RSS Feed

Rasyid Ridha…

Gambar

BAB I

 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Rasyid ridha (1865-1935) adalah murid Muhammad Abduh yangh terdekat. Ia lahir pada tahun 1865 di Al-Qalamun, suatu desa di Lebanon yang letaknya tidak jauh dari kota Tripoli (Suria). Menurut keterangan, ia berasal dari keturunan Al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu ia memakai gelar Al-Sayyid didepan namanya. Semasa kecil ia dimasukkan ke madrasah tradisional di Al-Qalamun untuk belajar menulis, berhitung dan membaca Al-Qur’an. Di tahun 1882, ia meneruskan pelajaran di Al- Madrasah Al-Wataniyah Al-Islamiyah (Sekolah Nasional Islam) di Tripoli yang didirikan oleh Al-Syaikh Husain Al-Jisr, seorang ulama Islam yang telah dipengaruhi oleh ide-ide modern yang menjadi pembimbing bagi Rasyid Rida di masa muda. Selanjutnya ia bnayak dipengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh melalui majalah Al-Urwah Al-Wustqa.

Selanjutnya ia adalah pelaksana ide-ide Muhammad Abduh untuk memperbaiki system pelajaran di al-Azhar. Ia mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuan  tetapi usahanya mendapat tantangan dari pihak Kerajaan Usmani karena itu ia memutusklan pindah ke Mesir dekat dengan Muhammad Abduh.

Pemikiran-pemikiran pembaharuan yang dimajukan Rasyid Ridha, tidak banyak berbeda dengan ide-ide Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. sungguhpun demikian, antara murid dan guru tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan antara keduanya. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa hal dimana perbedaan itu kelihatan di dalam Tafsir Al-Manar, ketika murid memberi komentar terhadap uraian guru.

  1. Rumusan Masalah
    1. Ide-ide pembaharuan apa saja yang dilakukan oleh Rasyid Ridha?
    2. Bagaimana perbedaan ide-ide yang dimajukan Rasyid Ridha dengan Muhammad Abduh?

 

 

3.Tujuan Masalah

1. Memahami ide-ide pembaharuan yan dilakukan Rasyid Rida

2. Memahami perbedaan ide-ide yang dimajukan Rasyid Rida dengan Muhammad Abduh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

            Muhammad Rasyid Rida dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil Ula 1282 H./23 September 1895 di Al-Qalamun, sebuah perkampungan kecil berjarak 40 kilometer dari Tripoli (Libanon). Kota ini dahulu termasuk wilayah Syria dan kini menjadi wilayah Libanon. Keluarga Muhammad Rasyid Rida dikenal oleh lingkungannya sebagai keluarga sakinah yang menguasai ilmu-ilmu agama, sehingga mereka di kenal dengan sebutan shekh. Ayahnya bernama Sayyid ‘Ali Rida al-Husain, adalah seorang ulama penganut tarikat Shadhiliyyah. Oleh sebab itu, wajar saja jika sejak kecil Muhammad Rida selalu mengenakan jubah, surban, tekun mengaji dan rajin bermujahadah walaupun pada perkembangan selanjutnya ia lebih simpatik dan berpindah ke tarekat Naqsabandiyah.[1]

Tepatnya pada tahun 1299 H, Rasyid Rida  belajar di madrasah al-Wataniyyah al-Islamiyyah, di sini dan selama masa inilah beliau mendapatkan pendidikan berimbang, ia tidak hanya dididik untuk cerdas otaknya, akan tetapi sekaligus cerdas emosional dan spiritualitasnya. Di masa itu, sekolah-sekolah missi Kristen telah mulai bertimbulan di Suria dan banyak menarik perhatian orang tua untuk memasukkan anak-anak mereka belajar di sana. Dalam usaha menandingi daya tarik sekolah-sekolah missi tersebut maka Al-Syaikh Husain Al-Jisr mendirikan sekolah Nasional islam namun karena mendapat tantangan dari pemerintahan Kerajaan Usmani, umur sekolah itu tidak panjang. Akhirnya Rasyid rida meneruskan pelajarannya di salah satu sekolah agama yang ada di Tripoli tetapi dalam pada itu, hubungan antar guru dan murid tetap berjalan terus dan kemudian di pengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, ia juga mendapat kesempatan baik untuk berjumpa dan berdialog dengan murid Al-Afghani yang terdekat ketika Muhammad Abduh berada dalam pembuangan di Beurut, dari perjumpaan dan dialog dengan Muhammad Abduh meninggalkan kesan yang baik [2]. Selanjutnya gaung perjuangan Rasyid Ridha dimulai dari kampung halamannya sendiri dengan jalan halaqah, pengajian, dan tulisan di media masa. Bersamaan dengan itulah, Muhammad Abduh menyalakan api pembaharuan di mesir.

Ide pergerakan Muhammad Rasyid Rida dikobarkan oleh gurunya Shekh al-Jisr yang selalu menekankan bahwa satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh umat islam untuk mencapai kemajuan adalah memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum dengan metodologi barat. Ditangan al-Jisr, Muhammad Rasyid Rida secara perlahan ditarik masuk ke dunia pembaruan. Sang shekh menaruh harapan besar kepada Rasyid Rida, karena itulah ia selalu memompa semangat Muhammad Rasyid Rida untuk selalu mengakses informasi baru. Semenjak masih di tanah airnya, Muhammad Rasyid Rida sudah aktif dalam kancah dunia perpolitikan, salah satu motif yang mendorongnya untuk terjun dalam dunia politik adalah kebijakan pemerintah Uthmaniyyah yang absolute, otoriter dan deskriminatif terhadap bangsa Arab di sektor pemerintahan, pendidikan dan perekonomian.[3]  

Ia mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuan itu ketika masih ada di Suria, tetapi usahanya mendapat tantangan dari pihak kerajaan Utsmani. Ia merasa terikat dan tidak bebas, sehingga ia memutuskan untuk pindah ke Mesir, dekat dengan Muhammad Abduh yakni pada bulan Januari 1898 ia sampai di negeri gurunya ini.[4]

Beberapa bulan kemudian, ia mulai menerbitkan majalah yakni Al-Manar yang memiliki tujuan yang sama dengan Al-Urwah Al-Wusqa diantaranya mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, sosial dan ekonomi, memberantas tahayyul dan bid’ah-bid’ah yang masuk ke dalam tubuh islam, menghilangkan faham fatalisme yang terdapat dalam kalangan umat islam, serta faham-faham salah yang dibawa tarekat-tarekat tasawuf, meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam terhadap permainan politik Negara-negara barat. Majalah ini banyak menyiarkan ide-ide Muhammad Abduh dimana guru yang memberikan ide-ide kepada murid dan kemudian muridlah yang menjelaskan dan menyiarkannya kepada umum dan juga mengandung artikel-artikel yang dikarang oleh Muhammad Abduh sendiri melalui lembaran-lembaran Al-Manar.[5] Karangan Rasyid Rida banyak diantaranya Al-Khilafah, dan yang paling penting memuaskan dirinya adalah kitab al-Wahyul Muhammady.[6]

 

Ide-ide pembaharuan Rasyid Rida adalah:

– Perlunya diadakan tafsiran modern dari al-Qur’an, yaitu tafsiran yang sesuai dengan ide-ide yang dicetuskan gurunya. Ia selalu menganjurkan kepada Muhammad Abduh untuk menulis tafsir modern namun gurunya tersebut tidak sefaham dengannya, namun Karena desakan Rayid Rida akhirnya Muhammad Abduh akhirnya setuju untuk memberikan kuliah mengenai tafsir al-Qur’an di al-Azhar yang dimulai pada tahun 1899 sampai dengan meninggalnya Muhammad Abduh yakni pada tahun 1905. Dari keterangan-keterangan yang diberikan oleh guru, Rasyid Rida selalu mencatatnya dan untuk seterusnya disusun dalam bentuk karangan yang teratur selanjutnya diperiksa oleh guru dan setelah mendapat persetujuan maka karangan tersebut ia siarkan dalam Al-Manar. Setelah guru meninggal, murid meneruskan penulisan tafsir sesuai dengan jiwa dan ide yang duicetuskan guru dan Muhammad Abduh sendiri sempat memberikan tafsiran sampai dengan ayat 125 dari surat Al-Nisa’ (jilid III dari Tafsir Al-Manar) dan yang selanjutnya adalah tafsiran murid sendiri..

– Perlunya dilaksanakan pembaharuan dalam bidang pendidikan, ia melihat perlu ditambahkan ke dalam kurikulum mata pelajaran seperti teologi, pendidikan moral, sosoiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitung, ilmu kesehatan, bahasa-bahasa asing dan ilmu mengatur rumah tangga yaitu disamping fikih, tafsir, hadits dan lain-lain.[7] Sekaligus melakukan penguasaan terhadap iptek untuk mengikuti kemajuan Barat.

– Pandangan Rasyid Rida dalam politik adalah tentang Ukhuwah Islamiyyah. Menurutnya, salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah perpecahan yang terjadi di kalangan mereka sendiri, kemudian ia menyeru kepada seluruh umat Islam agar bersatu kembali di bawah satu keyakinan, satu system moral dan satu system hukum yang dilaksanakan oleh satu kekuasaan. Ia juga tidak setuju dengan gerakan nasionalisme Mustafa Kamil di Mesir dan nasionalisme bertentangan dengan persaudaraan islam. Muhammad Rasyid Rida tidak menginginkan Negara model barat melainkan Negara dalam bentuk khilafah seperti masa al-Khulafaur Rasyidin yang menjalankan adalah Mujtahid dan dalam menjalankan roda pemerintahnnya ia dibantu para ulama, dengan system khalifah ini, Ukhuwah Islamiyah dapat di wujudkan.

Fungsi khalifah disini adalah:

  1. Menyebarkan kebenaran
  2. Menegakkan keadilan
  3. Memelihara Agama dan bermusyawarah mengenei masalah-masalah yang tidak di jelasakn dalam nash
  4. Seorang khalifah harus harus bertanggung jawab atas segala tindakannya di bawah pengawasan Ahl al Hall wa al-’Aqd yang anggotanya terdiri atas para ulama dan para pemuka masyarakat
  5. Tugas Ahl al Hall wa al-’Aqd selalu mengawasi jalannya roda pemerintahan, juga mencegah terjadinya pernyelewengan oleh Khalifah. Lembaga ini berhak menindak Khalifah yang berbuat dhalim, dan sewenang-wenang.[8]

– Rasyid Ridha banyak menyoroti masalah akidah Islam yang hubungannya dengan praktik di tengah masyarakat.dan berusaha memberantas taqlid di kalngan umat Islam./ paham yang di munculkan Rasyid Ridha tidak jauh berrbeda dengan Abduh yang berusaha mengembalikan sifat khas ajaran Salaf kepada keasliannya.[9]

– Rasyid Ridha m,enyoroti paham Fatalisme (jabari) yang berakar kuat di tengah masyarakat yang telah memperlemah ummat Islam. Kemudian ia menggantikannya dengan paham dinamisme (progress, kemajuan) supaya ummat Islam menyadari bahwa kemajuan hidup ditentukan oleh diri mereka sendiri. jalan untyuk dinamika aktif itu yakni melalui jihad.

– Penghargaan terhadap akal terbatas, ia mengritik paham Tasawuf dan tarekat yang ekstrem dan di anggap menjadi virus umat, karena ajaran inilah telah melemahkan semangat juang dan tanggung jawab mereka di dunia ini. 

Pada tahun 1909, Rasyid Rida ingin membuka madrasah baru, kepadanya sampai keluhan-keluhan dari beberapa dunia Islam diantaranya di Indonesia, tentang aktivitas missi Kristen di Negara-negara itu. Kemudian ia pergi ke Istambul meminta sokongan dan bantuan tetapi tidak berhasil. Usahanya di kairo akhirnya berhasil, dan di tahun 1912 dapat didirikan sekolah yang dimaksud dengan nama Madrasah Al-Da’wah wa Al-Irsyad.

Sewaktu masih di tanah airnya Rasyid Rida telah memasuki lapangan politik dan setelah pindah ke Mesir ia juga ingin meneruskan kegiatan politiknya, namun karena nasehat Muhammad Abduh, ia menjauhi lapangan politik dan ia baru memulai bermain politiknya setelah gurunya meninggal dunia. Ia kunjungi beberapa Negara arab guna menjelaskan bahaya politik kerja sama Arab dengan Inggris dan Prancis dalam usaha mereka menjatuhkan Kerajaan Usmani, hal tersebut untuk menggagalkan politik Inggris-Prancis. Di masa tua, meskipun kesehatannya telah selalu terganggu, ia tidak mau tinggal diam dan senantiasa aktif. Rasyid Rida meninggal dunia di bulan agustus 1935, sekembalinya dari mengantarkan pangeran Su’ud ke kapal di Suez.[10]

Rasyid Rida berpendapat bahwa salah satu sebab yang membawa kemunduran umat Islam ialah faham fatalism dan salah satu penyebab yang membawa masyarakat Eropa kepada kemajuan ialah faham dinamika yang terdapat di kalangan mereka dan faham jihadlah yang menyebabkan umat Islam di zaman klasik dapat menguasai dunia.[11] Ajaran patriotisme yang kontemporer menyatakan perlunya kesatuan rakyat walau berbeda-beda agama di tanah air mereka dan perlunya bekerja sama untuk mempertahankan tanah air mereka itu. Tipe patriotisme yang harus di miliki oleh pemuda muslim adalah bahwa ia harus menjadi teladan yang baik bagi rakyat negaranya tanpa memandang agama mereka tetapi bekerja sama dalam segala kegiatan yang sah demi mempertahankan kemerdekaan, mengembnagkan ilmu pengetahuan, kebaikan dan sumber-sumber sejalan dengan Hukum Islam yang mengutamakan hubungan erat antara hak-hak dan kewajiban-kewajiban.[12] Tetapi dalam pembelaan terhadap tanah air dan bangsanya itu, ia tidak boleh melalaikan Islamnya yang telah memberi kehormatandan mengangkat derajatnya sebagai anggota keluarga dari seratus juta kaum Muslimin sedunia.[13]

Untuk mewujudkan kesatuan umat, ia meletakkan harapan pada Kerajaan Usmani tetapi harapan itu hilang setelah Mustofa Kamal berkuasa di Istambul yang kemudian menghapuskan system pemerintahan Khalifah. Selanjutnya ia meletakkan harapan pada Kerajaan Saudi Arabia setelah Raja Abdul Aziz dapat merebut kekuasaan di Semenanajung Arabia. Dalam hal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, menurut Rasyid Rida itu tidak bertentangan dengan Islam. Umat Islam harus mau menerima peradaban barat yang ada dan mempelajarinya. Mengambil ilmu pengetahuan barat modern tersebut sebenarnya mengambil kembali ilmu pengetahuan yang pernah dimiliki umat Islam.[14]   

Dengan perjuangan Rasyid Rdha yang luar biasa dalam memompa ide-ide pembaruan, ia sangat di segani oleh umat Islam. Hal ini di buktikan dengan sejumlah karya ilmiah yang menyertai gagasan-gagasannya. Ia aktif dalam aktivitas politik, ia pernah menjabat Ketua Presiden Kongres di Suria tahun 1920. Menjadi anggota delegasi Suria-Palestina di Jenewa tahun 1921, menjadi anggota Komite Politik Mesir di Kairo selama masa pemberontakan Suria tahun 1925-1926, menghadiri Konferensi Islam di Mekkah tahun 1926.[15]

Perbedaan antara Muhammad Abduh dengan Rasyid Rida antara lain:

–          Guru lebih liberal dari murid, artinya guru tidak mau terikat pada salah satu aliran atau madzhab yang ada dalam Islam tetapi pindah dari satu aliran ke aliran yang lain dan hal ini bukan berarti kebebasan, tetapi berarti terikat pada ikatan-ikatan baru, sedangkan Rasyid Rida sebaliknya memegang mazhab dan masih terikat pada pendapat-pendapat Ibn Hambal dan Ibn Taimiyah.

–          Perbedaan tersebut timbul dikarenakan guru lebih banyak mempunyai kontak dengan peradaban Barat. Guru pernah tinggal di Paris sedangkan muridnya hanya pernah mengunjungi Jenewa. Guru pandai berbahasa Prancis dan banyak membaca buku-buku Barat, selanjutnya guru mempunyai sahabat-sahabat di kalangan orang-orang Eropa sedangkan murid tidak demikian.

–          Dari perbedaan itu akan tampak terutama dalam faham-faham teologi semisal dalam memberikan tafsiran terhadap ayat anthropomorphisme atau tajassum. Menurut gurunya, yang dimaksdud takhta Tuhan ialah kekuasaannya, dan bagi Rasyid Rida takhta Tuhan masih mengandung tahta, sungguhpun takhta Tuhan tidak sama dengan takhta manusia. Hal ini juga terlihat di dalam Tafsir Al-Manar, dalam mengupas soal balasan di Akhirat yang disebut dalam ayat 25 dari surat Al-Baqarah umpamanya, Muhammad Abduh menekankan tafsiran filosifis, tafsiran itu mengandung arti bahwa balasan yang akan diterima bersifat rohani. Sedangkan Rasyid Rida dalam komentarnya lebih menekankan balasan dalamn bentuk jasmani dan bukan dalam bentuk rohani.[16]

–          Ridha di anggap masih sebagai penopang paham Salaf Ibn Hanbal dan Ibn Taimiyah. Pada hal-hal yang rasional Abduh lebih radikal dibanding Rasyid Ridha.[17]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Rasyid rida adalah murid Muhammad Abduh yang terdekat yang dilahirkan pada tanggal 27 Jumadil Ula 1282 H./23 September 1895 di Al-Qalamun, Ide pergerakan Muhammad Rasyid Rida dikobarkan oleh gurunya Shekh al-Jisr yang selalu menekankan bahwa satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh umat islam untuk mencapai kemajuan adalah memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum dengan metodologi barat, pemikiran Rasyid Rida ini pula di pengaruhi oleh murid terdekatnya Jamaluddin Al-Afghani yaitu Muhammad Abduh.

Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan Rasyid Rida agak berbeda denmgan gurunya tersebut diantaranya mengenai pentafsiran modern dalam al-Qur’an, pendidikan, politik yang dimulai dengan penerbitan majalah al-Manar.


[1]Sjechul Hadi Permono, Islam dalam lintasan sejarah perpolitikan, (Aulia: Surabaya, 2004), 70-71.

[2] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Bulan Bintang: Jakarta, 1992), 69-70.

[3]Sjechul Hadi Permono, Islam Dalam Lintasan Sejarah Perpolitikan, (Aulia: Surabaya, 2004), 72.

[4] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Bulan Bintang: Jakarta, 1992), 70.

[5]Ibid..,

[6]Rasjidi, Koreksi terhadap DR. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Bulan Bintang: Jakarta, 1977), 137-138.

[7]Ibid., 71.

[8]Sjechrul Hadi Parmono, Islam dalam lintasanm sejarah perpolitikan, (Surabaya: Aulia 2004), 72-73.

[9]Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, (Jakarta: Raja Grafindo [ersada, 1998), 66.

[10]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Bulan Bintang: Jakarta, 1992), 72-73.

[11]Ibid.. 74-75.

[12]Amin Rais, Islam dan Pembaharuan, (Rajawali Press: Jakarta, 1993), 93-94.

[13]Ibid., 95.

[14]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Bulan Bintang: Jakarta, 1992), 73.

[15]Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), 66.

[16]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Bulan Bintang: Jakarta, 1992), 76.

[17]Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, (Jakarta: Raja Grafindo [ersada, 1998), 69-70.

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: