RSS Feed

Islam Nusantara yang Pluralisme bukan Islam yang “mensakralkan” Simbol

Gambar

 

seminggu di bulan syawal, ajaran tahun pendidikan baru pun sudah  gelar,di mulai dari play group sampai kampus se nusantara pun mulai mendenyutkan nadi kehidupannya, seperti di kampus iain di surabaya ini, mereka juga mulai menggelar agenda rutin tahunan yaitu OSCAAR – julukan ospek di iain. Di dalam iain terdapat namanya kampus biru ( fak ushuluddin ) yang sangat terkenal sebagai wadah para orang orang yang sangat doyan berfikir, maka tak mengherankan dari tahun ke tahun tema yang di usung panitia pun selalu selangkah di depan bahkan mampu membuat maba dan tetangga fakultas yang lain akan menggunakan otaknya hanya untuk sekedar memahami tema yang ada, dan perlu di ingat sebagai tambahan tema yang di usung pun tak lepas dari realita yang ada dan sedang terjadi dalam masyarakat di sekitar kita.

 

Dan pada kesempatan kali ini tema yang di usung kampus biru berlatarkan “teologi” yang berjudul deSAKRALISASI SIMBOL AGAMA – afirmasi nilai universalitas islam nusantara, di sini saya akan mencoba membedah tema tersebut dengan modal pemahaman yang saya peroleh ketika kemarin ” mengotak atik” tema serta ikut pembedahan tema tersebut oleh panitia Steering Committee (SC) , semoga dapat menambah informasi kepada kawanku yang masih bingung apa maksud dan tujuan dari tema yang di gagas ini…

 

langsung saja saya preteli satu persatu dari  judul tema itu, ketika pertama kali telingaku ini berkenalan dengan awalan kata “de” dalam deSAKRALISASI, langsung timbul pertanyaan di otak, yang di maksud “de” itu apa sih? apakah beda ataukah sama pengertiaanya dengan “re”  jika di gandengkan dengan sakralisasi menjadi reSAKRALISASI?

 

Ternyata  kata sakral sendiri bisa bermakna suci, keramat atau sesuatu yang benar benar di agungkan, maka imbuan kata “de” itu bermakna “tidak”, kalau imbuan kata “re” bisa bermakna “kembali”.  Jadi sudah jelas akan sangat jauh berebeda arti keduanaya jika di sandingkan dengan kata sakral, deSAKRALISASI bermakna “tidak’’ mensakralkan sesuatu, reSAKRALISASI berarti membongkar kembali akan kesakralan tersebut. Jikalau “re”  bermakna “kembali” membongkar pasti kemungkinan membangun kembali apa yang di bongkar  (sakral) akan mencuat, beda  lagi dengan “de”  ia bermakna “tidak” yang tentu konotasinya akan benar benar menolak suatu pensakralan terhadap sesuatu.

 

deSAKRALISASI SIMBOL AGAMA, jadi kalimat tersebut bisa kita simpulkan bermakna “tidak” mensakralkan semua symbol symbol agama yang ada. Itu poin pertama yang bisa di ambil, nah beralih ke pertanyaan keselanjutnya yang di maksud SIMBOL AGAMA itu apa??

 

Kata pak dhe Wikipedia symbol ituberasal dari kata symballo yang berasal dari bahasa Yunani. Symballo artinya ”melempar bersama-sama”, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan. Symbol agama berarti segala sesuatu yang dapat mewakili nilai nilai atau yang lainnya dalam agama yang tersebut.

 

Symbol agama ini mencakup spectrum yang cukup luas, apalagi khusus di dalam agama islam hal ini bahkan mampu menembus hingga ke sudut pandang suatu keyakinan (kelompok mahzab atau kelompok aliran) . karena itu hal ini perlu di bongkar atau bahkan perlu di preteli agar hal ini tidak menyalur menjadi suatu kesakralan.

 

Sebagai contoh, kerudung yang di pakai seorang wanita muslim dan peci yang di pakai lelaki muslim, secara tidak langsung hal itu menunjukan bahwa mereka berdua sedang memakai symbol bahwasanya “aku ini beragama islam”. Contoh symbol lainya yang realitanya sekarang sudah menjadi sebuah kesakralan, yaitu jenggot panjang bagi seorang lelaki, jubah, bahkan sampai hal hal yang berbau ke-araban akan terasa sangat sakral. Pandangan ini muncul dan berkembang dalam sebagian kelompok di dalam tubuh islam, dengan dalil yang ada di hadist , memang sih  tidak dapat di pungkiri serta di sangkal lagi, Kanjeng Nabi kita Muhammad saw merupakan keturunan  asli suku  Quraish yang berada di arab, yang pasti “kultur social” serta ‘‘budayanya” sangat jauh berbeda jika di bandingkan dengan yang ada di Indonesia. Seandainya saja, sekali lagi saya ulangi biar tidak ada salah presepsi  seandainya saja  Nabi Muhammad lahir dan menyebarkan islam dari Indonesia, yakin beliau tak akan berjenggot selebat apa yang ada di hadist serta pasti akan memakai apa yang sudah menjadi budaya di Indonesia, saya sangat yakin itu. Namun karena efek yang terlalu  “fanatic”  mensimbolkan segala sesuatu yang ada pada diri Nabi maka akan muncul sebuah pensakralan itu sendiri.

 

Contoh baru yang lain ialah kejadian yang ada di sampang Madura, terserahlah presepsi yang berkembang atas kejadian itu apa, yang jelas dan tak bisa di pungkiri lagi hal inipun tak lepas dan di sebabkan oleh kefanatikan terhadap “symbol” yang mereka yakini. Sunni dan si’ah sedari dulu pun sudah ada bekas gesekan  yang terukir di lembar sejarah perkembangan islam.

 

Nah dalam kesempatan OSCAAR kali ini panitia SC memikirkan dan mencoba mencari solusi bagaimana caranya sebuah symbol yang di sakralkan secara berlebihan ini di “de” kan sehingga kembali ke pemahan semula bahwa islam di Indonesia  itu bukan dengan symbol symbol saja.

 

Maka tak salah kemudian di ambillah kalimat AFIRMASI NILAI UNIVERSALITAS ISLAM NUSANTARA sebagai lanjutan dari kalimat deSAKRALISASI SIMBOL AGAMA.

 

Afirmasi artinya menguatkan atau bisa juga merupakan suatu sugesti kepada diri sendiri yang bertujuan untuk memantapkan keyakinan dengan cara repetisi. Menguatkan nilai universalitas islam nusantara yang realitanya sekarang “nilai” itu sendiri tidak nampak pada tubuh islam Indonesia. Menguatkan kembali nilai nilai yang benar benar di bawa oleh islam nusantara, yaitu sebuah keuniversalan atau kata lainnya plurarisme beragama.

 

Jika kita menengok kembali sejarah penyebaran islam di Indonesia yang terkenal menganut animisme, dinamisme serta agama hindu ini, ternyata penyebarannya melalui jalan pendekatan secara halus- bukan dengan cara penakhlukan seperti di Negara timur tengah, mulai kalangan bawah hingga kalangan elite di bumi pertiwi pun lambat laun menerima islam dengan tangan terbuka. Apalagi ketika nama wali songo mencuat, seolah olah penyebaran islam di jawa itu seperti mobil yang berjalan di tol.

 

Perlu di tegaskan di sini bahwasanya islam nusantara itu islam yang universal atau bahasa keren yang di populerkan oleh Gus Dur  ialah “pluralisme” , artinya memang tiap-tiap kelompok agama, budaya, atau apapun latarnya harus bisa saling menghargai di tengah perbedaan.

 

Jadi inti dari tema yang di usung ialah me “de” kan symbol symbol agama yang sudah lama  berkembang menjadi sebuah kesakralan, dengan cara menguatkan kembail (afirmasi) nilai nilai pluralisme yang memang seharusnya ini menjadi sebuah keunggulan islam nusantara…

 

“Sebenarnya ide ini merupakan sebuah gagasan yang lama, namun hal ini perlu di angkat kembali mengingat realita yang ada sudah melenceng dari apa yang seharusnya di jalankan”. Begitulah kira kira kutipan dari ketua SC setelah menjelaskan maksud dari tema tersebut.

 

Nah korelasi dengan OSCAAR SEMA fak USHULUDDIN buat maba ialah agar mereka mampu memahami bahwasanya islam nusantara bukanlah islam yang ada dan mensakralkan simbol  ( jenggot tebal, jubah, ke araban, perbedaan golongan), tapi islam nusantara itu ialah islam yang PLURALISME.

 

 

Begitulah kurang lebih yang dapat saya jelaskan, mungkin terdapat beberapa hal yang seharusnya ada namun tak sempat tersampaikan lewat tulisan ini, harap dimaklumi…

 Gambar

Just a little boy – cemorosewu

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: