RSS Feed

Seseorang yang Ku Panggil ABAH

Posted on

Gambar

orang itu bernama ABAH.

 

Entahlah, sejak kapan orang itu ku panggil dengan sebutan  ABAH, seorang pria paruh baya yang menurut kebanyakan orang mirip seorang singkek ( sebutan buat orang cina di jawa ) khusuk berdiri di depanku mengimami sholat isya’ .

 

aku mencium punggung tangan kananya seusai sholat di tunaikan, dengan tersenyum beliau kembali melanjutkan zikirnya kembali.

 

Abah, benarkah beliau benar benar bernama “abah” ? atau hanya sebuah panggilan yang dikhususkan buat aku panggil ? karena memang aku anak kandungnya., terserahlah yang ku tahu abahku merupakan manusia yang masih menjadi misteri dan terselip kekaguman yang luar biasa buatku.

 

beliau memang ABAH.

 

Sewaktu aku masih di dalam kandungan, menurut cerita dari orang yang ku panggil “UMI” ini, sang abah konon pernah berharap lebih bahwasanya aku merupakan seorang anak perempuan ( waktu zaman kelahiranku alat modern belum ada ), namun Gusti Pengeran berkehendak lain, nyatanya aku di lahirkan menjadi seorang laki laki. namun ku yakin, meski agak kecewa abah tetap tersenyum, dan tetap mengalunkan suara azan serta iqomah di kedua telingaku dengan tulus, karena memang akulah darah daging beliau…

 

abahku seorang pejuang sejati.

 

aku mengenali abah sebagai seorang penegak sholat, terutama sholat sunah yang hingga kini masih menjadi anak tiri di mataku, atau mungkin di mata orang orang di luar sana, entahlah apa yang menjadi motivasi di benak abah sehingga beliau kuat mengistiqomahkan hal yang luar biasa ini, mungkin abah berpegangan dalam hadist Kanjeng Nabi …

 

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ.

قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

 

“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut” HSR Muslim (no. 728).

 

alhasil setelah menunggu selama 15 tahun, seusai mengamalkan rukun islam yang kelima, abaku mendapat kado spesial dari Gusti Pangeran, yaitu seorang anak perempuan yang menjadi anak kelima beliau, mungkin ini tanda ucapan terimakasih dari Gusti Pangeran buat abahku, karena telah membumikan sholat sunnah, atau mungkin karena faktor yang lain, entahlah yang ku tahu itulah abahku, seorang pejuang sejati.

 

 

beliau abahku yang melebihi seorang abah.

 

entahlah, akankah sama hal yang aku lakukan ketika dalam posisi abahku sewaktu dulu, di tinggal mati bapak semenjak umur 13 tahun, abahku pun menjelma menjadi ABAH bagi ibu dan ke enam adiknya, menjadi mentor “motivasi” bagi mereka yang bernasib sama seperti abah, menjadi pelawak bagi teman teman beliau yang murung ( kurasa bakat ini di warisi abah dari seseorang yang ku panggil mbah umi ),

 

mulai dari bekerja sebagai penjual kue keliling di sekolahnya, menjadi TU di sekolahnya, menjadi montir di bengkel, hingga akhirnya abahku menjadi seorang kariawan di sebuah bank negara, semua tahap demi tahap beliau lewati dan di dalam proses tersebut beliau berhasil membuat ibunya abah tersenyum bangga bahwasanya ” inilah anakku…” , membuat ke enam adik abah menjadi seorang sarjanah, dan sukses dalam kehidupannya, dan berkata ” inilah cacakku yang luar biasa..” , benar, kurasa beliau memang bukan sekedar menjadi abah, namun beliau adalah abah yang melebihi apa yang di sebut orang sebagai ABAH.

 

abahku, seseorang yang keren.

 

dengan sikap dingin, beliau selalu membuat keputusan yang membuatku terkejut, dan bahkan akal sehatku tak mampu menjawabnya, seperti ketika Gusti Pangeran memberi nikmat untuk keluargaku yaitu “terbakarnya seluruh rumah abah”.

 

sebagai seorang anak aku langsung pamit pulang di pondok malang ke rumah, waktu itu, otakku mengoceh dengan keras ” apakah abahku serta keluargaku akan baik baik saja?”,.

 

namun sesampainya di sana yang belum genap sehari aku meletakkan pantatku di rumah, tiba tiba abah dengan sikap dinginnya langsung mengajukanku sebuah pertanyaan di luar akal sehatku…

 

” kapan mbalek maneh nang pondok pung?” ( kapan kembali ke pondok lagi pung??)…

 

aku, yang waktu itu tak habis berfikir kenapa seorang abah yang tertimpa musibah dengan tega menyuruh anaknya pergi lagi, padahal aku datang ke sana hanya ingin menghibur hatinya abah..tak lebih. namun itulah abahku, seseorang yang keren di setiap keputusannya…

 

abahku…

 

ketika pulang dari musholah tersebut, aku berjalan di belakang abah, menimati suasana tawadu’ kepada beliau, mengagumi punggung beliau yang sangat keren, menghayati setiap helai rambut beliau yang kian memutih…

 

dengan tenang belai memanggilku, dan berkata…

 

” pung, tumbaso sego dinggo mangan mengko bengi …” ( pung, belikan nasi buat makan malam )

 

dengan tersenyum aku pun menganggukan kepala…

 

dan itulah abahku, yang bukan hanya sekedar seorang ABAH

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: