RSS Feed

Cerita di Bulan Ramadhan, yang Selalu Saja Terlihat Konstan…

Gambar

beberapa minggu yang lalu, tampa malu ramadan tetap berlalu…

Akhirnya Bulan ramadhan telah tiba – kata anak kecil di sudut kota, bulan yang katanya pintu rahmat di buka selebar lebarnya, yang katanya pintu tobat di buka 24 jam non stop. yang katanya setan di borgol di neraka, yang katanya apapun ibadahnya, di lipat gandakan selipat lipatnya, dan “yang katanya” tersebut selalu di utarakan oleh pak ustadz sang penceramah di beberapa ceramah awal ramadhan…

Pemandangan yang konstan pasti terlihat dan terasa di awal bulan yang semestinya mulia ini, semua manusia berbondong bondong meramaikan masjid, meramaikan sholat tarawih serta witir, dan memang benar kenyataannya mereka meramaikannya, apalagi dari golongan anak kecil yang sholat di barisan belakang, mereka selalu sukses meraimaikan sholat itu. Semua manusia berlomba lomba tadarusan di mushola serta surau, yang selalu saja tak peduli apakah benar atau salah bacaan ayat al Qur’an yang telah di baca, yang selalu saja di dahulukan ke “ngewes” an serta kemerduan suaranya, memang sepintas terdengar seperti bacaan yang baik dan benar, namun cuma sepintas dan tak lebih…

Pemandangan yang konstan masih terlihat di perjalanan bulan ramadhan,..

yang jelas bahan pangan selalu memaksa merangkak naik, yang selalu saja membuat para ibu berfikir ulang untuk membelanjakan uangnya. seakan bulan ini menjadi lahan baru mengeruk uang – bagi mereka yang mampu memanipulasi realita, demi kepentingan diri yang di dukung oleh Dalih pejabat :” itulah nikmat ramadhan, bulan yang penuh berkah bukan? ”

Warung warung di pinggiran jalan masih saja membuka pintu, tampa aling aling di depannya, apalagi resto yang menjamur di mall mall, mereka semua berlomba membuka hasrat yang selalu saja berhasil mengikat jiwa manusia yang lemah, dengan dalil “mencari rizki” serta HAM, memuaskan nafsu sesaat yang sesat. Terselip sebuah pertanyaan di sana, pergi kemanakah hati nurani mereka??, yang selalu mampu sekedar menghormati orang yang berpuasa.

Gambar

Pemandangan yang konstan masih terlihat di tengah perjalanan bulan ramadhan.

Para lakon di balik layar yang sibuk dengan kesibukanya, meramaikan bulan ramadhan dengan keahlianya, dan memang itulah pekerjaan mereka, bagi mereka berlomba membuat parodi film yang berlatarkan ramadhan merupakan sebuah kenikmatan sendiri, banyak bermunculan sinetron yang menjamur dan kebanyakan dari film tersebut selalu dapat di tebak akhir ceritanya “BERAKHIR DENGAN BAHAGIA”- padahal hidup ini tak sesederhana itu.

Mereka juga berlomba mendatangkan ustadz ustadz, ustadz ustadz ini berasal dari daerah yang tak dikenal dan kebanyakan dari mereka cuma bermodalkan lucu yang selalu mampu memikat perhatian permisa di rumah untuk tetap memelototi stasiun tivi mereka, selain dari kriteria itu, mohon di maklumi akan sangat sulit lolos nominasi, kecuali bagi ustadz yang memang melebihi apa yang mereka ketahui tentang USTADZ – pertanyaan yang muncul selanjutnya, ustadz yang lucu di tivi itu berfungsi sebagaimana mestinya fungsi ustadz  atau apakah  sekedar menjadi bahan penyedap untuk meramaikan stasiun tivi mereka??

waktu pun berjalan, setengah perjalanan di bulan ramadan ini…

Pemandangan yang konstan masih saja tercium, seperti teori yang terdapat di dalam pelajaran biologi di SMP yang di perdalam di SMA, yaitu Seleksi Alam. di bulan ramadhan ini pun teori tersebut ternyata teramplikasikan dengan sangat baik, bagaimana tidak, di awal bulan yang selalu banyak dari mereka memenuhi masjid masjid untuk sholat sunnah tarawih serta witir, memenuhi musholah musholah untuk tadarus, memenuhi surau surau untuk mengaji, bersemangat untuk mencari pahala juga jajan, namun seiring dengan bergulirnya waktu, hal yang nampak di atas “pasti” menunjukan grafik yang menurun, shof yang sebenarnya penuh sesak entah kenapa menghilang tampa permisi, tempat darus yang penuh dengan mereka yang mengaji- yang penuh dengan suguhan jajanan, tampa permisi mereka enggan untuk kembali, suaru surau yang ramai karena banyak yang mengantri tadarus pun mulai sepi, pergi untuk urusan lain tampa ada perasaan malu di hadapan Gusti Pengeran yang telah menyuguhi mereka “Bulan Ramadhan”.

Perasaan senang ketika bulan ramadhan pun mulai memudar, hadist yang menerangkan tentang keutamaan senang ketika ramadhan, yang sering di gembor gemborkan oleh ustadz yang “lucu” itu seolah olah tidak berdampak di hati mereka, iming iming akan kemulyaan akherat sepertinya tak mampu memikat lagi hati mereka, mungkin mereka tidak peduli dan acuh tak acuh karena akherat itu sesuatu yang ghoib, yang sekarang masih belum bisa di rasakan, yang sekarang siapapun tidak akan mampu membuktikannya, yang sekarang cuma sekedar harus di imani saja, begitulah alasan basi dari ustadz lucu tersebut.

Gambar

Ramadhan di akhir cerita, …

seperti biasa, ustadz yang lucu ketika memasuki babak akhir di bulan ramadhan pasti akan mengganti topik ceramahnya tentang hal hal yang terdapat di dalamnya, seperti tentang malam lailatul qadar, tentang mudik lebaran, tentang keutamaan menyambung tali silaturrohmi, tentang keutamaan sepertiga akhir, dan tentang kemulyaan beri’tikaf – karena memang semua itu ada dan terdapat dalam hadist yang di riwayatkan Bukhori wa Muslim ( yang katanya shohih… )

Akan sangat terasa konstan seperti ramadhan ramadhan sebelumnya – yang juga telah di campakan oleh mereka, masjid masjid menjadi sepi dan terlihat tertinggal tiga shof untuk sekedar menghormati sholat tarawih, memang masih terdengar tadarus di musholah musholah yang terus di suarakan, namun sepertinya suaranya tak berganti, yang ternyata di musholah tersebut cuma terdapat beberapa orang saja, satu orang tadarus, yang lainnya larut dalam urusan dunia.

tempat yang sebenarnya tepat untuk menghabiskan waktu di akhir ramadhan terlihat sangat sepi, semua perhatian mereka tercurah pada lebaran di syawal yang akan segera datang, sibuk dengan apa yang akan di persiapkan, sibuk dengan hal yang sudah menjadi budaya orang indon – ejekan dari malasya buat orang indonesia, hingga kesedihan ketika di tinggal ramadhan pun menguap tak tersisa.

Ramadhan di ujung pintu, menunggu siapapun untuk sekedar mengucapkan terimakasih telah bertamu di rumah mereka, menunggu siapa saja yang menangis sendu tak rela di tinggal pergi, sayang tak semua dari mereka sempat berfikirian seperti itu, mungkin juga termasuk aku…

begitulah alur di bulan ramadhan, yang selalu saja terlihat konstan…

just a little boy – cemorosewu

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: