RSS Feed

Filosofi Keegosian Manusia

Posted on

Sebagai binatang berakal,

 

Akhirnya saya sadar. Ternyata manusia adalah mahkluk yang paling rusak. Rakus dan rusak. Hanya saja, kerusakannya dikemas dalam bentuk kebudayaan, hingga semuanya bisa disimpul dalam satu adagium menara gading: “Manusia adalah mahkluk yang paling mulia di dalam alam semesta”. Bahkan diklaim bahwa segala sesuatu yang ada, diciptakan oleh Allah hanya untuk manusia.

 

Saya benar-benar geleng kepala.

 

Bagi saya, itulah filosofi dasar egoisme.

Membangun fondasi merasa benar dan merasa mulia sendiri.

Manusia mengklaim diri sebagai pusat kepentingan dalam kosmik.

Segala yang ada, diklaim untuk dirinya

 

Bagi saya,

 

Itu bertentangan sekali dengan jargon “rahmatan lil alamin”.

Yang terjadi, justru diskriminasi atas mahkluk.

Khususnya terhadap binatang secara moralitas

Binatang dianggap sebagai prototype mahkluk yang paling hina,

sehingga binatang selalu jadi metafor untuk setiap kehinaan.

Dengan kata lain, terjadi marginalisasi nilai

Hingga ujungnya, terjadi pembenaran kekerasan terhadap binatang

 

Bagi saya,

 

Nilai, moralitas, adalah wilayah makna yang diciptakan manusia.

Sedang dihadapan sistem hukum alam, tidak ada pembedaan.

Kematian seorang manusia dengan kematian seekor anjing, statusnya sama.

Kelaparan seorang manusia dengan kelaparan seekor kucing, statusnya juga sama.

Walaupun manusia mengklaim bahwa anjing layak disepak demi kemuliaan dirinya.

 

“Manusia adalah mahkluk yang paling mulia

Manusia adalah mahkluk yang paling utama

Manusia diciptakan untuk menjadi raja di semesta.

Karena segalanya, diciptakan Allah untuk manusia”

 

Saya pribadi,

Sudah lama tidak menggunakan semua jargon egoisme itu.

Karena saya tidak bisa mempertanggung jawabkan klaim itu ketika saya menyembelih paksa seekor ayam lalu membakarnya diatas tungku untuk sebuah pesta pora.

 

Saya malu.

Saya hanya terdiam.

 

Saya lapar, lalu saya butuh makanan.

Maka saya tidak punya pilihan.

Binatang saya sembelih, dan tumbuhan saya petik.

Semuanya, demi perut. Demi keberlangsungan hidup saya sendiri.

Dengan cara mengakhiri hidup yang lain.

Selagi itu yang saya lakukan,

Bagaimana mungkin saya bisa merasa mulia?

 

Semua ini membawa saya pada garis demokrasi perenungan.

Yaitu: Terdiam.

 

 

# mata.Gambar

About cemoro sewu

im just a little boy.... "Ini Memang Aku" Aku memang tidak pandai berbahasa arab, apa lagi hafal Al-Qur'an Aku juga bukan anak sholeh yang tanpa kekurangan Tapi apakah kamu menyadari kesempurnaan hanya milik-Nya??? Aku memang berilmu sedikit, Tapi aku berusaha bersungguh sungguh untuk mengamalkan apa yang sudah ku pelajari,. Aku juga bukan orang berilmu, Tapi aku selalu memiliki kemauan untuk menjadi orang berilmu dan mendalami ajaran agama-Nya Aku tidak juga pandai berteori, jago berbahasa, hafal beratus ratus Hadist, Tapi aku slalu berusaha mencari tau mana yang halal dan mana yang haram untuk kuterapkan, mengaplikasikan dalam kehidupanku. Aku juga bukan dari kalangan orang kaya dan bergelimang harta, Tapi aku bersyukur untuk kehidupan kami yang sederhana, bahkan aku tersenyum jika ada yang menyebut kami miskin, karena itu membuktikan dan menjauhkan kami jauh dari fitnah rejeki haram. aku merasa kasihan mendengar celoteh orang orang yang berkata : " buat apa kita beribadah ?? apa kita yakin ibadah kita di terima apa tidak??" seharusnya lebih baik mereka berkata : " kewajiban kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Tuhan,urusan di terima ataupun tidak di terima itu merupakan urusannya Tuhan..." yah memang ini lah aku... yang tak tahu apapun itu...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: