RSS Feed

Seseorang Bernama “Aku”

Gambar

Pada suatu ketika, ketika bulan yang katanya penghias malam tak mungkin muncul di malam ini, dan ketika sepi di malam datang menghampiri,  seseorang yang bernama AKU melangkahkan kakinya. Aku berjalan di jalan kesendirian, menikmati sensasi pikiran yang terus bergelayutan di dalam otaknya. Tentang masa lalu yang terbuang, tentang masa sekarang yang tak tenang, dan tentang masa depan yang masih saja buram.

Kali ini, Aku menghentikan langkahnya di perempatan itu, perempatan yang sering kali di jadikan pelampiasan hasrat bagi pembalap liar, juga bagi penikmat dunia, dan juga tak luput bagi keluarga yang di tinggalkan oleh mereka ( tentu dengan menyebarkan bunga setaman di sana ).

Aku merenung, menikmati pertanyaan yang menghampiri otaknya, entah dari mana datangnya hingga mampu membuat aku tersenyum, tersenyum untuk kelakuan mereka, tersenyum untuk kenyelenehan yang terlanjur tercipta, tersenyum dengan kehidupan yang ada.

Perempatan itu, adalah menjadi saksi bisu dari beberapa peristiwa yang mencakup masa lalu, kini dan nanti, Aku memahami itu…

Dengan mengucapkan salam Aku pun melangkahkan kakinya, melanjutkan keinginan kakinya, menikmati semilir dingin di keningnya, menikmati suara merdu sang dunia, menikmati zikir binatang kepada Hyang Maha Sempurna.

Waktu itu, Di hadapan patung pahlawan lokal, yang terpahat sangat gagah, dengan dada bidang menantang, dengan raut wajah bak menghadapi perang. Patung itu merangkum semangat juang masyarakat sekitar, semangat yang tak akan mungkin bisa terbayang oleh generasi sekarang, pasti tak mungkin bisa…

Aku tak sanggup melangkahkan kakinya lagi. Entah dorongan apa yang membuat Aku harus berada di sana, meski sejenak berlalu. Tiba tiba pilu serasa memukul keras perasaan Aku, serasa kehilangan seseorang yang paling berharga baginya, bagi Aku. Patung itu seakan memandangi Aku dengan tajam, seolah olah ingin menyampaikan padanya bahwasanya “penderitaan serta bebanku jauh lebih besar daripada apa yang kau bawa!!!”, semenjak berlalu, detak jarum jam tak tahu malu…

Secercah air mata meluncur, di samping jurang mata, mengisak tangis dan tawa, menggores luka tak kunjung sirna. Aku memahami itu, tentu dengan apa yang paling dia tahu…

Dengan salam Aku lekas beranjak pergi, tak kuasa lagi menghadapi dentuman yang langsung mengarah pada rasa, pada raga, dan pada jiwa. Baginya hal itu sangatlah cukup untuk obat jiwa, bagi Aku…

Di ujung jalan, Aku tak berhenti untuk menanti, menanti hal yang tak pasti itu ada, yang tak pasti menyambut kedua tangannya, yang tak pasti merangkul hatinya…

Di ujung jalan, Aku berjalan dan mengelilingi jalan, mencari nafas yang masih tertinggal, yang masih “mungkin” berzikir pada Illahi Robbi, yang mungkin  sadar bahwa hidup Cuma sekedar segelintir biji kopi.

Gambar

Tepat di ujung subuh, Aku dan matanya mendapati seorang tua renta memakai baju serba biasa, yang tak Nampak kenikmatan dunia di sana, yang Cuma Nampak kesederhanaan yang ada. Dengan halus ia mengambil sapu serta peralatannya, tak ragu dia mulai menyapu di jalan itu, jalan yang di lalui waktu dengan beberapa takdir, di lalui oleh sang pelampiasan hasrat pembalap, di lalui oleh si penikmat dunia, juga di lalui oleh mereka yang di tinggal mati keluarganya ( tentu dengan menyebarkan bunga setaman di dalamnya ).

Aku memandangi si tua renta, memahami apa yang terjadi, memahami betapa hebatnya takdir yang mampu merangkai ini semua, di ujung subuh, di mana tak mungkin seorang satupun memulai pekerjaan kesehariaanya, kecuali si tua renta dan teman temannya. Kecuali pasukan kuning di ujung subuh.

Aku yang ingin kau tahu, yang tak harus berfikir, yang tak harus merasa, yang tak harus terlibat di dalamnya… seperti kata idola Aku yang tertuang dalam maha karyanya…

“Hidup adalah perjuangan tampa henti henti”

“ tak ada yang jatuh dari langit dengan Cuma Cuma, semua ( butuh ) usaha dan doa “

“hadapi dengan senyuman, semua yang terjadi biar terjadi”

Dan “ karena manusia pun bisa mengambil hikmah…..”

Just a little boy – cemoro sewu

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: