RSS Feed

Kekasih…

Tuhan tak pernah terasa sehangat ini…

Sebelum aku mengenalmu di percikan cahaya itu…

Percikan  cahaya yang telah merangkulku…

Terikat erat di bulu nadiku…

Namun…

Cahaya itu masih saja terlihat terang…

Seterang binar matamu…

Setenang jiwamu…

Hatimu…

Seolah olah cahaya itu ingin mengatakan…

Jangan cuma kau peluk aku, karena aku bukanlah agama…

Setubuhi aku, sejiwai… 

Maka…

Rasa  bukanlah suatu pengadilan kasih…

Kau tak perlu membuktikan semuanya…

Sekedar memahami arti kita di sini…

Menjalani takdir yang telah terpatri…

Kemudian…

Mempercayai sebuah harapan…

Susunan anggun impian…

Akan kepingan puzzle kehidupan…

Kasih…

Yakinlah akan satu hal…

Waktu dan cinta…

Tak pernah memberi kita sesuatu yang sia-sia…

Wiyung, 20102012 20:10 pm

Kekasih, dipagi buta seperti saat ini, ketika para pasukan kuning di ujung jalan raya Surabaya mulai menyapu seabrek kotoran, dan ketika sebuah masjid di samping bangunan megah itu mulai menyemburkan jeritan Tuhan, di saat itu pula aku sangat ingin menulis catatan ini untukmu. Coba ceritakan lagi padaku apakah kau pun sudah kembali di sibukan dengan kesibukan yang ada, seperti yang selalu aku dengar dari senyum renyahmu di rongga rongga waktu dulu, aku tak tahu kekasih…

Entahlah, apakah masih sama susunan serta bentuk tangga gedung baru di negeri dingin itu, warna dinding coklat mudanya, serta ubin ubin berkotak besar, yang menyempatkan mataku menatap sepasang mata indah, yang mampu menggetarkan dinding kokoh hati ini, melumat sekelumit kekakuan. Sepertinya waktu berhenti sesaat dan membawa seluruh raga bagaikan menerawang dunia menembus pori pori langit.

Ya memang benar, aku tak akan pernah mengelak jika ada yang berkata di negeri dingin itulah kita di takdirkan bertemu kasih. Kau dengan semua serangkaian kejadian yang terjadi membuatku mengambil suatu kesimpulan, jadi Tuhan memang baik bukan?

Karena di dunia ini selalu berhiaskan kebetulan kebetulan kasih, biasanya aku menyebutnya dengan nama kepingan puzzle takdir. Apa namanya kalau bukan kebetulan jika aku terpaksa berkelana di negeri dingin, dan kebetulan pula masuk di kelas itu yang untuk pertama kalinya aku melihatmu. Kebetulan pula kita satu jurusan, juga kebetulan kita sama sama berkacamata yang pada kepingan saat itu takdir sepertinya mengijinkan diriku sejenak menikmati indahnya sebuah senyuman, yah itu sebuah senyuman darimu kasih, sangat manis. Pasti kali ini kau sepakat denganku kan? Bahwasanya Tuhan memang sangat baik, telah mentakdirkan kita untuk bertemu…

Alunan musik dari Bondan Prakoso di playlist laptopku mendapat giliran mengiringi tulisanku kali ini kasih. Kita Selamanya, tahukah engkau, lagu ini seolah olah membimbing pikiranku mengenang masa masa yang mengagumkan di negeri dingin, tentang persahabatan, indahnya kebersamaan, tentang tahu terbang, tentang hukuman, tentang tawadu’, tentang perlombaan dalam prestasi, tentang perpisahan, dan tentu saja tentang kamu…

Tak terasa jam dinding pun sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, dan sang mentari tak lagi malu memperlihatkan sinarnya kepada sang fajar, di sudut telinga mulai terdengar sayup celoteh sepeda motor para pedagang sayur keliling, atau mungkin motor para anak sekolah yang tak mau terjebak macet di beberapa menit kemudian.

Nah sebelum alunan lagu dari bondan ini berlalu aku sekedar ingin tahu, bagaimana denganmu disana kasih? Apakah dipagi kali ini kau akan menyempatkan sedikit waktumu untuk sekedar mengingatku?, tentu berharap kau tetap memberi catatan dibawahnya –  a little boy ku. Atau mungkin kau kini bahkan sudah merangkul erat setumpuk buku yang akan kau baca buat kuliah nanti?  Siapa tahu kau sekarang sedang merawat beberapa junior yang kurang sehat? Atau mungkin sekarang sedang sarapan dan kau telah menggigit beberapa tumisan jamur putih kesukaanmu?.

Entahlah,  yang pasti aku masih ingin melanjutkan catatan ini kasih, buatmu. Seperti keinginan serta harapan yang menggebu dari warga DKI Jakarta kepada Gubernur baru mereka, Pak Jokowi.

Aku pun selalu percaya kau masih menimang dan menjaga rasa itu kepadaku, meski kita saling tak jumpa, sms, ataupun saling tak telfon. Tunggu sebentar, letakan kembali kata “saling tak”, kuganti dengan kata “jarang”. Yah memang hal itu terjadi dikarenakan alasan klasik yang muncul dari dalam diri kita sendiri kasih, kau pasti paham maksudku kan? Ah alasan klasik, sesuatu yang selalu memberi dan membuatku rindu padamu …

Karena yang aku tahu kau bukanlah seorang wanita yang mudah percaya untuk memberikan hati, dan tahukah kau kekasih, aku pun sangat bersyukur karena beruntung telah mendapatkan sebongkah hati yang indah itu…

Pagi sudah berlalu…

Dentingan sinar kuning menerobos anggun di rongga katalis kamarku…

Memanjat dinding hijau tua yang terlihat lesu…

Menunggu sambutan ramah sang putri malu…

Namun yang ku tahu…

Pagi pun sudah berlalu…

Kutuliskan sekali lagi di catatan kali ini untuk meyakinkanmu, tentang keteguhan rasa. Percayalah kasih, Aku bukanlah seorang lelaki yang mudah untuk menaruh hati, bahkan sangat sulit kuarasakan, meski ia secantik bidadari, apa peduliku jika hati ini tak bergetar. Namun jangan pernah kau tanyakan kenapa hatiku bergetar ketika denganmu dan malah  mempercayakan hati ini hanya untukmu? Pasti aku tak akan mampu menjawabnya, karena kata kata tak akan pernah mampu menampung rasa rasa.

“Karena kata kata tak akan pernah mampu menampung rasa rasa…”

Jujur aku malu, kenapa hingga sampai detik ini, aku juga tubuhku tak mampu merangkul sebuah kalimat “bersikaplah sewajarnya” ketika bertemu denganmu kasih, semua terasa kikuk di hadapan senyumanmu, serba salah tingkah layaknya patung dalam pemahamanmu, padahal jika kamu tahu kasih, hati ini tak pernah berhenti mengoceh dan selalu protes kepadaku, kenapa si mulut seakan diam membisu di hadapanmu?. Namun Mario Teguh sedikit menghiburku, tentu saja dengan kata kata ajaibnya, bahwasanya sikap yang kulakukan di hadapanmu itu ialah efek samping dari rasa yang tulus kasih, maka berbahagialah jika kau punya pasangan seperti itu, pungkas Beliau.

Pada suatu masa sempat aku berfikir keras kasih, sekeras KPK mendapatkan tekanan untuk mengungkap korupsi di negeri yang bobrok ini. Berfikir tentang pertanyaan yang kau lontarkan kepadaku, sewaktu aku berayun di hatimu, sewaktu aku nikmati suguhan indah dunia indrawi…

Kau juga manismu bertanya tentang angan serta pengadilan takdir yang tersenyum di hadapan, juga tentang sudut pandang akan bermacam macam harapan yang telah memakan korban layaknya kisah sedih dari para kawan, seolah olah kekhawatiran memenuhi segala prasangka prasangka di wajah ayumu, serta sebisa mungkin menolak semua kemungkinan takdir  terburuk buat kita jalani…

Kasih,  coba kau dengarkan lagu yang kali ini bertugas di playlistku, kitto mata itsuka ( some other day )  depapepe, duo gitaris dari Jepang. Cobalah kali ini pejamkan kedua matamu kemudian hayatilah setiap petikan senar gitarnya, nikmati setiap ayunan denting suaranya, serta alunan maknanya, maka kau akan menyelami dalamnya samudera jawaban yang masih menjadi misteri itu…

Kekasih kekasih… sebenarnya sedang apa kau sekarang?.

Tak terasa pagi sudah pergi kasih, berganti masa duha yang merana menunggu seseorang untuk menghormatinya, mungkin juga pasukan kuning di sudut jalan raya di Surabaya bergegas pulang, membawa sisa sisa penat karena telah bekerja berpacu dengan waktu, debu, dan juga kendaraan yang menderu…

Juga tentang masjid besar di samping gedung megah, yang selalu meneriakkan suara Tuhan, ku rasa gerbangnya pun akan segera di kunci, di karenakan kekhawatiran akan hal di luar akal pikiran. Namu kurang bijak kurasa, itu rumah Tuhan, rumah bagi mereka yang ingin berpacaran dengan Tuhan.

Meski pun ingin sekali aku buatkan kau secangkir lagi puisi rasa, namun kurasa catatan akan aku cukupi sampai di sini kasih, karena eyang putri sudah memanggilku untuk sarapan. Catatan ini aku buat, dengan harapan bisa sedikit banyak mengurangi rasa rinduku padamu, berharap bisa sedikit menghilangkan rasa penasaranku, namun baru aku sadari, bagaimana  bisa aku melakukan hal itu, karena seseorang yang selalu aku rindu tak pernah mau pindah dari hatiku…

Dan coba ceritakan kepadaku sekali lagi, tentang dirimu juga rasamu, kasih…

Just a Little Boy – Cemoro Sewu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: