RSS Feed

akhlak tasawuf : HUBUNGAN AKHLAK TASAWUF DENGAN ILMU KALAM, FILSAFAT DAN PSIKOLOGI AGAMA

KATA PENGANTAR

 

            Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hubungan Akhlak Taswuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat dan Psikologi Agama”. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Saw, para sahabatnya, serta orang-orang yang mau mengikuti sunnah-sunnahnya. Amin.

Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini dimana dalam penyusunannya tidak lepas dari hambatan dan tantangan,  berkat bantuan pihak-pihak tersebut semuanya bisa teratasi dengan baik, semoga bantuaanya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari penyusunan maupun materinya, oleh sebab itu penulis mengharapkan saran, kritik atas kesalahan dan kekurangannya dalam penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan amal shalih bagi kami. Amin Ya Rabbal ‘Aalamin.

 

 

 

Surabaya, 30 maret 2012.

 

                                                                                                                         Penulis

 

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR —–                                                   

DAFTAR ISI —–

BAB I             : PENDAHULUAN —–

  1. Latar belakang masalah —–
  2. Rumusan masalah —–
  3. Tujuan —–

BAB II                        : PEMBAHASAN —–

  1. Hubungan Akhlak Tasawuf dengan Ilmu Kalam  —–
  2. Hubungan Akhlak Tasawuf dengan Filsafat —–
  3. Hubungan Akhlak Tasawuf dengan Psikologi Agama —–

BAB III          : PENUTUP —–

  1. Kesimpulan —–

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kehendak dari perkembangan zaman dan kemajuan umat, menyebabkan islam sebagai agama telah menimbulkan ilmu dalam berbagai cabangnya seperti ilmu ushuluddin yaitu ilmu pokok-pokok kepercayaan dalam agama, setelah ilmu ini berkembang maka muncul ilmu kalam yang asal artinya adalah ilmu kata-kata. Fungsi ilmu kalam ini adalah sebagai pertahanan untuk menguatkan ushuluddin dari aliran-aliran filsafat yang masuk ke dalam masyarakat denagn berbagai warna, yang kadang-kadang satu sama lainnya berlawanan seperti ada yang menguatkan adanya Tuhan dan ada pula yang mengatakan tidak ada.[1]

Tasawuf merupakan pembersihan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal (instink) kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan dari hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian dan bergantung kepada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasehat kepada semua umat manusia, memegang teguh janji dengan Allah dalam hal hakikat, dan mengikut contoh Rasulullah dalam hal syariat.

Pada mula pertumbuhannya, tasawuf boleh dikatakan hanya beredar sekeliling budi dan susila, maka kadang-kadang tasawuf itu dinamakan ilmu Akhlak saja. Tetapi ilmu akhlak dari seginya yang biasa yaitu timbangan baik dan buruk dalam pandangan diri sendiri dalam masyarakat oleh sebab itu pertanggungan jawab ilmu akhlak lebih banyak kepada masyarakat, sdangkan tasawuf lebih banyak pertanggungan jawab dihadapan Tuhan. Iradah lebih dahulu ditujukan kepada Zat Yang Maha Tinggi. Itulah sebabnya tasawuf isalm dipenuhi oleh tiga soal yaitu soal ketuhanan (metafisika), soal diri sendiri (jiwa) dan soal akhlak (mengenai masyarakat).[2]

Pemimpin-pemimpin tasawuf  besar dan dalam memandang bahwasanya gabungan antara ilmu batin dengan ibadat yang lahir itu adalah puncak kebahagiaan tasawuf, tasawuf adalah pakaian hati didalam melaksanakan amal ibadat, rukun dan syariat. Tasawuf juga merupakan bidang kajian islam yang membahas jiwa dan gejala kejiwaan dalam bentuk tingkah laku manusia. Dari sini, diketahui terdapat hubungan antara akhlak tasawuf dengan ilmu-ilmu lain seperti didalamnya ilmu kalam, filsafat maupun psikologi agama.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa hubungan antara akhlak tasawuf dengan ilmu kalam, filsafat dan psikologi agama?

 

  1. Tujuan Masalah
    1. Mengetahui hubungan antara akhlak tasawuf dengan ilmu kalam, fulsafat dan psikologi agama

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

            Dengan tasawuf , yang artinya adalah pembersihan batin, jelaslah oleh kita sekarang dari mana dasar tempatnya dan kemana tujuannya. Tujuannya dari bermula telah jelas yaitu mendekatkan diri kepada Khalik pencipta, ada setengahnya yang sampai berhubungan dan setengahnya yang mencapai perasaan bahwa dia bersatu dengan Tuhan (Wahdatul Wujud). Jalan-jalan yang dilaluinya ialah cinta asyik, rindu dendam, menyelidiki kelemahan diri sendiri dan kebesaran Tuhan. Yang berjalan didalam tasawuf ialah perasaan dan fikiran adalah nomor dua.

  1. a.      Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Kalam

Secara harfiah, ilmu kalam berarti ilmu tentang kata-kata atau pembicaraan. Jika yang dimaksud adalah kalam adalah sabda Tuhan, maka yang di maksud adalah kalam Tuhan yang ada didalam al-Qur’an. Hal ini juga terjadi pertentangan, dari mereka ada yang mengatakan bahwa kalam Tuhan itu baru, makhluk atau diciptakan Tuhan, pendapat ini dianut oleh aliran Mu’tazilah. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa kalam Tuhan itu qadim. Pendapat inilah yang dianut oleh gologan Asy’ariyah dan lainnya.[3]

Ilmu kalam disebut juga ilmu tauhid karena ilmu ini membahas tentang cara-cara mengesakan Tuhan, sebagai salah satu sifat yang terpenting diantara sifat-sifatNya yang lain. Hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu Tauhid dapat dilihat melalui empat analisis, diantaranya:

  1. Dilihat dari segi objek pembahasannya, bahwa ilmu tauhid membahas masalah Tuhan baik dari segi zat, sifat dan perbuatan-Nya, dengan demikian ilmu tauhid akan mengarahkan perbuatan manusia menjadi ikhlas, dan keikhlasan itu sendiri adalah merupakan salah satu diantara akhlak yang mulia.[4] Allah Swt. Berfirman:

وَمَا أُمِرُوْا اِلا لِيعْبُدُواالله مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاء لِيقيم الصلَوةَ ويؤثُوالزَّكَوةَ وَذلِكَ دِيْنُ القَيِّمَة        

Artinya: “padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

  1. Dilihat dari segi fungsinya, ilmu tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya saja tetapi juga meniru dan mencontoh terhadap subjek  yang terdapat dalam rukun iman itu.

Hubungan ilmu tauhid dan ilmu akhlak dapat pula dilihat pada eratnya kaitan antara iman dan amal shalih. Misalnya:

وَالْعَصْرِ . اِنَّ الاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ. اِلَّا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْاوَعَمِلُوْاالصَّلِحتِ وَتَوَا صَوْا بِاْلحَقِّ وّتَوَاصَوْابِِالصَّبْرِ.

Artinya: “demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

 

 

  1. b.      Hubungan Akhlak Tasawuf dengan Filsafat

Tasawuf  jelas berbeda dengan filsafat. Sebab Filsafat berdasar kepada fikiran, Filsafat penuh dengan tanda tanya. Apa, bagaimana, dari mana dan apa sebab? Sedang tasawuf tidak mempertanyakan. Maka orang yang tidak memasuki alam tasawuf, dengan sendirinya tidak akan turut merasa apa yang mereka rasakan, bahkan bagi kaum tasawuf, kuasa perasaan itu lebih tinggi dari kuasa kata-kata. Mereka tidak tunduk kepada susunan huruf dan bunyi suara.[5]

Dengan filsafat orang mengetahui, akan menjadi tinggi martabat seorang tasawuf jika ahlinya berpengetahuan dan juga mempunyai alat filsafat seperti Ibnu ‘Arabi, Ghazali, Suhrawandi dan lain-lain. Dan seorang tasawuf akan menjadi kacau balau jika tidak mempunyai dasar ilmu sama sekali. Dizaman keemasan terdapat pula tasawuf yang tinggi, tapi setelah Dunia Islam menjadi jatuh, karena jatuh kekuasaannya, tasawuf sekaligus filsafat pun ikut merosot turun. Beberapa cabang ilmu yang sama-sama dimasuki oleh tasawuf dan filsafat yaitu etika (akhlak), estetika ( keindahan), ilmu jiwa (psikologi), dan yang tertama adalah Metafisika (Yang Ghaib) meskipun semua meneropong dari tempat tegaknya masing-masing.

Pada suatu hari seorang ahli filsafat islam yang besar Al-Syikh Al-Rais Abu Ali Ibnu Sina bertemu dengan seorang tasawuf besar yaitu Abu Sa’id. Keduanya berbincang dengan asyiknya dan setelah berpisah , ada orang yang bnertanya kepada Ibnu Sina, bagaimana kesan beliau tentang Abu Sa’id itu? Maka Ibnu Sina menjawab: “Saya mengetahui apa yang dia rasakan”. Dan seseorang juga bertanya pula kepada Abu Sa’id, bagaimana kesannya tentang Ibnu Sina, beliau menjawab: “Saya mengetahui apa yang dia saksikan (rasakan)”. Ini menandakan bahwa seorang bertasawuf  bisa memahami seorang yang berfilsafat dan begitu sebaliknya, tasawuf tidak bisa dilepaskan dari filsafat dan seorang yang berfilsafat tidak bisa lepas dari tasawuf sehingga keduanya saling berhubungan.[6]

  1. c.       Hubungan Akhlak Tasawuf dengan Psikologi Agama

Psikologi berarti jiwa, maka ilmu jiwa adalah pembahasan mengenai gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku. Dengan melalui ilmu jiwa, dapat diketahui gejala-gejala psikologis yang bersumber dari tingkah laku yang ditampakkan seseorang.

Pembahasan ilmu akhlak meliputi tingkah laku manusia, lalu dinilai tingkah laku tersebut apakah baik atau buruk. Persamaan antara keduanya adalah sama-sama membahas tingkah laku manusia, dan perbedaannya adalah bahwa ilmu akhlak memberikan penilaian sedangkan ilmu jiwa tidak demikian.[7]

Pengembangan dan penyempurnaan ilmu akhlak banyak menggunakan teori-teori ilmu jiwa. Al-Ghazali menulis dalam kitabnya Ihya Ulum al-Din tentang kondisi kejiwaan manusia misalnya dapat dilihat salah satu pembahasannya yang membicarakan arti jiwa, roh, hati dan akal. Begitu pula pada bab lain membicarakan terapi kejiwaan yang sakit (Mu’alajah amran al-qalbi) ini menunjukkan betapa sangat erat kaitan ilmu akhlak dengan ilmu jiwa. Bahkan ilmu akhlak dalam islam, disamping pengembangannya berdasarkan al-Qur’an dan Hadits, banyak juga menggunakna teori ilmu jiwa analisis (psikoanalisis). Ilmu akhlak dapat berkembang dengan menggunakan teori-teori psikologi dari hasil penelitian ahli ilmu jiwa, sedangkan ilmu jiwa juga dapat dikembangkan dengan menggunakan teori-teori ilmu akhlak dari kajian oleh para ulama akhlak.[8]

Selain itu, terdapat juga istilah psikologi islam. Menurut Achmad Mubarok telah berkembang beberapa definisi, salah satu diantaranya:

Psikologi islam ialah ilmu yang berbicara tentang manusia, terutama masalah kejiwaan manusia, yang bersifat filsafat, teori, metodologi dan pendekatan problem dengan didasari sumber-sumber formal islam (al-Qur’an dan Hadits) dan akal, indra dan intuisi.[9]

Psikologi islam memberi wawasan islam pada psikologi dan membuang unsur-unsur yang tidak sesuai dengan islam. Dengan demikian, psikologi islam masih menggunakan teori dan metodologi psikologi modern, sedang tasawuf lepas sama sekali dari teori dan metodologi psikologi dan inilah yang membedakan tasawuf dengan psikologi islam. Namun tasawuf mempunyai kontribusi besar dalam pengembangan psikologi islam karena tasawuf merupakan bidang kajian islam yang membahas jiwa dan gejala kejiwaan. Unsur islam dalam psikologi islam akan banyak berasal dari tasawuf.[10]

Psikologi islam berkembang tidak semata-mata karena ingin memberi wawasan islam pada psikologi, tetapi juga karena islam selama ini telah memiliki tasawuf yang ruang lingkupnya lebih luas daripada psikologi sehingga akan lebih komprehensif dalam mengkaji masalah jiwa dan kejiwaan umat islam.

Hal itu diperkuat oleh kenyataan bahwa masalah-masalah kejiwaan yang dibahas dalam psikologi islam juga merupakan masalah-masalah yang selama ini dibahas dalam tasawuf, seperti: Hati keras dan kasar (Ali ‘Imran: 159), hati yang bersih (Asy-Syu’araa’: 89), hati yang tenang (An-Nahl: 106), hati yang buta (Al-Hajj: 46), hati yang sangat takut (An-Naazi’at: 8), hati yang hancur (At-Taubah: 110), dan lain sebagainya.[11]

Selain itu, psikologi islam juga membahas muatan-muatan psikologis yang terdapat dalam al-Qur’an, seperti: penyakit hati (Al-Baqarah: 10 dan Al-Ahzaab: 32), perasaan takut (Ali ‘Imran: 151), keberanian (Ali ‘Imran: 126), getaran (Al-Anfaal: 2), cinta dan kasih sayang (Al-Hadiid: 27), kesesatan (Ali ‘Imran: 7), dan lain sebagainya.

Psikologi islam juga harus mengkaji amalan-amalan yang telah dilaksanakan oleh umat islam yang telah dilaksanakan oleh umat islam yang diduga memiliki dasar psikologis. Dalam bidang konseling misalnya meski para ulama tidak mengenal teori-teori bimbingan dan konseling modern, tetapi terapi psikologi bukan hal yang asing bagi mereka.

Ruang lingkup psikologi modern terbatas pada tiga dimensi, yaitu fisik-biologi, kejiwaan dan sosio-kultural, maka ruang lingkup psikologi islam disamping tiga hal ini juga mencakup dimensi kerohanian dan spiritual, suatu wilayah yang belum pernah disentuh oleh psikologi modern.[12]

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Akhlak-Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Filsafat maupun Psikologi agama sangat erat sekali. Dari ketiganya tidak dapat dipisahkan meskipun ketiga ilmu ini berdiri sendiri-sendiri sehingga terdapat perbedaan-perbedaan yang membedakan antara yang satu dengan yang lain.

Ilmu Kalam atau ilmu ushuluddin yang membahas pokok-pokok dalam islam yang akan mengarahkan perbuatan manusia, Ilmu Jiwa mengarahkan pada aspek batin manusia dengan cara menginterprestasikan prilakunya yang tampak, dan Filsafat sebagai upaya berpikir mendalam, radikal, samapi ke akar-akarnya yang erat kaitannya dengan ilm akhlak adalah tentang manusia, Filsafat sebagai bahan atau sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep ilmu akhlak.


[1]Hamka, Perkembangan dan pemurniannya, ( Pustaka Panji Mas: Jakarta), 82.

[2]Ibid., 84-89.

[3]Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, Akhlak Tasawuf, (IAIN Sunan Ampel Press: Surabaya, 2011), 21.

[4]Ibid., 22-23.

[5]Hamka. Perkembangan dan Pemurniannya, ( Pustaka Panjimas: Jakarta, 1993), 154-155.

[6]Ibid.,

[7]Mahjuddin, Akhlak Tasawuf, (Radar Jaya Offset: Jakarta, 2010), 6.

[8] Ibid., 7.

[9]Sudirman Tebba, Tasawuf Positif, (Kencana: Jakarta, 2003), 61.

[10]Ibid., 63.

[11]Ibid., 65-66.

[12]Ibid., 67.

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

One response »

  1. apa hub antar tauhid dengan ikhlas

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: