf yang terdapat di akhir kata baik kata yang termasuk dalam menerima perubahan atau Mu’rab maupun kata yang tidak menerima perubahan atau Mabni<.[5] Lalu, perihal ilmu nahwu terdapat firman Allah sebagai berikut :

إياك نعبد وإياك نستعين[6]

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.[7]

Pada ayat di atas terdapat dua kali pengulangan kata yakni Iyya<ka yang berarti hanya kepada-Mu. Lalu, adanya pengulangan kata tersebut dikarenakan oleh fungsinya sebagai objek dari Na’budu dan Nasta’i<n. Sehingga, pengertian dari ayat ini adalah “Hanya kepada-Mu kami kan menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Akan tetapi, jika kata Iyya<ka ditempatkan sesudah kedua kata yakni Na’budu dan Nasta’i<n, maka penekanan makna tidak terasa. Sehingga, makna dari ayat tersebut adalah “Kami menyembah-Mu dan mohon pertolongan kepada-Mu”.[8]

c)                                                                         Ilmu Saraf (Morfologi)

Salah satu cabang ilmu bahasa arab yang membahas mengenai bentuk kata beserta pembinaannya seperti Idgha>m, Ibda>l, Tasri>f (perubahan kata), dan sebagainya. Ada pun makna Idgha>m adalah memasukkan huruf yang pertama kedalam huruf kedua seperti مدد (Madada) menjadi مد (Madda). Sedangkan, Ibda>l adalah mengganti huruf illat seperti ا, و, ي dalam suatu kata dengan huruf illat lain sebagai contoh دعو (Da’awa) menjadi دعا (Da’a>).[9]

Kemudian, penguasaan terhadap ilmu saraf sangat vital bagi mufassir. Hal ini dikarenakan agar tidak terjadi penyimpangan khususnya dalam memahami kata dalam Alquran. Ada pun mengenai hal ini terdapat firman Allah sebagai berikut :

يوم ندعوا كل أناس بإمامهم فمن أوتي كتبه بيمينه فأ لئك يقرعون كتبهم ولا يظلمون فتيلا[10]

(Ingatlah), pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya ; dan barangsiapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun.[11]

Pada ayat di atas, terdapat kata Ima>m. Ada pun kata tersebut biasa diartikan sebagai pemimpin.[12] Lalu, Al Zamakhsyari menjelaskan bahwa kata ini berarti sesuatu yang dijadikan sebagai pemimpina oleh orang yang bersangkutan seperti Nabi, kitab, atau pemimpin agama. Pada masalah ini, Al Maraghi berpendapat bahwa kata tersebut berarti kitab catatan amal bagi manusia selama hidup di dunia. Al Maraghi menyandarkan pendapatnya pada firman Allah sebagai berikut :

انا نحن نحي الموتى ونكتب ما قدموا وأثارهم وكل شيء أحصينه في إمام مبين[13]

Sungguh, Kami-lah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami-lah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).[14]

 

Apabila melihat keterangan di atas dapat diketahui bahwa pendapat Al Zamakhsyari maupun Al Maraghi tidak mengatakan bahwa kata Ima>m merupakan jamak dari Umm yang berarti Ibu. Lalu, terdapat pendapat yang mengatakan bahwa kata Ima>m merupakan bentuk jamak dari Umm yang berarti ibu karena pada hari kiamat setiap orang dipanggil berdasarkan nama ibunya serta untuk menghormati Nabi Isa juga kemulian cucu Rasulullah saw yakni Hasan dan Husain, serta tidak mempermalukan anak zina. Lalu, kalau ditelusuri kembali kata Umm jamaknya adalah Ummaha>t. Sedangkan, kata Ima>m jamaknya dalah Aimmah. Sehingga, adanya penyimpangan makna tersebut disebabkan karena ketidakpahaman akan ilmu Saraf juga adanya unsur ideologi kelompok tertentu yang menafsirkan sedemikian rupa guna mendukung ideologi kelompok yang dianut.[15]

d)                                                                        Ilmu Isytiqaq (Etimologi)

Ilmu ini merupakan cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajrai mengenai asal-usul kata beserta perubahan-perubahan bentuk dan makna. Jika melihat dalam Al Quran, terdapat banyak kata-kata yang sama secara penulisan juga secara bacaan. Akan tetapi, bila ditelusuri kembali, maka kata-kta yang mirip tersebut memiliki asal-usul dan berimbas kepada perbedaan makna. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah sebagai berikut :

واتقون يأولي الألباب[16]

واستبقا الباب وقدت قميصه من دبر وألفيا سيدها لد الباب[17]

Pada ayat di atas terdapat kata الباب (Alba<b). Sebagaimana yang diketahu di atas terdapat bahwa banyak terdapat kata yang sama secara bacaan dan penulisan, tetapi berbeda secara asalu-usul dan makna. Jika melihat pada ayat pertama, kata الباب (Alba<b) berarti pintu dan bentuk jamaknya adalah أبواب (Abwa>b). Sedangkan, pada ayat kedua kata الباب (Alba<b) merupakan bentuk jamak dari kata لب (Lubb) yang berarti akal. Sehingga, dengan adanya penguasaan terhadap ilmu ini menjadikan mufassir semakin matang dalam mengamati bentuk kata dalam Alquran.[18]

e)                                                                         Ilmu Balaghah (Kesusastraan)

Pada cabang keilmuan ini, para mufassir perlu untuk menguasai ilmu ini disebabkan oleh gaya bahasa Alquran yang menkjubkan serta penggunaan gaya sastra yang tinggi. Selanjutnya, maksud dari balaghah adalah mengungkapkan makna yang besar dengan menggunakan ungkapan yang benar dan fasih yang memiliki pengaruh indah dalam jiwa, lalu setiap kalimatnya relevan dengan tempat diucapkannya ungkapan itu dan cocok untuk setiap orang yang diajak bicara.[19] Pada ilmu ini terdapat tiga fokus pembahasa. Apabila membahas mengenai makna yang dikandung oleh kalimat yang disampaikan disebut ilmu Ma’a>ni>. Lalu, apabila pembahasan ditujukan kepada penyampaian suatu maksud dengan menggunakan berbagai pola kalimat yang berfariasi, maka disebut ilmu Baya>n. Sedangkan, bila pembahasan difokuskan kepada kaidah yang berkaitan dengan cara menyusun gaya bahasa yang memiliki nilai estetika yang tinggi, maka disebut ilmu Badi>’.[20]

  1. ILMU MUAHIBBAH

Kata Mawhibah dalam bahasa Arab berarti perolehan. Apabila ditinjau dari segi bahasa, kata ini berarti pengetahuan atau pemberian dari Allah swt.  Menurut Al Suyuthi, maksud dari ilmu Mawhibah adalah ilmu yang diwariskan Allah kepada orang-orang yang mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Ada pun ilmu tersebut diperoleh dari hasil kerja keras dalam beribadah kepada Allah. Lalu, dalam hal ini Allah berfirman sebagai berikut :

والذين جهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين[21]

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.[22]

Berdasarkan ayat di atas, diketahui bahwa ilmu ini ditujukan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari keridaan Allah swt. Ilmu ini sangat penting untuk memahami ilmu Allah swt yang dapat dicapai dengan jalan mendekatka diri kepada-Nya atau Taqarrub ila Allah. Lalu, Allah pun akan memberikan petunjuknya kepada mereka yang bersungguh-sungguh serta tidak sombong. Ada pun maksud sombong disini adalah tidak percaya kepada ayat-ayat Allah, mengetahui jalan benar tetapi menyimpang dari jalan tersebut, dan tidak mempercayai akhirat.[23]

Ilmu Mauhibah menjadi salah satu pra syarat yang musti dimiliki seorang mufassir khususnya bi al-Ra’yi’ jika penafsirannya ingin diterima dan diakui. Dalam ulasan dan komentarnya al-Suyuty menunjukkan bahwa Ilmu Mauhibah memiliki posisi yang vital dalam penafsiran.

Ilmu Mauhibah, menurutnya, merupakan ilmu yang berfungsi sebagai pembuka makna-makna al-Qur’an dan rahasia-rahasianya. Tanpa ini, al-Qur’an tidak akan menunjukkan makna sesungguhnya dari ayat-ayat-Nya berikut rahasia-rahasianya. Dalam keterangan yang lebih lanjut bahkan, sebagaimana yang dikutip pula oleh ahli-ahli Ulumul Qur’an seperti al-Zarqa’ni, tidak adanya Ilmu Mauhibah pada diri seseorang menjadikan ia terhalang dan terbelokkan dari makna yang sesungguhnya. Para ilmuwan Ulumul Qur’an menyandarkan pendapatnya pada Q.S. al-A‘ra’f 7: 146.

Sebagai tambahan, Musa Asy’ari membahas definisi yang senada dengan konsep di atas. Ilmu Mauhibah (dalam paparannya disebut ladunni’ atau h}ud}u’ri’) adalah ilmu yang proses perolehannya melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya Ilahi dalam qalb. Dengan hadirnya cahaya Ilahi itu semua pintu ilmu terbuka menerangi kebenaran, terbaca dengan jelas, dan terserap dalam kesadaran intelek, seakan-akan orang tersebut memperoleh ilmu dari Tuhan secara langsung. Di sini Tuhan bertindak sebagai pengajarnya. Kemungkinan proses pencerahan ini didasarkan pada Q.S. al-Baqarah 2: 31 dan Q.S. al-‘Alaq 96: 3-5.[24]

  1. ILMU QIRAAT (MEMBACA ALQURAN)

Secara etimologi, lafal qira’at ( قراءة ) merupakan bentuk masdar dari ( قرأ ) yang artinya bacaan. Sedangkan menurut terminologi, terdapat berbagai pendapat para ulama yang sehubungan dengan pengertian qira’at ini.
Menurut Al-Dimyathi sebagaimana dikutip oleh Dr. Abdul Hadi al-Fadli bahwasanya qira’at adalah: “Suatu ilmu untuk mengetahui cara pengucapan lafal-lafal al-Qur’an, baik yang disepakati maupun yang diikhtilapkan oleh para ahli qira’at,

Sedangkan menurut Imam Shihabuddin al-Qushthal, qira’at adalah “Suatu ilmu untuk mengetahui kesepakatan serta perbedaan para ahli qira’at, seperti yang menyangkut aspek kebahasaan, i’rab, isbat, fashl dan lain-lain yang diperoleh dengan cara periwayatan.”

Jadi bisa disimpulkan bahwa ilmu qiraat merupakan salah satu ilmu yang penting bagi mufassir karena harus menguasai berbagai jenis qiraat atau bacaan.

  1. ILMU USHULUDDIN

 

Ilmu Ushuludin adalah ilmu yang membahas pokok-pokok (dasar) agama, yaitu akidah, tauhid dan Itikad (keyakinan) tentang rukun Iman yang enam :

1) beriman kepada Allah,

2) Al-Quran dan kitab-kitab suci samawi,

3) Nabi Muhammad dan para Rasul,

4) para Malaikat,

5) perkara ghaib (alam kubur, alam akhirat, mashar, mizan, sirot, surga-neraka),

6 ) Takdir baik dan buruk.

Sebutan lain bagi Ilmu Ushuludin adalah ilmu Theologi (ketuhanan), karena membahas tentang ke tauhid-an (ke-Esa an) Allah, sifat dan asma (nama) Allah. Sebutan lain yang lebih populer adalah Ilmu Kalam, karena bahasan yang sedang ramai dibahas pada saat lahirnya ilmu kalam adalah masalah kalam (firman Allah) disamping itu pembahasan ilmu ini menggunakan metode ilmu mantiq (logika) sedangkan kata mantiq secara etimologi bahasa sinonim dengan kalam.

 

  1. USHUL FIQH

lmu ushul fiqh adalah salah satu ilmu terpenting di dalam mempelajari ilmu agama.

Ushul fiqh didefiniskan:

 Ditinjau dari definisi kata penyusunnya,yakni kata “ushul” dan kata “fiqh“. Ushul الأصول jamak dari أصل (ashlun) yaitu perkara yang dibangun di atasnya perkara yang lainnya (atau dasar untuk membangun berbagai hal – ed).

Sebagai contoh, yang dimaksud dengan “ashl dinding”  adalah pondasinya dimana dinding tersebut dibangun di atas pondasi tersebut. Dan yang dimaksud dengan “ashl pohon” adalah batangnya dimana dari batang tersebut bercabanglah dahan-dahan pohon.

seperti dalam Quran Surat Ibrahim ayat 24, Alloh Ta’ala berfirman :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

 

Fiqh

Menurut bahasa berasal dari kata الفهم (paham). Salah satunya tertera di Al Quran Surat Thoha ayat 27-28 :

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي- 27 يَفْقَهُوا قَوْلِي-28

Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku. 

Sedangkan,menurut istilah,yakni

Ma’rifatul ahkamisy syar’iyatil ‘amaliyah bi-adillatihat tafshiliyah Pengetahuan terhadap hukum-hukum yang syar’i yang berkaitan dengan ‘amailyah disertai dali-dalilnya yang rinci

  1. ILMU NASIKH MANSUKH

Nasikh secara etimologi yaitu menghapus / mengganti / memindahkan / mengutip. Sedangkan secara terminologi, nasikh berarti menghapus suatu hukum syara’ dengan dalil syara’ yang datang kemudian, dengan catatan kalau sekiranya tidak ada

Mansukh secara etimologi yaitu sesuatu yang diganti. Sedangkan secara terminologi, mansukh berarti hukum syara’ yang menempati posisi awal, yang belum diubah dan belum diganti dengan hukum syara’ yang datang kemudian.[25]

  1. ILMU SAINS DAN TEKNOLOGI   

Pada mulanya, usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan ijtihad masih sangat terbatas dan terikat dengan kaidah bahasa serta arti yang dikandung oleh satu kosakata. Namun sejalan dengan laju perkembangan masyarakat, berkembang dan bertambah besar pula porsi peranan akal atau ijtihad dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an sehingga muncul berbagai kitab atau penafsiran yang beraneka ragam coraknya. Sebagaimana di ungkap oleh Muhammad Arkoun yang dikutip Quraish Shihab (1992: 72) bahwa: “Al-Qur’an memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas.

Dengan demikian, ayat selalu terbuka (untuk interprestasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interprestasi tunggal”. Salah satu dari beberapa corak penafsiran  yang dikenal selama ini adalah corak penafsiran ilmiah sebagai usaha muffasir untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun demikian, berhati-hatilah dalam menafsirkan al-Quran dengan pendekatan sains dan teknologi. Kalaupun ingin, maka penafsiran itu, berdasarkan pendapat Dr. Yusuf al-Qaradhawi, harus melalui tiga tahapan: Pertama, keharusan mengetahui prinsip-prinsip dasar ilmu tersebut. Kedua, perhatian seorang spesialis ilmu pengetahuan pada apa yang tidak menjadi perhatian orang lain. Ketiga, syarat penggunaan perangkat ilmu pengetahuan dalam tafsir: a) Berpegang pada fakta ilmiah bukan hipotesis. b) Menjauhi pemahaman diri dalam memahami nash. c) Menghindari untuk menuduh umat seluruhnya bodoh. (Lihat Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 3).

Ini merupakan syarat-syarat yang cukup ketat. Oleh karena itu, bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan-kemampuan di atas, alangkah lebih baiknya tidak melakukannya. Karena sains, kita ketahui sendiri selalu mengalami perubahan-perubahan, sedangkan al-Quran bersifat konstan. Jika kita menggunakan sains sebagai “pisau bedah” al-Quran, mungkin pada saat itu sang penafsir “benar”, tapi seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, yang “benar” bisa jadi “salah”. Ini berbahaya. Orang yang sudah di doktrin dengan cara seperti ini tentu akan melawan sains, karena merasa bertentangan dengan al-Quran. Atau sebut saja orang yang mengatakan, apa yang dikatakan ilmuwan itu sudah ada dalam al-Quran surat sekian dan ayat sekian. Ini sama saja dengan pemikiran orang yang malas untuk berpikir lebih mendalam lagi.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa syarat bagi seorang mufassir adalah:

  1. Mengetahui bahasa Arab dan kaidah-kaidah bahasa (ilmu tata bahasa, sintaksis, etimologi, dan morfologi), ilmu retorika (ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu Badi’), ilmu ushul fiqh (Khas, ‘Am, Mujmal, dan mufasshal). Tanpa memahami secara mendalam tentang bahasa al-Quran, maka besar kemungkinan bagi seorang mufassir akan melakukan penyimpangan (distorsi) dan kesalahan interpretasi. Jika seseorang tidak dapat memahami makna ayat, kosa kata dan idiom secara literal maka ia akan terjerumus kepada kesalahan dan menyebabkan terjadinya penafsiran yang kontroversial.
  2. Mengetahui pokok-pokok ulum al-Quran, seperti ilmu Qira’at, Ilmu asbabun Nuzl, Ilmu nasikh mansukh, Ilmu Muhkam Mutasyabih, Ilmu makkai madani, Ushul Tafsir, ilmu Qashash al-Quran, ilmu Ijaz al-Quran, ilmu amtsa al-Quran. Tanpa mengetahui kesemuanya itu seorang mufassir tidak akan dapat menjelaskan arti dan maksud ayat dengan baik dan benar.
  3. Mengetahui Ilmu sains dan teknologi untuk bisa bersaing dan menemukan teori-teori baru yang terkandung dalam al-Quran.
  4. Mengetahui hadith-hadith Nabi dan segala macam aspeknya. Karena hadith-hadith itulah yang berperan sebagai penjelas terhadap al-Quran, sebagaimana keterangan surat al-Nahl:44.
  5. Mengetahui hal ihwal manusia dan tabia’t nya, terutama dari orang-orang Arab pada masa turunnya al-Quran, agar mengerti keselerasan hukum-hukum al-Quran yang diturunkan untuk mengatur perbuatan-perbuatan mereka.

 

Sebenarnya syarat-syarat di atas kurang memadai, tetapi minimal sudah sepantasnya ada pada diri penafsir mengingat kandungan Alquran mencakup banyak hal, baik berupa akidah, syari’ah, akhlak, informasi tentang umat terdahulu, dan informasi tentang masa depan.

Penafsir ibarat seorang pejalan kaki pada malam hari yang membutuhkan alat penerang agar sampai di tempat tujuan, dan ilmu-ilmu tersebut adalah alat penuntun mereka dalam berusaha memperoleh penafsiran sebagaimana yang dikehendaki Allah. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa menafsirkan Alquran selain karena tidak memiliki ilmu yang memadai, ada juga yang takut kepada Allah bila menafsirkan tanpa ilmu seperti tokoh sekaliber Abū Bakr al-Ṣiddīq.[26]

 

Adz-Zahabi berpendapat, bahwa jika seorang mufassir tidak terpenuhi pada diri penafsir, tentu saja bisa berdampak sangat fatal sehingga menurunkan kualitas tafsirnya.Dampak bilamana seorang mufassir tidak memahami Ilmu tersebut adalah:[27]

  1. Seorang mufassir akan cenderung fanatik dengan pemikirannya.
  2. Seorang mufassir akan terpengaruh oleh situasi lingkungannya.

 Gambar

BAB III

KESIMPULAN

 

Kaedah keilmuan yang disyaratkan bagi seorang mufassir adalah ilmu Nahwu, Ilmu sharaf, Ilmu Lughah, Ilmu Isytiqaq, Ilmu ma’ani, Ilmu Bayaan, Ilmu Badi’ Ilmu Qira’at, Ilmu Kalam, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Qashas, Ilmu Nasikh mansukh, Ilmu Hadith dan Ilmu Mauhibah, ilmu Science dan Teknologi, ilmu-ilmu humaniora

Menurut Ibn Mandah, “Seseorang tidak bisa menjadi penafsir kecuali telah menguasai ilmu-ilmu ini (yang merupakan perangkat bagi penafsir). Barang siapa menafsirkan tanpa ilmu-ilmu tersebut, maka ia termasuk penafsir dengan pendapat yang dilarang dan jika ia menafsirkan dengan ilmu-ilmu tersebut, maka ia tidak termasuk penafsir dengan pendapat yang dilarang.”

  

DAFTAR PUSTAKA

 

Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Cet 2 (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011),

Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, Cet 8 (Jakarta : PT Hidakarya Agung, 1990),

Ali Al Jarim & Mustofa Amin, Al Bala>ghah Al Wa>dhihah Al Baya<n Wa Al Al Ma’a>ni> Wa Al Badi>’ Li Al Madrasah Al Tsa>nawiyyah (Surabaya : Al Haramain, T.th)

Ahmad Al Hasyimi, Jawa>hir Al Bala>ghah Fi Al Ma’a>ni> Wa Al Baya>n Wa Al Badi>’ (Beirut : Maktabah Al Asriyyah, 1999)

Musa Asy’arie, Filsafat Islam: Sunnah Nabi Dalam Berpikir (Jogjakarta: LESFI, Cet. III ; 2002)

Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, at-Tafsir wa al-Mufassiru>n, (Beirut, Maktabah al-wahbah, 2000)


[1] Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Cet 2 (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), 337

[2] Qs (43) : 22

[3] Alquran dan Terjemahannya, Al Zukhruf : 22

[4] Baidan, Wawasan Baru …, 337

[5] Ibid., 338

[6] Qs (1) : 5

[7] Alquran dan Terjemahannya, Al Fa<tihah : 5

[8] Baidan, Wawasan Baru …, 339

[9] Ibid., 340

[10] Qs (17) : 71

[11] Alquran dan Terjemahannya, Al Isra : 71

[12] Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, Cet 8 (Jakarta : PT Hidakarya Agung, 1990), 48

[13] Qs (36) : 12

[14] Alquran dan Terjemahannya, Ya>si>n : 12

[15] Baidan, Wawasan Baru …, 341-342

[16] Qs (2) : 197

[17] Qs (12) : 25

[18] Baidan, Wawasan Baru …, 343-344

[19] Ali Al Jarim & Mustofa Amin, Al Bala>ghah Al Wa>dhihah Al Baya<n Wa Al Al Ma’a>ni> Wa Al Badi>’ Li Al Madrasah Al Tsa>nawiyyah (Surabaya : Al Haramain, T.th), 8

[20] Ahmad Al Hasyimi, Jawa>hir Al Bala>ghah Fi Al Ma’a>ni> Wa Al Baya>n Wa Al Badi>’ (Beirut : Maktabah Al Asriyyah, 1999), 16

[21] Qs (29) : 69

[22] Alquran dan Terjemahannya, Al ‘Ankabut : 69

[23] Baidan, Wawasan Baru .., 364-365

[24] Musa Asy’arie, Filsafat Islam: Sunnah Nabi Dalam Berpikir (Jogjakarta: LESFI, Cet. III ; 2002), hlm. 72-73.

[25] Tim Penyusun MKD, Studi Al-Qur’an, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2011), hlm. 123

[26] Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, at-Tafsir wa al-Mufassiru>n, (Beirut, Maktabah al-wahbah, 2000), 57

[27] Muhammad Hussein Adz-Dzahabi, at-Tafsir….70

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: