RSS Feed

MANTIQ – ISTIQRA’

Posted on

Gambar

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wr wb

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah curahkan kepada Baginda Rasulullh SAW, keluarga serta para sahabat dan mereka yang menyeruh dengan seruannya serta berpedoman dengan petunjuknya.

Alhamdulillah syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala kasih sayangNya makalah tentang Akal Dan Wahyu ini telah selesai, semua itu tak lepas dari dukungan serta motivasi dari beberapa pihak, maka tak lupa kami ucapkan terimakasih atas semua bantuan serta keikhlasannya sehingga makalah ini bisa selesai meskipun masih banyak sekali kekurangan baik dari segi pembahasan maupun tulisan, manusia tempatnya salah dan lupa, namun sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertobat dan berusaha memperbaiki kesalahannya, dari situlah kami harapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan dan kelancaranproses pembelajaran  kami dan demi kebaikan kita bersama.

Harapan kami semoga makalah ini dapat membawa manfaat baik bagi diri kami sendiri maupun kita semua serta bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Amin ya robbal ‘alamin . .

Wassalamu’alaikum wr wb

 

Penulis,

PENDAHULUAN

 

Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwasanya Jumhur Ulama’ dalam masalah dalil-dalil Syariat (adillah Syar’iyah) membagi dua bagian. Pertama adalah Adillah Muttafaq “alaiha yaitu Al qur’an, As Sunnah, Al Ijma’ dan Al Qiyas. Yang kedua adalah adillah mukhtalaf fiha yaitu Al Istishab, Al Mashalih Mursalah, Qaulus Shahabi, Al Istihsan,As Syar’u Man Qablana,As Syaddud Dzarai’, Al Urf, dan Al Istiqra’.

Pada pembahasan kali ini saya tidak akan membahas secara keseluruhan masalah adillah mukhtalaf fiha karena telah dikaji pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Istiqra’ yang merupakan salah satu bagian dari adillah mukhtalaf fiha.

Istqra’ adalah sebuah metode penelitian atau pemeriksaan atas berbagai hal dalam sebuah masalah. Ynag menghasilkan sebuah kesimpulan hukum untuk keseluran. Metode ini banyak digunankan ulama’ dalam menyimpulkan hukum-hukum yang tidak memiliki landasan hukum yang tertulis secara jelas di dalam Al Qur’an atau al Hadist. Misalnya ulama’ menyimpulkan bahwa usia yang paling kecil seorang wanita haid adalah umur sembilan tahun. Atau kesimpulan seorang ulama’ yang mengatakan masa ideal haid adalah antara seminggu hingga sepuluh hari. kesemua dari kesimpulan hukum itu tidak berdasarkan atas nash namun berdasarkan penelitian dan riset. Inilah yang biasa disebut istiqra’.

  1. A.    Definisi

Dalam artian secara bahasa Al Istiqra’ adalah yang berarti: meminta untuk dibaca, diselidiki, dan diteliti. Sedangkan dalam artian secara istilah ialah: Meneliti permasalahan-permashan cabang (juz-i) dengan mendetail guna menemukan sebuah hukum yang diterapkan pada seluruh permasalahan (kulli). Atau biasa diartikan dengan sebuah pengambilan dalil dengan menetapkan suatu hukum pada hal-hal yang (Juz-i) yang kemudian diberlakukan pada hal-hal yang (Kulli), atau dalam artian lain adalah pengambilan dalil hukum dengan cara metode induktif.

  1. B.     Pembagian Istiqrâ

Dalam pembahasan kaedah ini, Istiqrâ dibagi menjadi dua macam bentuk didalam penerapannya, sesuai dengan metode penelitian yang delakukan. antara penelitian yang dilakukan secara menyeluruh atau penelitian yang hanya dilakukan pada sebagian besar permasalahan. Pembagian itu adalah:

Pertama, Istiqrâ yang lengkap (Tâmm) yaitu penelitian pada seluruh bagian-bagian permasalahan tanpa tersisa kecuali permasalahan yang berlawanan untuk menetapkan hukum atasnya. Seperti seorang meneiliti seluruh anggota badannya agar mengetahui apakah dia sehat atau sakit. Dan penelitian ini harus benar-benar diyakini bahwa semua cabang permasalahan yang diteliti tanpa tertinggal satupun. Sehingga menghasilkan sebuah keputusan hukum yang pasti (qath’i) bukan hukum yang samar atau sekedar persangkaan (dzanni).

Adapun contoh Istiqrâ Tam yang biasa disebutkan dalam kitab-kitab fiqh adalah shalat terdiri dari shalat wajib atau shalat sunah, dan setiap dari kedua macam shalat ini tidak terlepas dengan adanya bersuci. Karena bersuci adalah merupan sebuah syarat sah seorang mengerjakan shalat. Maka setiap orang melakukan shalat harus senantiasa bersuci (thaharah). atau dengan artian lain; bahwasannya tidak akan sah solat seseorang jika sekiranya tanpa dibarengi dengan Wudlu (Thahârah).

Kedua, Istiqrâ yang kurang (Nâqish) yaitu: Penelitian yang dilakukan hanya pada sebagian besar dari permasalahan yang menjadi obyek pembahasan untuk mendapat sebuah kesimpulan hukum keseluruhan. Dalam metode ini tidak didapatkan permaslahan –permasalhan yang berlawanan hukum. Sehingga kesimpulan hukum yang dihasilkan dari istiqra’ naqish ini hanya secara keumuman (hasbi dhohir). Karena tidak semua permasalahan diteliti satu-persatu. Maka kekuatan hukum yang dihasilkan juga bersifat persangkaan (dzonni) bukan bersifat pasti (qath’i). Sebagaimana hasil penelitian bahwa hewan adalah mengunyah makanan dengan geraham bawah. Namun hasil penelitian ini tidak berlaku untuk semua jenis hewan, karena ada beberapa hewan yang memakan mangsanya tidak dengan gerakan geraham bawah, contohnya adalah buaya. Disebut dengan naqish karena hukum yang dihasilkan pada penelitian ini tidak berlaku untuk keseluruhan. Berbeda dengan istiqra’ tam yang berlaku untuk semua cabang permasalahan.

Seorang ulama’ syafiiah menyontohkan istiqra’ naqish ini adalah dengan kesimpulan imam syafii tentang tidak wajibnya hukum shalat witr, berdasarkan perbuatan Nabi Saw yang melakukan shalat witr diatas hewan kendaraan. Karena berdasarkan istqra’ (penelitihan) yang imam lakukan bahwasanya Nabi Saw tidak pernah melaksanakan shalat fardu diatas hewan kendaraan. Dan contoh ini masih patut dikoreksi ulang menurut beberapa ulama’.

Istiqra’ (Induktif); antara Syathibi dan Ibnu Hazm.

Menetepkan sebuah hukum atau yang dikenal dengan Istinbath ahkam dan pengenalan terhadap maqashid syar’iy, ulama tak akan lepas dengan cara dan metode yang dipergunakannya. Salah satu metode itu dikenal dengan metode Istiqra’ (Induktif). Sebuah cara yang dipergunakan oleh banyak ulama sebut saja Imam Syathibi, Ibn Qayyim, Ibnu Hazm dan lain sebagainnya. Istiqhra’ dalam arti terminologinya adalah meneliti teks-teks parsial mengandung hukum-hukum syar’iy, kemudian berkesimpulan dari hasil penelitian tersebut guna mendapatkan hukum yang universal.

Imam Syathibi yang banyak dikenal sebagai konseptor, dan revolusioner ulung dalam berbagai bidang ilmu utamanya pada bidang ushul fiqh memiliki andil dalam membangun metodologi ini. Bahkan dikatakan menjadi salah satu karakteristik tersendiri metode ushul terapannya dalam beberapa karyanya dan juga urgen untuk diketahui oleh penuntut ilmu pada zaman setelahnya.

Syathibi memperkenalkan metode istiqra’-nya dengan nama istiqra’ ma’nawy, yaitu menelusuri point-point parsial pada makna untuk menetapkan hukum yang lebih universal, secara qathi’y atau dzanniy. Dan bersifat tidak ditetapkan dengan dalil tertentu tapi dengan dalil-dalil yang berkaitan satu sama lain namun berbeda maksud. Selanjutnya dengan satu tujuan itu dapat menghasilkan satu cakupan hukum.

Hal ini berbeda yang diterapkan oleh para ahli Mantiq dalam defenisi dan bagian Istqra’ ini pada naqish, tam dan seterusnya. Syathibi dengan pengamatan positif dan pendekatan makna guna menghasilkan tujuan yang dimaksud, mampu membentuk satu metode tertentu. Salah satu contoh, ungkapan mengenai Rasulullah SAW telah diberikan banyak keistimewaan dan kelebihan yang juga sama diberikan kepada umat islam secara umum ditetapkan dengan metode Istqra’ (versi Syathibi). Beliau menyebutkan lebih dari 30 contoh yang menguatkan hal itu, diantaranya :

1. Shalawat Allah SWT; Allah berfirman mengenai shalawatNya pada nabi ” ان الله وملائكته يصلون على النبي ” dan Allah juga menyebutkannya untuk umat islam ” هو الذي يصلي عليكم وملائكته ”

2. Rasulullah adalah makhuk yang termuliah di sisi Allah SWT, dan juga dikatakan pada umat ” كنتم خير أمة أخرجت للناس ”

3. pemberian Allah adalah Ridha-Nya; Allah berfirman ” ولسوف يعطيك ربك فترضي ” dan juga sama disebutkan pada umat Islam ” ليدخلنهم مدخلا يرضونه “.

Metode Istiqra’ khusus yang dikaji oleh Syathibi memiliki beberapa karakter tertentu antara lain :

Pertama : Syathibi dalam memaknai dalil mencakup hukum furu’ berbeda dengan metode Mutakallimin atau Syafiiy yang hanya menggunakan kajian teoritis tanpa hukum furu’.

Kedua : Syathibi juga tidak mengikut pada satu mazhab fiqh berlawanan dengan kaedah Hanafiy yang mesti mengikut pada mazhab tertentu

Ketiga : teori furu’ yang merupakan kaedah dasar Syatibiy bukan merupakan teori konvensi atau nonkonvensi tapi teori induktif universal yang menghasilkan satu ketetapan hukum.

Lain halnya dengan Ibnu Hazm, menurut Abu Zahra ia juga menetepkan teori istiqhra’ sebagai metode kajiannya. Namun dalam kajian ushul fiqh ia tidak mengisyaratkan untuk sepenuhnya menetapkan teori ini. Dalam berbagai kajian bahkan didapati bahwa ibnu Hazm tidak menggunakan teori Istiqra’ yang benar. Ini dapat dilihat dari metode yang dipakainya dalam beberpa hal, diantaranya/:

– sisi itsbat; ia tidak memberikan dalil yang kuat untuk satu hukum. Misalnya; ketika membatalkan teori Qiyash yang notabenenya memiliki kekuatan dalil berdasar Alquran dan Hadits.

– Sisi nafy; menurutnya merupakan argumen terkuat untuk menentukan sebuah hukum, namun lagi-lagi tanpa dalil yang tegas untuk menafikkan hukum itu. Misalnya; kewajiban mengambil hadits ahad, ketika ia menafikkan semua sahabat dan thabiin, salah seorang mereka berkata “jangan mengamalkan apa yang saya ceritakan dari Rasulullah kecuali telah disampaikan hal itu oleh orang Kuffah”.

Berbeda dengan Syathibi, ibnu Hazm tidak menggunakan teori Istiqrai’ dengan sempurna, banyak kekurangan dan kelemahannya serta cederung hanya sekedar berdalil guna menguatkan argumennya.

tentang Metode Induksi (al Istiqra) dalam pemikiran Asyatibi, ada beberapa catatan:
1. Sejak awal beliau menolak pendekatan atomis Aristotelian dengan metode sylogismenya.
2. Sebenarnya beliau tidak keluar dari mainstream limuwan yang memetakan metode induksi ke dalam dua klasifikasi: sempurna-tidak lengkap.

Istiqra’ versi Syafiiy.

Al-Imam Asy-Syafi’iy dianggap sebagai pembaharu (mujaddid) abad kedua. Hal ini tidak berlebihan karena beliau mampu mengkompilasikan ilmu hadits dan ilmu logika dari ilmu yang ia peroleh dari guru-gurunya. Selain itu beliaulah yang telah mengokohkan kaidah-kaidah ilmu ushul fiqih lewat Risalahnya guna membuka gembok-gembok kokoh kerumitan ilmu ini.

Mengenai teori induktivitas, beliau memposisikannya sebagai metode dasar pengkonklusian hukum dari teks-teks yang ada menurut mazhabnya (mazhab Syafi’iy). Menurut beliau istiqra’ adalah statement mengenai observasi dalil-dalil parsial guna mendapatkan hukum; dari dalil-dalil persial tadi.

Hal ini dapat dilihat dari persoalan mengenai hukum Shalat Witir. Hukumnya adalah sunnah sebagai hasil observasi terhadap dalil-dalil yang mendukungnya dan berkaitan dengan hukum itu; dalam sebuah statement Rasulullah Saw “shalat witir itu perna dilakukan di atas punggung hewan (unta) ketika dalam perjalanan” dan selanjutnya mencoba mengkomparasikannya dengan statement-Nya yang lain “bukanlah shalat fardhu ketika dilaksanakan di atas punggung hewan melainkan shalat sunnah saja“, maka kita segera mengetahui bahwa hukum shalat witir itu adalah sunnah dengan jalan metode induktivitas.

  1. Perbedaan Ulama’ tentang Setatus Hukum Istiqra’ Naqish

Ulama’ berbeda pendapat tentang hasil kesimpulan dari istiqra’ naqish kepada dua pendapat:

Pendapat pertama adalah pendapat Ulama’ Jumhur yang berpendapat bahwa istiqra’ naqish menetapakan hukum keseluruhan secara dzhan (persankaan).

Dalil yang dipakai oleh kelompok ini dalah dalil aqli, yaitu kita dapat menemukan sebagian besar dari bagian-bagian permasalahn yang diteliti kemudian menyimpulkan sebuah hasil. Maka hasil ini berlkaku untuk bagian-bagian lain yang belum diteliti, yang biasa kita anggap sebagian besar adalah mewakili keseluruhan secara persangkaan.

Pendapat kedua adalah pendapat imam Fahrur Razi mengatakan bahwasanya istiqra’ naqish tidak dapat menghasilkan sebuah kesimpulan hukum baik secara pasti atau secara persangkaan.

Alasan pendapat kedua adalah penelitian yang dilakukan sebagian dari seluruh permasalahan adalah tidak dapat menyimpulkan sebuah hukum yang dapat deberlakukan secara keseluruhan, karena bisa jadi permasalahnan yang belum diteliti memiliki hukum yang berbeda dan bertentangan dengan kesimpulan hukum yang diputuskan.

Pendapat ini dibantah oleh beberapa ulama’ bahwasanya yang belum diteliti adalah sebagian kecil, sedangkan sebagian besar telah diteliti dan menemukan kesimpulan hukum. Maka bagian kecil ini terikut oleh hasil kesimpulan yang lebih banyak. Maka oleh sebab itu kesimpulan yang dihasilkan ini adalah kesimpulan dzhanni bukan qath’i.

  1. D.    Kesimpulan

Jika kita menemukan cabang permasalahn yang belum diketahui apakah hukum kesimpulan umumnya pasti (qath’an) atau samar (dzhonnan). Maka yang patut kia lakukan adalah melihat kembali dari metode istiqra’ apakah yang digunakan. Jika metode istiqra’ yang dipakai adalah istiqra’ taam maka hasil hukumnya bersifat pasti. Adapun jika metode istqra’ yang dipakai adalah istiqra’ naqish maka hasil kesimpulan hukumnya bersipfat samar atau belum pasti.

Dalam penetapan hukum islam secara umum dapat di kelompokkan kepada dua macam: yaitu pertama, metode verbal (at-turuq al-lafzdiyah) yaitu metode penetapan hukum yang bertumpu kepada analisis kebahasaan. semisal, lafaz-lafaz‘ amm, khas, muthlaq, muqayyad, amar, nahi. Kedua, metode substansial (at-turuq al-ma’nawiyah), yaitu metode penetapan hukum yang bertumpu kepada pengertian implisit nash dengan menggali substansi-substansi hukum islam (al-iltifatila al-ma’aniwa al-maqasid).

Secara garis besar, ditemukan dua aliran usul al-fiqh, usul al-fiqh, yang berbeda delam perumusan kaidah-kaidah usul. Pertama, aliran Mutakallimun atau Syafi’iyah. Mereka membangun kaidah-kaidah usul al-fiqh secara teoretis, logis dan rasional, dengan di dukung oleh alasan kuat baik naqli maupun ‘aqli. Kedua, aliran Hanafiyah atau Fuqoha. Mereka membangun dan merumuskan kaidah-kaidah usul dengan beranjak dari masalah-masalah cabang dalam mazhab,  setelah meneliti dan manganalisis masalah-masalah cabang tersebut.

Untuk memadukan dan menyatukan kedua aliran dalam hukum islam di atas maka lahirlah aliran konvergensi, yaitu yang  dipelopori oleh Asy-Syatibi dengan metode Istiqra’i. dan dalam bukunya Duski Ibrahim yang berjudul “Metode Penetapan Hukum Islam : Membongkar Konsep al-istiqra’ al-Man’nawi ­Asy-Syatibi” sangat menarik untuk dibaca. Pada buku ini dijelaskan berbagai konsep tentang al-istiqra’ al-Man’nawi oleh Asy-Syatibi. Dengan kerangka teoretis perumusan kaidah-kaidah usul dan metode dan konsep penetapan hukum yang ditawarkan oleh Asy-Syatibi.

Asy-Syatibi dengan nama lengkap Abu ishaq Ibrahim ibn Musa ibn Muhammad Al-Lakhmi Al Garnati yang dilahirkan di Granada (belum jelas tahun kelahirannya), merumuskan konsep al_istiqra’ adalah penelitian terhadap partikular-partikular makna nash, hukum-hukum spesifik (far’iyah), dan realitas sejarah (tradisi) untuk di tetapkan suatu hukum umum, baik sifatnya pasti (qot’i) maupun dugaan kuat (zhanni). Al_istiqra’ al-Man’nawi yang merupakan suatu metode penetapan hukum tidak saja menggunakan satu dalil tertentu, melainkan dengan sejumlah dalil yang digabungkan antara satu dengan yang lain yang mengandung aspek dan tujuan berbeda, sehingga terbentuklah suatu perkara hukum berdasarkan gabungan dalil-dalil tersebut.

al_istiqra’ al-Man’nawi yang merupakan metode penetapan hukum asy-Syatibi dalam prosedurnya memanfaatkan kolektivitas dalil dalam berbagai bentuknya, mempertimbangkan qara’in ahwal (indikasi-indikasi keadaan tertentu) baik yang berkaitan dengan nash tersebut secara langsung (manqulah) maupun tidak berkaitan secara langsung (ghairu manqulah), termasuk mempertimbangkan kondisi sosial dan memerankan akal dalam merespon perkembangan atau perubahan yang terjadi dalam dinamika masyarakat.

Mengingat tujuan asy-syar’i dalam penetapan hukum adalah untuk merealisasi kemaslahatan umat manusia dari berbagai segi yang tersimpul dalam prinsip dharururiyah, hajjiyah, dan tahsiniyah. Jadi dengan metode yang dipaparkan dalam buku ini mengulas banyak tentanga l_istiqra’ al-Man’nawi yang dikonsepkan oleh Asy-Syatibi, bertujuan memberikan alternatif yang signifikan untuk menetapkan hukum atau kaidah hukum dan memverifikasikannya dibanding dengan metode-metode yang lain yang dilakukan secara parsial, yakni menggunakan dalil secara terpisah-pisah,  sehingga terkadang mengabaikan dalil-dalil yang lain yang sebenarnya relevan diterapkan dalam menyelesaikan berbagai problem hukumtertentu.

  1. E.     Penutup

Dalam pengambilan metode Istiqrâ, golongan Syafi’iyah, Malikiah dan Hambaliah menetapkannya sebagai sebuah Hujjah dan dipakai oleh mereka. sedangkan golongan Hanafiah, mereka tidak mengakuinya sebagai kaedah hukum yang mutlak, akan tetapi metode tersebut menurut mereka kembali kepada dalil Qiyas dan bisa juga kembali kedalam dalil ‘Urf dan (‘Âdah) kebiasaan. Wallahu A’lam Bisshawab.

DAFTAR PUSTAKA

Al ayatul Bayinat, Syarhu Jam’ul Jawami’. Imam jalauddin Al Mahalli.

Syarhul Kaukabus Sathi’, Nadzam Jam’ul Jawami’. Abu Bakar As Syuyuti.

Al Ilmam Bil Mukhtalaf Fih min Ushulil Ahkam. Hamdi Shubhi Thaha.

l  Makalah Kelompok Kajian Andalus. Ade Budiman.

l  Ibrahim Duski, Juli 2008. Metode Penetapan Hukum Islam : Membongkar Konsep al istiqra’ al-Man’nawi Asy-Syatibi. Penerbit : AR-Ruzz Media, Jogjakarta.

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: